Pemilahan Sampah Jadi Penentu Keberhasilan Teknologi PSEL (Waste to Energy)

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber menjadi faktor kunci keberhasilan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy.

Hal tersebut disampaikan Diaz menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan sejumlah pemerintah kabupaten untuk percepatan pembangunan PSEL Padang Raya.

Menurut Diaz, kualitas sampah yang masuk ke fasilitas PSEL sangat menentukan kinerja teknologi, terutama pada sistem gasifikasi. Tingginya kadar air dalam sampah dinilai dapat mengganggu proses pengolahan bahkan berpotensi merusak mesin.

Read also:  Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ia menjelaskan, sampah dengan kadar air tinggi memerlukan proses pengeringan tambahan yang berdampak pada peningkatan biaya operasional. Selain itu, kondisi tersebut juga akan mengurangi volume sampah yang dapat diolah menjadi energi, sehingga produksi listrik menjadi tidak optimal.

Karena itu, Diaz menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Menurutnya, langkah sederhana tersebut memiliki dampak besar terhadap keberhasilan program pengolahan sampah nasional.

Read also:  B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

“Jadi mohon kalau boleh, bersama kita memberikan edukasi baik untuk masyarakat pilah sampah, kedengarannya sangat sepele, tapi yang sepele bisa merusak prioritas Presiden dan merusak mimpi kita untuk bersih dari sampah,” katanya.

Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan sebesar 63% sampah terkelola pada tahun 20206 dan pada tahun 2029 mencapai 100%.

Read also:  Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Diaz juga mengingatkan bahwa penandatanganan PKS merupakan tahap awal dari proses panjang pembangunan PSEL. Ia memperkirakan proyek dapat berjalan paling cepat dalam tiga tahun, namun juga membuka kemungkinan memakan waktu lebih lama jika menghadapi kendala.

Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi aktif masyarakat, dapat mempercepat realisasi PSEL sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan sekaligus sumber energi terbarukan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

WWF-Indonesia dan CPOPC Jalin Kerja Sama Penguatan Transparansi Rantai Pasok Sawit Berkelanjutan

Ecobiz.asia - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus meningkatkan pengakuannya di...

Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah segera menyiapkan langkah konkret untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50 di Indonesia. Menteri...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

WWF Indonesia dan DIPI Dorong Transformasi Ritel untuk Perkuat Pangan Sehat dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan...

TOP STORIES

NCI, Infini Asia Launch FIST 1.0 to Strengthen Data Management for Nature-Based Solutions

Ecobiz.asia – Nusantara Climate Initiative (NCI), in collaboration with PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia), has officially launched the Forest Integrated System for Transparency...

IDX Proposes Lower Non-Tax State Levy to Boost Carbon Trading on IDXCarbon

Ecobiz.asia – The Indonesia Stock Exchange (IDX) is preparing a proposal for an incentive and disincentive scheme to encourage companies to trade carbon units...

IIF Kantongi Akreditasi GCF, Buka Akses Pendanaan Iklim Global untuk Infrastruktur Berkelanjutan

Ecobiz.asia – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) resmi memperoleh status Accredited Entity (AE) dari Green Climate Fund (GCF) per 1 Juli 2026, membuka akses...

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...