Kemenhut Dorong Golo Mori Jadi Destinasi Wisata Berbasis Alam, Alternatif Taman Nasional Komodo

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan kawasan Golo Mori sebagai destinasi wisata berbasis alam (ecotourism) guna menjadi alternatif kunjungan di sekitar Taman Nasional Komodo.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengatakan, pengembangan destinasi alternatif diperlukan untuk mengurangi tekanan kunjungan wisatawan yang terus meningkat di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo.

“Kondisi di lapangan saat ini sangat padat dan berjubel pada titik favorit. Karena itu, kebijakan pembatasan kuota dan pengaturan rute menjadi penting, sekaligus mendorong wisatawan menyebar ke destinasi alternatif,” ujar Rohmat saat meninjau kawasan Golo Mori, Sabtu (25/4/2026).

Read also:  Wamenhut Dorong Replikasi Model Konservasi Berbasis Masyarakat, Desa Penyangga TNGHS Jadi Model

Ia mengungkapkan, lonjakan kunjungan wisatawan di TN Komodo meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 66 ribu orang pada 2021 menjadi 429 ribu orang pada 2025. Namun, distribusi kunjungan masih terkonsentrasi di titik-titik tertentu seperti Pulau Padar.

Menurutnya, pengembangan Golo Mori yang dikelola oleh ITDC (InJourney Tourism Development Corporation) menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menggeser pola pariwisata dari mass tourism menuju pariwisata minat khusus yang lebih berkelanjutan.

“Pengembangan destinasi ini harus selaras dengan prinsip konservasi, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara aspek ekologi dan ekonomi,” kata Rohmat.

Read also:  KLH Tempuh Jalur Pidana Kasus Longsor di Bantargebang, Eks Kadis LH DKI Jadi Tersangka

Selain sebagai alternatif destinasi, Golo Mori juga dinilai memiliki potensi wisata berbasis keanekaragaman hayati, termasuk pengamatan burung (birdwatching) dengan keberadaan spesies seperti kakatua jambul kuning dan maleo.

Kemenhut, lanjutnya, juga mendorong pelibatan masyarakat lokal dalam pengembangan kawasan tersebut agar memberikan manfaat ekonomi langsung sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kemenhut akan terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan pengembangan Golo Mori berjalan sejalan dengan upaya konservasi serta memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di Manggarai Barat.

Read also:  RI–Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Aksi Iklim dan Rehabilitasi Lahan

General Manager ITDC The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, menyatakan pihaknya berkomitmen mengembangkan kawasan tersebut dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem.

“The Golo Mori dirancang sebagai destinasi yang selaras dengan alam, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati keindahan, tetapi juga keanekaragaman hayatinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan Golo Mori diharapkan dapat menarik segmen wisata minat khusus sekaligus mengurangi beban kunjungan di kawasan inti TN Komodo. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

ESDM Panggil Produsen Bobibos, Minta Segera Lakukan Uji Teknis

Ecobiz.asia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) meminta produsen bahan bakar alternatif Bobibos,...

Tren Kenaikan Hotspot Mengkhawatirkan, Riau Siaga Penuh Kebakaran Hutan dan Lahan

Ecobiz.asia – Pemerintah menetapkan status siaga penuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) memasuki musim...

Pembatasan Wisatawan Taman Nasional Komodo, Wamenhut: Kuota Adaptif, Tidak Statis

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan kebijakan pembatasan wisatawan di Taman Nasional Komodo bersifat adaptif dan tidak statis, menyesuaikan dengan daya dukung lingkungan serta...

Indonesia-Korsel Perkuat Pengendalian Karhutla melalui Pengembangan Forest and Land Fire Management Center

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan memperkuat kerja sama pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pengembangan Forest and Land Fire Management...

Kemenhut Terbitkan Permenhut 7/2026, Sederhanakan Pemanfaatan Karbon di Kawasan Konservasi

Ecobiz.asia — Baru seumur jagung, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merevisi Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) tentang pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan konservasi untuk menyederhanakan birokrasi pemanfaatan...

TOP STORIES

ESDM Panggil Produsen Bobibos, Minta Segera Lakukan Uji Teknis

Ecobiz.asia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) meminta produsen bahan bakar alternatif Bobibos,...

Tren Kenaikan Hotspot Mengkhawatirkan, Riau Siaga Penuh Kebakaran Hutan dan Lahan

Ecobiz.asia – Pemerintah menetapkan status siaga penuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) memasuki musim...

Pembatasan Wisatawan Taman Nasional Komodo, Wamenhut: Kuota Adaptif, Tidak Statis

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan kebijakan pembatasan wisatawan di Taman Nasional Komodo bersifat adaptif dan tidak statis, menyesuaikan dengan daya dukung lingkungan serta...

Indonesia Prepares Forestry Carbon Nesting Framework, Riau Selected as Pilot

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing to operationalize a forestry carbon nesting framework to support high-integrity transactions and attract global investment into its carbon market. Director...

Industry Welcomes Indonesia’s New Forestry Carbon Trading Regulation

Ecobiz.asia — Industry players have welcomed Indonesia’s issuance of Forestry Minister Regulation No. 6/2026, saying it provides greater certainty and strengthens the foundation of...