Situasi Global Bergejolak, Pemerintah Perlu Hitungan Presisi Jaga Ketahanan BBM

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah perlu mengedepankan kehati-hatian dan perhitungan yang presisi dalam menetapkan kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun nonsubsidi, di tengah dinamika harga minyak global yang semakin volatil.

Menahan harga BBM demi menjaga daya beli masyarakat dinilai wajar, namun kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap ketahanan energi nasional jika tidak diimbangi dengan kesiapan pendanaan dan pasokan.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyoroti adanya disparitas signifikan antara asumsi harga minyak dalam APBN 2026 dan realisasi harga pasar saat ini. Dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel, sementara harga minyak dunia—mengacu pada Brent—telah bergerak jauh di atas level tersebut, muncul selisih harga jual BBM terhadap nilai keekonomian.

“Dengan asumsi nilai tukar tetap, selisih harga BBM bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp9.000 per liter. Ini bukan semata isu subsidi, tetapi menyangkut keberlanjutan pengadaan,” ujar Komaidi dalam diskusi energi yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S), Kamis (9/4).

Read also:  PLN Nusantara Power Raih 12 Penghargaan EBTKE 2026, Tegaskan Kepeloporan Energi Bersih

Dengan volume penjualan BBM nasional sekitar 80 juta kiloliter per tahun—di mana sekitar 88–90% dikuasai Pertamina—beban tambahan yang harus ditanggung BUMN tersebut berpotensi membengkak signifikan. Estimasi menunjukkan kebutuhan dana tambahan bisa mencapai Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun per hari, atau sekitar Rp60 triliun per bulan.

Komaidi mengingatkan, tekanan terhadap arus kas Pertamina menjadi isu krusial, terutama di tengah kewajiban pembayaran utang dan jatuh tempo obligasi.

“Pertanyaannya, seberapa lama Pertamina mampu bertahan dengan cash flow yang ada. Jika kemampuan pengadaan terganggu, risiko terbesar adalah ketersediaan BBM di dalam negeri,” tegasnya.

Ia menambahkan, dengan pangsa pasar mendekati 90%, gangguan pasokan dari Pertamina akan berdampak sistemik terhadap perekonomian nasional.

“Menahan harga mungkin tepat secara sosial, tetapi jika barangnya tidak tersedia, dampaknya bisa jauh lebih besar—baik secara ekonomi maupun sosial,” ujarnya.

Read also:  Agincourt Resources Buka OlympiAR 2026, Dorong Talenta Geosains dan Praktik Tambang Berkelanjutan

Senada, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, menilai kondisi pasar energi global saat ini berada dalam fase “seller’s market”, di mana kendali harga dan pasokan berada di tangan produsen.

“Dalam situasi seperti ini, bahkan jika kita punya dana, belum tentu barangnya tersedia,” kata Kholid.

Ia juga menyoroti dilema regulasi yang dihadapi pemerintah, mengingat asumsi ICP dalam APBN 2026 masih berada di level US$70 per barel, sementara harga pasar telah melampaui US$100 per barel.

“Ini menimbulkan pertanyaan dari sisi dasar hukum pengadaan jika harga realisasi jauh di atas asumsi APBN,” ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Universitas Indonesia, Dipo Satria Ramli, memperkirakan tekanan fiskal akan meningkat jika harga minyak bertahan tinggi. Dalam skenario harga minyak US$105 per barel dan nilai tukar Rp17.000 per dolar AS, defisit APBN berpotensi menembus 3,6% dari PDB, melampaui batas aman 3%.

Read also:  Ahmad Yani Terpilih sebagai Ketua API, Fokus Dorong Pengembangan Panas Bumi

“Kebijakan menahan harga BBM subsidi memang membantu masyarakat, tetapi secara ekonomi beban tersebut bergeser ke neraca Pertamina, yang juga menghadapi tekanan,” jelas Dipo.

Di sisi lain, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan energi melalui diversifikasi sumber impor dan optimalisasi produksi domestik.

Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan pemerintah memperluas sumber pasokan energi di luar jalur tradisional seperti Selat Hormuz, guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi global.

“Pasokan diperluas dari berbagai kawasan, termasuk Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi produksi dalam negeri, termasuk pengalihan sebagian lifting minyak mentah untuk kebutuhan domestik.

“KKKS didorong untuk mengalihkan ekspor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, sekaligus memperkuat produksi BBM dan LPG domestik,” kata Hendra.***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Agincourt Resources Buka OlympiAR 2026, Dorong Talenta Geosains dan Praktik Tambang Berkelanjutan

Ecobiz.asia -- PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, bersama Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) kembali menggelar Olympiad Agincourt Resources (OlympiAR) 2026, kompetisi geosains...

PLN Nusantara Power Raih 12 Penghargaan EBTKE 2026, Tegaskan Kepeloporan Energi Bersih

Ecobiz.asia -- PLN Nusantara Power (PLN NP) kembali menorehkan prestasi dalam pengembangan energi bersih dengan meraih 12 penghargaan pada ajang Apresiasi Energi Baru, Terbarukan,...

IndoEBTKE ConEx 2026 Dorong Eksekusi Proyek EBT dan Percepatan Investasi Hijau

Ecobiz.asia -- Forum The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 akan menjadi ajang untuk mempercepat realisasi proyek energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) di Indonesia,...

Ahmad Yani Terpilih sebagai Ketua API, Fokus Dorong Pengembangan Panas Bumi

Ecobiz.asia — Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), Ahmad Yani, terpilih sebagai Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API)/Indonesian Geothermal Association (INAGA)...

MedcoEnergi Salurkan Bantuan Logistik bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

Ecobiz.asia -- PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7...

TOP STORIES

PTK Masuk Era Baru, Perkuat Green Vessel dan Terapkan AI

Ecobiz.asia — PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menyiapkan modernisasi armada, digitalisasi hingga penggunaan teknologi rendah emisi untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan. Langkah tersebut mencakup...

Hotspot Karhutla Turun 121 Titik, Chinook Jepang Siap Bantu Pemadaman

Ecobiz.asia – Jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional turun 121 titik dalam sehari menjadi...

Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendalami penyebab kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, termasuk kemungkinan adanya unsur pidana. Penelusuran diperkuat...

PGE Borong 13 Penghargaan ENSIA 2026, Inovasi Panas Bumi Menyebar di 5 Wilayah

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memborong 13 penghargaan dalam Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 yang digelar PT Sucofindo (Persero)...

INALUM Raih Rating BBB- dari S&P, Perkuat Akses Pendanaan Hilirisasi

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Peringkat investment grade tersebut...