Lamun Berperan Strategis Serap Karbon, IBCI Pacu Kolaborasi Regional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – International Blue Carbon Institute (IBCI) memperkuat komitmennya dalam pengembangan ekosistem lamun (seagrass) sebagai salah satu solusi berbasis alam dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi global untuk mendorong peran karbon biru dalam kebijakan lingkungan nasional dan regional.

“Lamun adalah ekosistem yang sangat efektif dalam menyerap dan menyimpan karbon, namun potensinya masih belum sepenuhnya diakui,” ujar Pimchanok Buapet, Direktur Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IBCI, dalam webinar Scaling Seagrass Blue Carbon: IBCI’s Global Work and Its Relevance to Indonesia, Jumat (2/5/2025).

Read also:  Industri Sambut Positif Permenhut 6/2026 Perdagangan Karbon Kehutanan

Baca juga: RI-AS Tuntaskan Debt for Nature Swap Senilai 35 Juta Dolar AS untuk Konservasi Terumbu Karang 

Menurut Pimchanok, salah satu hambatan utama dalam pemanfaatan lamun sebagai solusi iklim adalah minimnya data spasial dan pemahaman ilmiah yang komprehensif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, IBCI menjalin kolaborasi strategis dengan NASA dalam mengembangkan teknologi penginderaan jauh guna pemetaan lamun berskala besar.

“Bersama NASA, kami sedang mengembangkan pendekatan berbasis satelit untuk memetakan sebaran lamun secara lebih efisien dan akurat di kawasan pesisir,” jelasnya.

IBCI juga aktif membangun kemitraan nasional, termasuk dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan menyelaraskan upaya pemetaan dan pengelolaan lamun dengan kerangka kebijakan lingkungan nasional.

Read also:  Singapura–Filipina Teken Kesepakatan Kredit Karbon Pertama di Bawah Pasal 6 Perjanjian Paris

Baca juga: Jalankan Program Sabuk Hijau, Lautan Luas Tanam 10.000 Mangrove di Semarang

“Kami tidak berupaya menggandakan kerja yang sudah ada. Justru kami ingin mendukung upaya BRIN dalam menyusun peta lamun nasional dengan berbagi data dan keahlian teknis,” tambahnya.

Tak hanya berhenti pada riset, IBCI juga mendorong terbentuknya jejaring regional melalui inisiatif Southeast Asian Blue Carbon Network.

Jaringan ini didesain untuk memperkuat kolaborasi antara peneliti, pembuat kebijakan, hingga pelaku konservasi di Asia Tenggara, dalam memajukan konservasi dan restorasi ekosistem karbon biru.

Read also:  ESG-IN dan IDCTA Teken MoU, Dorong Digitalisasi dan Integritas Pasar Karbon Indonesia

Baca juga: KKP Tetapkan Dua Kawasan Konservasi Laut Baru, Luasnya Ratusan Ribu Hektar

“Jaringan ini sangat penting, tidak hanya untuk memperluas kolaborasi, tetapi juga untuk memperkuat advokasi dan pengaruh kebijakan yang berbasis sains,” tegas Pimchanok.

Menutup paparannya, Pimchanok mengajak lebih banyak pihak untuk terlibat dalam proyek-proyek karbon biru, termasuk berbagi data dan berpartisipasi dalam pelatihan kapasitas.

“Kami mengundang organisasi, akademisi, dan individu untuk bergabung dalam inisiatif ini. Dengan kolaborasi, Asia Tenggara dapat menjadi pionir dalam solusi iklim berbasis ekosistem pesisir,” tandasnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KLH Uji Coba Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca SIGN SMART ROBUST, Banyak Keunggulannya

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan (KLH/BPLH) Hidup melalui Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi (IGRK MPV) menguji coba pengembangan...

Hidupkan Perdagangan Karbon, Kemenhut Kerja Bak ‘Roro Jongrang’ Sosialisasikan Permenhut 6/2026

Ecobiz.asia - Peraturan Menteri Kehutanan No 6 yang mengatur perdagangan karbon kehutanan yang baru saja terbit mendapat sambutan antusias. Pembahasan beleid tersebut pun digelar...

Kemenhut Tawarkan Investasi Karbon Kehutanan Indonesia di Forum Bisnis New York

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan komitmennya membangun tata kelola perdagangan karbon kehutanan yang kredibel, transparan, dan berstandar internasional dalam forum bisnis Indonesia–International Emissions...

PLN Indonesia Power Gandeng DevvStream Kelola Kredit Karbon Portofolio PLTS

Ecobiz.asia – PT PLN Indonesia Power menunjuk DevvStream Corp. sebagai mitra eksklusif pengelolaan kredit karbon dari portofolio pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) milik perusahaan. Melalui...

ESG-IN dan IDCTA Teken MoU, Dorong Digitalisasi dan Integritas Pasar Karbon Indonesia

Ecobiz.asia – ESG-IN dan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat pengembangan ekosistem kredit karbon berbasis data terverifikasi di Indonesia. Penandatanganan...

TOP STORIES

Indonesia Bets on Certified Sustainable Timber to Expand U.S. Market Access

Ecobiz.asia — United States remains a strategic export market for Indonesia’s forestry products, with exports of Indonesian processed wood products to the U.S. reaching...

Pangkas Emisi Karbon, PLN Gandeng MRT Jakarta dan Transjakarta Kampanyekan Transportasi Publik Listrik

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) bersama PT MRT Jakarta dan PT Transportasi Jakarta meluncurkan kampanye “Green Future Powered Today” untuk mendorong penggunaan transportasi publik...

Ekspor Produk Kayu ke AS Tembus US$1,94 Miliar, RI Andalkan Sertifikasi dan Produk Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Amerika Serikat masih menjadi pasar strategis bagi produk kehutanan Indonesia. Nilai ekspor produk kayu olahan Indonesia ke Negeri Paman Sam pada 2025...

Penuhi Kebutuhan Pasar, Menhut Jamin Produk Kayu Indonesia ke AS Legal dan Bersertifikat

Ecobiz.asia – Di tengah tuntutan global akan produk kayu berkelanjutan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjamin produk kayu Indonesia yang masuk ke pasar Amerika...

ASEAN Must Not Become Global Waste Dumping Ground, Circular Economy Must Advance

Ecobiz.asia — Indonesia has called for stronger regional cooperation in ASEAN to address increasingly complex challenges in chemical and waste management, including the growing...