Kemenhut Sanksi 12 PBPH, Perusahaan Diminta Stop Land Clearing dengan Api

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperingatkan masyarakat dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, menyusul meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 akibat musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan praktik land clearing dengan api masih menjadi pola lama yang berisiko tinggi memicu karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan Barat.

“Perlu disebarkan informasi kepada masyarakat agar tidak bermain api. Kalau bermain api nanti terbakar. Ini cara yang mudah, tetapi sangat berbahaya,” ujar Raja Juli pada konferensi pers usai Rapat Koordinasi Terbatas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2026, di Jakarta, Senin, (06/04/2026).

Read also:  Indonesia Tawarkan Energi Hijau untuk Tarik Investasi Data Center

Ia menambahkan, pemerintah telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindak praktik pembakaran lahan yang dilakukan oleh individu maupun korporasi.

Kemenhut juga telah menjatuhkan sanksi administratif terhadap 12 pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di sejumlah wilayah, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.

“Perusahaan juga harus lebih hati-hati. Dampak karhutla sangat besar, mulai dari kesehatan masyarakat, terganggunya pendidikan, hingga lumpuhnya transportasi,” katanya.

Data Kemenhut menunjukkan luas karhutla pada Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Sementara pada Maret 2026 diperkirakan bertambah 10.175,48 hektare, dengan sebaran terbesar di Riau (8.858,87 ha) dan Kalimantan Barat (1.134,16 ha).

Read also:  Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Pantauan hotspot melalui sistem SiPongi mencatat 702 titik panas sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 125 titik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan lebih panjang dari rata-rata normal, dengan curah hujan di bawah normal.

BMKG juga mengingatkan potensi perkembangan El Niño pada semester kedua 2026, meski saat ini masih berada pada fase netral hingga lemah.

“Kita akan terus pantau, apa yang terjadi tahun ini kita pantau hingga di tahun 2027 nanti,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.

Read also:  Pemerintah Didesak Segera Terbitkan Regulasi Safeguard AI dan Standar Data Center Hijau

Sejalan dengan peningkatan risiko tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan 16 helikopter water bombing dan 12 helikopter patroli untuk mendukung pengendalian karhutla, dengan jumlah yang dapat disesuaikan berdasarkan eskalasi di lapangan.

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk di Riau dengan dua tahap operasi dan total 24 sortie penyemaian garam. Selain itu, patroli udara terus diintensifkan untuk memantau titik panas dan mempercepat respons pemadaman, terutama di wilayah yang sulit dijangkau tim darat.

Pemerintah menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan sinergi lintas sektor, sebagaimana diamanatkan dalam Inpres Nomor 3 Tahun 2020, dengan melibatkan kementerian/lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

RUU Migas 2026, FSPPB dan Muhammadiyah Desak Pertamina Jadi BUK Migas

Ecobiz.asia — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong agar Pertamina ditetapkan sebagai Badan Usaha Khusus (BUK) Migas dalam...

TOP STORIES

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...