Kemenhut Dorong Golo Mori Jadi Destinasi Wisata Berbasis Alam, Alternatif Taman Nasional Komodo

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan kawasan Golo Mori sebagai destinasi wisata berbasis alam (ecotourism) guna menjadi alternatif kunjungan di sekitar Taman Nasional Komodo.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengatakan, pengembangan destinasi alternatif diperlukan untuk mengurangi tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo.

“Kondisi di lapangan saat ini sangat padat dan berjubel pada titik favorit. Karena itu, kebijakan pembatasan kuota dan pengaturan rute menjadi penting, sekaligus mendorong wisatawan menyebar ke destinasi alternatif,” ujar Rohmat saat meninjau kawasan Golo Mori, Sabtu (25/4/2026).

Read also:  Kebutuhan Listrik Data Center Diproyeksi Tembus 32 GW pada 2032

Ia mengungkapkan, lonjakan kunjungan wisatawan di TN Komodo meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 66 ribu orang pada 2021 menjadi 429 ribu orang pada 2025. Namun, distribusi kunjungan masih terkonsentrasi di titik-titik tertentu seperti Pulau Padar.

Menurutnya, pengembangan Golo Mori yang dikelola oleh ITDC (InJourney Tourism Development Corporation) menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menggeser pola pariwisata dari mass tourism menuju pariwisata minat khusus yang lebih berkelanjutan.

“Pengembangan destinasi ini harus selaras dengan prinsip konservasi, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekologi dan ekonomi,” kata Rohmat.

Read also:  Indonesia Luncurkan SOIFO 2026 di Markas FAO Roma: 95,5 Juta Hektare Hutan Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Iklim

Selain sebagai alternatif destinasi, Golo Mori juga dinilai memiliki potensi wisata berbasis keanekaragaman hayati, termasuk pengamatan burung (birdwatching) dengan keberadaan spesies seperti kakatua jambul kuning dan maleo.

Kemenhut, lanjutnya, juga mendorong pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangan kawasan tersebut agar memberikan manfaat ekonomi langsung sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kemenhut akan terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan pengembangan Golo Mori berjalan sejalan dengan upaya konservasi serta memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di Manggarai Barat.

Read also:  Pemerintah Matangkan Pembentukan BP-GMN, Rancang Mandat hingga Perpres

General Manager ITDC The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, menyatakan pihaknya berkomitmen mengembangkan kawasan tersebut dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem.

“The Golo Mori dirancang sebagai destinasi yang selaras dengan alam, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan, tetapi juga keanekaragaman hayatinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan Golo Mori diharapkan dapat menarik segmen wisata minat khusus sekaligus mengurangi beban kunjungan di kawasan inti TN Komodo. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

RUU Migas 2026, FSPPB dan Muhammadiyah Desak Pertamina Jadi BUK Migas

Ecobiz.asia — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong agar Pertamina ditetapkan sebagai Badan Usaha Khusus (BUK) Migas dalam...

TOP STORIES

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...