Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi sumber listrik bersih yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri berintensitas energi tinggi, seperti smelter nikel dan pusat data. Namun, pengembangannya masih terkendala risiko proyek, pembiayaan, waktu pengembangan, dan kesiapan jaringan transmisi.

Isu tersebut dibahas dalam sesi Firm Clean Power for 24/7 Loads: Hydro and Geothermal at Industrial Scale pada Electricity Connect 2026 di Tangerang, Rabu (23/9/2026).

Indonesia saat ini baru memanfaatkan sekitar 12% potensi geotermal dan 7% potensi hidro. Di tengah permintaan listrik industri yang meningkat, kedua sumber energi tersebut dinilai memiliki karakteristik yang dibutuhkan untuk menyediakan listrik rendah emisi secara berkelanjutan.

Director and Chief Commercial and Business Development Officer Medco Power Femi Sastrena mengatakan permintaan industri terhadap listrik kini tidak lagi sebatas pasokan yang stabil. Industri juga semakin mencari listrik yang berasal dari energi terbarukan untuk menekan jejak karbon.

Menurut Femi, tren tersebut mulai terlihat pada industri nikel dan pusat data yang membutuhkan pasokan listrik andal sekaligus memenuhi tuntutan dekarbonisasi.

Read also:  Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Medco Power saat ini memiliki portofolio pembangkit sekitar 3,4 GW, yang terdiri atas pembangkit gas, geotermal, hidro, mini hidro, dan surya. Salah satu pengembangannya berada di kawasan pertambangan Sumbawa melalui pembangkit surya 25 MW yang dipadukan dengan pembangkit gas dan diesel untuk memasok kebutuhan tambang dan smelter.

“Pada dasarnya mereka datang kepada kami di Medco Power dan menanyakan apakah kami memproduksi tenaga terbarukan dan bisakah mereka membeli listrik dari kami,” kata Femi.

Menurut dia, permintaan tersebut menunjukkan listrik terbarukan mulai menjadi kebutuhan komersial industri, bukan semata untuk memenuhi kewajiban lingkungan.

Dari sisi pembangkit hidro, fleksibilitas menjadi salah satu keunggulan untuk melayani beban industri yang besar dan dinamis. Business Manager PT Poso Energy Ismet Rahmad Kartono mengatakan pembangkit yang dikelolanya memiliki kapasitas 515 MW dan memasok listrik untuk industri nikel di Sulawesi.

“Tenaga air bukan hanya energi yang bersih, tetapi juga punya fleksibilitas serta respons yang cepat untuk permintaan yang bergerak,” ujar Ismet.

Read also:  Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Namun, pembangkit hidro tetap menghadapi risiko hidrologi. Kondisi aliran air dapat berubah pada musim kering maupun saat terjadi El Niño sehingga memengaruhi produksi listrik.

Untuk mengantisipasinya, Poso Energy menyesuaikan produksi pembangkit dan kebutuhan smelter berdasarkan perkiraan kondisi hidrologi.

Tantangan berbeda dihadapi pengembangan geotermal yang membutuhkan eksplorasi dan pengeboran sebelum kapasitas pembangkit dapat direalisasikan.

President Director PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan perusahaan menargetkan tambahan kapasitas geotermal sekitar 1 GW dalam 10 tahun. Pengurangan risiko sejak tahap awal menjadi salah satu faktor penting untuk mencapai target tersebut.

Menurut Yudistian, proses pengembangan dimulai dari studi dan eksplorasi untuk mendapatkan gambaran mengenai potensi sumber daya sekaligus risiko proyek. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengurangi risiko sebelum proyek masuk tahap pengembangan.

“Studi dan eksplorasi hanya untuk mendapatkan gambaran dan data dari konsesi. Kami mencoba memahami sumber daya geotermal lalu bagaimana risikonya harus diminimalkan selama pengembangan,” kata Yudistian.

