Potensi Bioenergi 80 Juta Ton, Baru 20 Juta Ton Dimanfaatkan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Indonesia baru memanfaatkan sekitar 20 juta ton dari lebih dari 80 juta ton potensi biomassa per tahun, sehingga masih terdapat sekitar 60 juta ton bahan baku yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi.

Vice President Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Anita Puspita Sari mengatakan pemanfaatan biomassa dapat diperluas untuk pembangkit listrik maupun kebutuhan industri, terutama melalui pengembangan rantai pasok yang lebih terintegrasi.

“Indonesia memiliki (potensi) lebih dari 80 juta ton per tahun, tetapi baru dimanfaatkan sekitar 20 juta. Jadi, kami masih memiliki cadangan sisanya, sekitar 60 juta,” kata Anita dalam sesi Unlocking Indonesia’s Bioenergy Potential: From Resources to Reliable Energy pada Electricity Connect 2026 di Tangerang, Rabu (23/9/2026).

Read also:  Pangkas Penggunaan BBM, PLN EPI Siapkan Gasifikasi Pembangkit 477 MW di Nusa Tenggara

PLN EPI, kata Anita, mengembangkan rantai pasok biomassa dengan melibatkan pelaku usaha lokal. Biomassa juga menjadi salah satu strategi PLN dalam menjalankan transisi energi, salah satunya melalui program co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Menurut Anita, co-firing menjadi salah satu opsi transisi energi dengan biaya relatif rendah karena memanfaatkan pembangkit yang sudah beroperasi, tanpa perlu membangun pembangkit baru.

“Sekarang kami tahu bahwa co-firing merupakan biaya terendah untuk melakukan transisi karena kami tidak perlu memasang pembangkit baru,” ujarnya.

Dalam skema tersebut, biomassa dicampurkan dengan batu bara sebelum digunakan sebagai bahan bakar pada boiler PLTU. Dengan cara ini, PLN dapat memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah tersedia sekaligus meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan.

Read also:  Grup PHI Perkuat Penanganan Karhutla di Wilayah Operasi Kalimantan

Bahan baku biomassa tersedia dari berbagai sektor, mulai dari limbah pertanian, perkebunan, industri hingga sampah perkotaan. Jenisnya antara lain sekam padi, tongkol jagung, sabut kelapa, serat sawit, ampas tebu, kayu karet, wood chips, serbuk gergaji, hingga refuse-derived fuel (RDF) dan solid recovered fuel (SRF).

Untuk menjaga pasokan, PLN EPI membangun rantai pasok berjenjang melalui sub-hub, hub, dan main hub. Sub-hub menjadi titik pengumpulan bahan baku, sedangkan hub mengolah bahan tersebut menjadi produk seperti wood chip, serbuk gergaji, atau pelet sebelum dikirim ke pembangkit atau pasar lainnya.

“Dari hub, kami bisa langsung menuju pembangkit atau mengumpulkannya di main hub. Main hub akan mengumpulkan material atau produk biomassa dari berbagai hub,” kata Anita.

Read also:  Karhutla Dekati Sumur ML-12, Pertamina EP Lirik Kerahkan Fire Brigade

Program co-firing saat ini telah diterapkan di 52 lokasi PLTU PLN yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.

Pada 2025, PLN menggunakan lebih dari 2 juta ton biomassa untuk program tersebut. Pada 2026, pemanfaatan biomassa ditargetkan tetap berada di atas 2 juta ton hingga akhir tahun.

Selain untuk pembangkit PLN, biomassa juga berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi industri maupun pasar ekspor, tergantung jenis produk dan permintaan pasar.

Dengan potensi bahan baku yang masih besar, pengembangan biomassa tidak hanya menjadi bagian dari strategi transisi energi, tetapi juga membuka ruang pemanfaatan limbah dan sumber daya lokal sebagai komoditas energi. *** Jadita Banjar Nahor

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Wärtsilä: Fleksibilitas Sistem Listrik Penting untuk Percepatan EBT dan Ekonomi Digital

Ecobiz.asia -- Percepatan energi terbarukan dan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel agar peningkatan pasokan listrik bersih tetap berjalan...

PHE Buka Roadshow Hulu Migas ke 20 Kampus, Mulai dari IPB

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) membuka rangkaian Upstream Youth Champs (UYC) 2026 di IPB University, Bogor, Selasa (22/9/2026), sebagai bagian dari agenda...

Perluas Pemanfaatan Gas Bumi, Gagas Perkuat Layanan CNG Point-to-Point untuk Pelanggan Usaha

Ecobiz.asia — PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) memperkuat layanan Compressed Natural Gas (CNG) point-to-point bagi pelanggan usaha di Yogyakarta, seiring bertambahnya pemanfaatan gas bumi...

Semester I 2026, Bisnis Rendah Karbon Pertamina Tembus 101% Target

Ecobiz.asia — Kinerja bisnis rendah karbon PT Pertamina (Persero) sepanjang semester I 2026 mencapai 101% dari target RKAP 2026, didorong pengembangan biofuel, bioethanol, dan...

Jababeka-Pertamina Kerja Sama Pengembangan Energi Hijau, Siapkan Biometana hingga Hidrogen

Ecobiz.asia — PT Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Pertamina (Persero) memperluas kerja sama transisi energi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, dengan menyiapkan pasokan dan...

TOP STORIES

ESGIN Global Partners, Heritage Group Sign MOU for Cambodia Sustainable Agriculture, Carbon Projects

Ecobiz.asia -- PT ESGIN Global Partners (ESGIN) and Cambodia-based Heritage Group Co., Ltd. have signed a memorandum of understanding (MOU) to develop sustainable agriculture...

Renewables Account for 18.19% of Indonesia’s Electricity Generation in 2026

Ecobiz.asia – New and renewable energy (NRE) sources accounted for 18.19% of Indonesia’s total electricity generation in 2026, as the government continues to expand...

Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

Ecobiz.asia — Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi sumber listrik bersih yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri berintensitas...

300 Companies Mobilized to Fight Wildfires Threatening South Kalimantan’s Food, Energy and Water-Security Zone

Ecobiz.asia — The Indonesian government is mobilizing at least 300 companies and business units in South Kalimantan to conduct simultaneous operations to extinguish forest...

Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Explore Blue Carbon Potential Across 24,000 Hectares of Mangroves

Ecobiz.asia – The Aceh Tamiang administration, climate technology company Fairatmos and Mandala Katalika (Manka) have signed a cooperation agreement to explore a mangrove-based blue...