Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan jaringan logistik Liquefied Natural Gas (LNG) untuk memasok gas ke pembangkit berkapasitas total 477 megawatt (MW) di lima lokasi di Nusa Tenggara.
Proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2029 itu diarahkan untuk menggantikan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada pembangkit yang dapat menggunakan gas.
Pengembangan LNG Logistics Network Cluster Nusa Tenggara tersebut mencakup Lombok, Sumbawa hingga Flores. Infrastruktur midstream ini disiapkan sekaligus untuk memperkuat keandalan pasokan energi primer dan sistem kelistrikan di kawasan kepulauan tersebut.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengatakan pembangunan infrastruktur LNG diperlukan karena Nusa Tenggara belum terhubung dengan jaringan pipa gas seperti wilayah lain.
“Untuk kasus Lombok, karena tidak ada pasokan gas yang langsung dari upstream, kita harus mengembangkan midstream-nya supaya kita bisa menyediakan sumber gas untuk pembangkit di Lombok,” kata Erma dalam audiensi dengan Pemerintah Kota Mataram, Senin (14/9/2026).
Pada tahap awal, jaringan tersebut akan memasok lima lokasi pembangkit, yakni PLTMG Lombok Peaker, PLTMG Lombok-2 Sambelia, Sumbawa, Flores, dan Maumere. Total kebutuhan gas untuk jaringan tersebut diperkirakan mencapai rata-rata 39,8 BBTUD.
Gasifikasi diarahkan terutama untuk pembangkit yang telah memiliki kemampuan menggunakan gas tetapi masih mengandalkan BBM. Peralihan bahan bakar tersebut diharapkan menekan biaya energi primer sekaligus emisi.
“Pembangkit-pembangkit yang sebenarnya bisa menggunakan gas dan selama ini masih menggunakan BBM, ini bisa kita ganti sumbernya dengan gas. Selain lebih efisien, gas juga lebih bersih dibandingkan BBM,” ujar Erma.
Untuk mendistribusikan LNG, PLN EPI menyiapkan satu LNG carrier berkapasitas 22.000 CBM dengan waktu tempuh satu siklus perjalanan sekitar 10 hari. Kapal tersebut akan mendistribusikan LNG secara bergilir ke lima lokasi dalam jaringan Nusa Tenggara.
Di sisi penerima, PLTMG Lombok Peaker direncanakan memiliki tangki LNG berkapasitas 8.000 m³ dengan kemampuan regasifikasi 32,07 MMSCFD. PLTMG Lombok-2 Sambelia disiapkan dengan tangki 5.000 m³ dan kapasitas regasifikasi 23,75 MMSCFD.
Fasilitas LNG di Sumbawa direncanakan memiliki tangki 7.500 m³ dengan kapasitas regasifikasi 29,29 MMSCFD. Sementara fasilitas Flores memiliki tangki 2.500 m³ dengan kapasitas regasifikasi 19,08 MMSCFD dan Maumere 4.500 m³ dengan kapasitas regasifikasi 9,50 MMSCFD.
Secara keseluruhan, Cluster Nusa Tenggara direncanakan mencakup sembilan unit gasifikasi di darat dan dua kapal LNG. LNG akan dikirim dari sumber pasokan menggunakan kapal, kemudian disimpan dan diregasifikasi di masing-masing lokasi sebelum digunakan pembangkit.
Erma mengatakan infrastruktur midstream menjadi kunci untuk memasok gas ke pembangkit di wilayah yang secara geografis tidak dapat dijangkau jaringan pipa.
“Kalau gas menggunakan gas pipa, itu harus dekat antara sumber pasokan gas dengan sumber pembangkit. Karena itu, untuk wilayah seperti Lombok kita perlu membangun infrastrukturnya agar gas bisa sampai ke pembangkit,” katanya.
Menurut Erma, tersedianya infrastruktur tersebut tidak hanya membuka peluang penghematan BBM, tetapi juga mendukung keandalan sistem kelistrikan di Nusa Tenggara.
“Kalau midstream gasnya sudah tersedia, selain bisa menghemat BBM, tentu juga bisa menjaga keandalan dari sistem kelistrikan di Lombok,” ujarnya. ***