Read also:  Pertamina Hulu Indonesia Perkuat Konservasi Orang Utan untuk Dukung Keberlanjutan Operasi Migas

Risiko proyek juga menjadi perhatian lembaga pembiayaan. Chief Representative Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Satoko Takata mengatakan proyek hidro dan geotermal memiliki prospek, tetapi menghadapi ketidakpastian terutama pada tahap awal.

Pada geotermal, risiko utama terdapat pada eksplorasi dan pengeboran. Sementara pada hidro, ketidakpastian kondisi hidrologi menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam pembiayaan.

“Penting untuk mengembangkan tarif yang dapat diprediksi dan juga PPA yang dapat dibankingkan serta koneksi transmisi yang tepat waktu,” kata Satoko.

JBIC, lanjut Satoko, masih terbuka mendukung proyek hidro dan geotermal, baik berskala besar maupun menengah dan kecil, sepanjang terdapat keterlibatan perusahaan Jepang dan mitra lokal.

Dengan demikian, pengembangan hidro dan geotermal untuk memasok kebutuhan industri tidak cukup hanya mengandalkan besarnya potensi sumber daya. Kepastian proyek, skema pembiayaan, jaringan transmisi, serta kemampuan pembangkit memenuhi kebutuhan beban menjadi faktor yang menentukan agar listrik bersih dapat tersedia secara andal untuk industri. *** Jadita Banjar Nahor

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Indonesia Tawarkan Energi Hijau untuk Tarik Investasi Data Center

Ecobiz.asia — Pemerintah menawarkan potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia untuk menarik investasi pusat data (data center), seiring meningkatnya kebutuhan listrik industri digital. Potensi...

Bahlil Assures No Increase in Subsidized Fuel Prices through End-2026

Ecobiz.asia - Energy and Mineral Resources Minister Bahlil Lahadalia has assured that subsidized fuel prices will not increase through the end of 2026, in...

Pemerintah Kebut PLTS 100 GW, Investasi Dibutuhkan Capai US$73 Miliar

Ecobiz.asia — Pemerintah mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun. Program tersebut diperkirakan membutuhkan...

Industri Tambang Kejar Ekspansi dan Hilirisasi, Kebutuhan Listrik Andal Ikut Melonjak

Ecobiz.asia — Kebutuhan energi industri pertambangan meningkat seiring ekspansi produksi dan hilirisasi, tetapi pelaku usaha menghadapi tantangan menjaga keandalan listrik sekaligus menekan emisi dari...

Elektrifikasi Industri Didorong untuk Pangkas Emisi dan Biaya Energi

Ecobiz.asia — Elektrifikasi mulai didorong sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi industri berat yang masih banyak menggunakan bahan bakar...

TOP STORIES

ESGIN Global Partners, Heritage Group Sign MOU for Cambodia Sustainable Agriculture, Carbon Projects

Ecobiz.asia -- PT ESGIN Global Partners (ESGIN) and Cambodia-based Heritage Group Co., Ltd. have signed a memorandum of understanding (MOU) to develop sustainable agriculture...

Renewables Account for 18.19% of Indonesia’s Electricity Generation in 2026

Ecobiz.asia – New and renewable energy (NRE) sources accounted for 18.19% of Indonesia’s total electricity generation in 2026, as the government continues to expand...

Potensi Bioenergi 80 Juta Ton, Baru 20 Juta Ton Dimanfaatkan

Ecobiz.asia — Indonesia baru memanfaatkan sekitar 20 juta ton dari lebih dari 80 juta ton potensi biomassa per tahun, sehingga masih terdapat sekitar 60...

300 Companies Mobilized to Fight Wildfires Threatening South Kalimantan’s Food, Energy and Water-Security Zone

Ecobiz.asia — The Indonesian government is mobilizing at least 300 companies and business units in South Kalimantan to conduct simultaneous operations to extinguish forest...

Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Explore Blue Carbon Potential Across 24,000 Hectares of Mangroves

Ecobiz.asia – The Aceh Tamiang administration, climate technology company Fairatmos and Mandala Katalika (Manka) have signed a cooperation agreement to explore a mangrove-based blue...