Sungai Mengering, Ketergantungan Batu Bara Dinilai Perparah Krisis Iklim di Kalimantan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kekeringan dan pendangkalan sejumlah sungai besar di Kalimantan di tengah fenomena El Niño menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, khususnya batu bara.

Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko ekonomi dan keuangan akibat perubahan iklim serta pembiayaan terhadap aset-aset berbasis batu bara.

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Tengah Janang Firman Palanungkai mengatakan, sekitar 60% dari 15,3 juta hektare wilayah Kalimantan Tengah berada dalam penguasaan konsesi, termasuk pertambangan batu bara.

Menurut dia, aktivitas ekstraktif dalam skala besar telah memberikan tekanan terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dampaknya terlihat dari pola bencana ekologis yang terjadi secara berulang.

“Ketika musim hujan, banjir melanda banyak wilayah di Kalimantan Tengah. Sebaliknya, pada musim kemarau seperti saat ini, kebakaran hutan mengancam berbagai wilayah,” kata Janang, dalam keterangannya Jumat (4/9).

Salah satu kondisi yang paling mengkhawatirkan, lanjutnya, adalah pendangkalan dan kekeringan sejumlah sungai, termasuk Sungai Barito yang selama ini menjadi salah satu jalur penting pengangkutan hasil aktivitas ekstraktif.

“Kondisi pendangkalan disertai kekeringan sejumlah sungai termasuk Sungai Barito yang selama ini menjadi salah satu jalur penting pengiriman hasil ekstraktivisme,” ujarnya.

Read also:  Pemerintah Matangkan Pembentukan BP-GMN, Rancang Mandat hingga Perpres

Janang menilai rangkaian bencana ekologis tersebut semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap kebijakan pengelolaan ruang dan sumber daya alam.

“Kebijakan pengelolaan ruang dan sumber daya alam yang buruk pada akhirnya akan mengancam keselamatan dan kehidupan rakyat,” katanya.

Risiko Ekonomi Batu Bara

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) sekaligus bagian dari Koalisi Bersihkan Bankmu, Bhima Yudhistira, mengatakan kondisi sungai di Kalimantan perlu dilihat sebagai bagian dari risiko yang lebih besar dari krisis iklim. Menurut dia, dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan pada akhirnya akan menimbulkan biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat, pemerintah maupun pelaku usaha.

Mengacu pada studi Toxic 20, Bhima menyebut kerugian ekonomi dari pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan mencapai Rp1.813 triliun. Angka tersebut, menurut dia, masih berpotensi meningkat seiring memburuknya dampak perubahan iklim, meningkatnya biaya kesehatan, serta degradasi fungsi sungai.

“Kerugian ekonomi dari batu bara itu nyata adanya,” kata Bhima. Dia menilai risiko tersebut juga akan semakin dirasakan oleh perusahaan dan lembaga keuangan yang memiliki eksposur terhadap industri batu bara.

Read also:  RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

“PLN dan bank yang membiayai industri batu bara pun ke depan juga akan menanggung konsekuensi ekonomi yang berat dari risiko mangkraknya aset-aset infrastruktur batu bara, seperti pembangkit listrik dan kapal tongkang,” ujarnya. Jika risiko aset tersebut terus meningkat, Indonesia menghadapi potensi tekanan ganda berupa risiko terhadap ketahanan energi sekaligus stabilitas keuangan.

Bank Masih Biayai Batu Bara

Di sisi lain, laporan BersihkanBankmu menunjukkan perbankan domestik masih memiliki eksposur pembiayaan yang besar terhadap perusahaan batu bara. Sepanjang 2021–2024, total pinjaman perbankan domestik kepada perusahaan batu bara tercatat mencapai US$7,2 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$5,6 miliar disalurkan oleh sejumlah bank besar, termasuk Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI dan Permata.

Bhima mengatakan, nilai pembiayaan US$5,6 miliar tersebut secara teoritis setara dengan pendanaan untuk sekitar 19 proyek energi terbarukan di bawah skema Just Energy Transition Partnership (JETP). Menurut dia, realokasi pembiayaan dari sektor batu bara ke energi bersih dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat transisi energi Indonesia. “Tanpa percepatan pemensiunan PLTU batu bara dan dihentikannya pembiayaan ke batu bara, maka krisis iklim hanya akan terus memburuk,” katanya.

Read also:  Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Momentum Perubahan Kebijakan

Koordinator Outreach and Advocacy CERAH Dzatmiati Sari mengatakan kondisi lingkungan yang terjadi di Kalimantan seharusnya menjadi titik balik bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis ekstraktif dan mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Dia menilai sejumlah kebijakan energi nasional masih memberikan ruang yang cukup besar bagi batu bara, antara lain Kebijakan Energi Nasional (KEN), Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), serta Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Dzatmiati juga menyoroti Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) yang dinilai belum cukup tegas menempatkan energi fosil sebagai kegiatan yang tidak memenuhi kriteria pembiayaan berkelanjutan. “Pemerintah harus mengubah kebijakan tersebut,” kata Dzatmiati.

Dalam revisi RUEN yang tengah disusun, pemerintah, menurut dia, perlu menetapkan peta jalan yang jelas dan target waktu yang tegas untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Arah kebijakan tersebut juga perlu diterjemahkan ke dalam regulasi turunannya, termasuk RUPTL. Selain itu, pedoman dan kerangka klasifikasi pendanaan dalam TKBI perlu memperjelas target pengurangan pembiayaan terhadap proyek-proyek beremisi tinggi dalam periode tertentu. “Ini guna memperkuat pendekatan pendanaan yang lebih hijau di Indonesia,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...