Menteri LH Tegaskan Pentingnya Pasar Karbon yang Berkeadilan dan Dukung Kesejahteraan Lokal

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pembangunan pasar karbon internasional harus menjunjung tinggi prinsip keadilan, kedaulatan negara, dan semangat kolaboratif. 

Hal ini disampaikannya dalam peluncuran Coalition to Grow Carbon Market (CGCM), di mana Indonesia hadir sebagai negara undangan utama, di London, Inggris, Selasa (24/6/2025).

Menurut Menteri Hanif, pasar karbon bukan semata urusan ekonomi, tetapi juga menyangkut moralitas dan keadilan iklim global. 

Baca juga: Indonesia Miliki Potensi 201 Juta Ton Kredit Karbon dari Sektor Kehutanan, Kualitas Proyek Menentukan

Ia menekankan bahwa pasar karbon harus menjadi sarana untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat lokal dan mendukung pencapaian target mitigasi perubahan iklim nasional.

Read also:  Pemda DIY dan WWF Perluas Kerja Sama, Pengadaan Hijau Pangkas Emisi 48%

“Upaya membangun pasar karbon global harus didasarkan pada keadilan dan semangat saling melengkapi antarnegara. Ini bukan hanya tentang perdagangan, tetapi tentang memperjuangkan kehidupan manusia dan keberlanjutan bumi,” tegas Hanif.

Hanif menyoroti peran penting pasar karbon sukarela (voluntary carbon market/VCM) dalam mengisi kesenjangan kapasitas antarnegara dan antaraktor. 

Ia menyebut bahwa VCM harus diarahkan untuk memperkuat pelaku di tingkat tapak—khususnya masyarakat adat, komunitas lokal, dan para pelaksana aksi iklim di lapangan.

Read also:  Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

“Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku pasar sangat diperlukan untuk menyiapkan transisi menuju pasar karbon global yang terintegrasi, adil, dan berpihak pada kepentingan masyarakat lokal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan perlunya konsolidasi peran negara dalam pelaksanaan NDC dan menyampaikan keprihatinan atas proyek-proyek karbon yang berjalan secara parsial dan tidak terkait langsung dengan prioritas nasional.

“Seluruh pemangku kepentingan harus mengedepankan kolaborasi strategis, berdasarkan rencana nasional yang mengintegrasikan manfaat iklim dengan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: Terima VERRA dan ICVCM, Menhut Mau Selaraskan Metodologi dan Pastikan Integritas Karbon

Menteri Hanif menilai bahwa skema perdagangan karbon tidak boleh didominasi oleh pendekatan pasar semata, melainkan juga mempertimbangkan dimensi sosial dan lingkungan. 

Read also:  IDXCarbon Gratiskan Biaya Pendaftaran, Incar Lebih Banyak Pengguna Jasa Karbon

Indonesia, katanya, terus memperkuat posisinya melalui kerangka kerja nasional yang mendukung integritas, transparansi, dan kedaulatan.

Ia pun menyambut pembentukan CGCM sebagai langkah awal penting untuk membangun kepercayaan dan menyusun kerangka kerja kolaboratif yang mendorong keselarasan aksi global terhadap target Persetujuan Paris.

“Indonesia mendukung kerja sama internasional yang saling menghormati dan saling melengkapi, demi memperbaiki iklim bumi dan mewujudkan kemakmuran bagi seluruh umat manusia,” tutup Hanif. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...

Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut,...

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...

Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

Ecobiz.asia – Pemodelan berbasis remote sensing mulai memberikan gambaran baru mengenai cadangan karbon ekosistem lamun Indonesia. Peneliti University of Queensland Muhammad Hafizt memperkirakan above-ground...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...