Indonesia Gandeng Jepang dan AS Perkuat Fondasi Pengembangan PLTN

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Indonesia memperkuat langkah menuju pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) melalui kerja sama strategis dengan Amerika Serikat dan Jepang, dengan fokus pada penguatan sumber daya manusia, kerangka regulasi, serta kesiapan ekosistem Small Modular Reactor (SMR) yang aman dan berkelanjutan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop di Jakarta. Forum ini menjadi bagian dari kolaborasi trilateral Indonesia–Amerika Serikat–Jepang untuk memperkuat fondasi pembangunan PLTN nasional secara bertanggung jawab.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana, mewakili Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan kerja sama internasional ini diarahkan pada pengembangan kapasitas SDM, penguatan desain dan kerangka regulasi SMR, peningkatan kompetensi manufaktur berteknologi tinggi, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan nuklir berkelas global.

Read also:  Trenggalek Develops ‘Waste to Coin’ Scheme to Turn Waste into Economic Asset

“Sinergi ini memastikan Indonesia dapat membangun dan memanfaatkan PLTN secara bertanggung jawab, dengan prinsip keselamatan tertinggi, tata kelola yang transparan, dan kesiapan SDM yang matang,” ujar Dadan dikutip Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, energi nuklir menawarkan pasokan listrik yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Perkembangan teknologi SMR dinilai membuat pengembangan nuklir semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang.

Dadan menambahkan, Indonesia bersama negara-negara dengan konsumsi energi terbesar di Asia Tenggara—Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam—tengah aktif mengeksplorasi opsi pengembangan nuklir serta memperkuat kolaborasi regional melalui Nuclear Energy Cooperation Sub-Sector Network (NEC-SSN).

Langkah tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga ketahanan energi dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

Read also:  RSPO Perketat Pantauan Karhutla di Perkebunan Bersertifikat, Telusuri Penyebab Kebakaran

Pemerintah menargetkan kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional mencapai sekitar 11,7–12,1 persen pada 2060, dengan kapasitas terpasang 35–42 gigawatt (GW). Sebagai tahap awal, PLTN pertama ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal 250 megawatt (MW), sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Selain mendukung target dekarbonisasi, pengembangan nuklir dipilih karena efisiensi penggunaan lahan serta biaya operasional jangka panjang yang relatif kompetitif.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Amerika Serikat, Peter M. Haymond, menyatakan bersama Jepang, Amerika Serikat merasa terhormat menjadi mitra tepercaya Indonesia dalam pengembangan energi nuklir yang aman dan bertanggung jawab. Menurutnya, teknologi dan pengalaman Amerika Serikat dapat mendukung Indonesia membangun sistem energi yang tangguh.

Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin, menegaskan komitmen Jepang mendukung transisi energi Indonesia dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Jepang siap berbagi pengalaman dalam peningkatan standar keselamatan, transparansi, serta pengembangan SDM nuklir melalui kerja sama teknis antara pembuat kebijakan, regulator, dan industri.

Read also:  Beralih dari Energi Fosil, Hashim Ungkap Strategi Indonesia Kembangkan PLTS, Nuklir hingga Biofuel

FIRST Workshop diselenggarakan oleh DEN bersama Institut Teknologi PLN dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, bekerja sama dengan U.S. Department of State’s FIRST Program, Advanced Systems Technology & Management (AdSTM), The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta JAIF International Cooperation Center (JICC).

Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, dan pakar nuklir untuk membahas berbagai aspek krusial pengembangan PLTN, mulai dari teknologi SMR, kerangka regulasi dan perizinan, pengembangan SDM, hingga peluang partisipasi industri nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...