Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, 57 Persen di Kawasan Hutan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan periode Januari hingga Juli 2026, luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) nasional mencapai sekitar 202 ribu hektare.

Dari jumlah tersebut, sekitar 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen berada di luar kawasan hutan (APL).

Adapun provinsi dengan luasan kejadian Karhutla terbesar hingga Juli 2026 antara lain Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau.

Raja Juli mengatakan peningkatan Karhutla pada 2026 tidak terlepas dari kondisi anomali iklim El Nino yang terjadi lebih cepat dari perkiraan dan kini berada pada intensitas sangat kuat.

Hal tersebut disampaikan Raja Juli dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks anomali suhu permukaan laut wilayah Nino3.4 tercatat sebesar +2,19. BMKG juga memprediksi puncak intensitas El Nino 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat.

Read also:  Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

“Kalau kita lihat data BMKG, El Nino tahun ini datang lebih cepat dari perkiraan awal dan saat ini sudah berada pada intensitas sangat kuat. Bahkan kondisi ini memiliki kemiripan dengan El Nino tahun 2015 yang menjadi salah satu tahun dengan kejadian Karhutla terbesar,” ujar Raja Juli.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui kesiapsiagaan, kerja sama, dan respons cepat seluruh pihak. Perubahan iklim juga dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan pola El Nino.

“Climate change is real, ternyata justru lebih cepat satu tahun,” katanya.

Meskipun luas Karhutla pada 2026 meningkat dibandingkan tahun-tahun non-El Nino, pemerintah masih mampu menjaga agar dampaknya tidak seperti kejadian pada 2015.

Hingga periode Januari-Juli 2026, luas Karhutla tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019 dan 2023, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan 2015.

“Angka ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan kita belum selesai. Pengendalian Karhutla bukan hanya tugas Kementerian Kehutanan, melainkan tugas bersama semua pihak,” kata Raja Juli.

Read also:  El Nino Memuncak September, Ini Lima Jurus Kemenhut Tekan Karhutla

Perkuat Deteksi Dini

Pada kesempatan itu, Raja Juli juga menjelaskan bahwa Kementerian Kehutanan terus memperkuat deteksi dini Karhutla melalui pemantauan titik panas sebagai indikator awal potensi kebakaran.

Langkah antisipasi juga dilakukan melalui penerbitan surat edaran kepada pemerintah daerah, penguatan koordinasi nasional, apel kesiapsiagaan, aktivasi posko siaga darurat Karhutla, operasi pemadaman, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia Manggala Agni.

Kemenhut juga membentuk Satgas Supervisi Pengendalian Karhutla, membangun War Room Karhutla, merevitalisasi sarana dan prasarana pengendalian Karhutla, serta melaksanakan operasi pemadaman darat di enam provinsi prioritas, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Operasi tersebut dilakukan bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan pemerintah daerah.

Kolaborasi juga dilakukan bersama BMKG dan BNPB, termasuk melalui penguatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan dukungan data iklim dan pemantauan kondisi lapangan. Kemenhut juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat pencegahan dan penanganan Karhutla.

Read also:  Orangutan Mati Terpapar Asap Karhutla, Paru-paru Alami Kerusakan

Dari sisi anggaran, Kementerian Kehutanan memastikan penguatan pendanaan pengendalian Karhutla melalui berbagai sumber pembiayaan.

Raja Juli menegaskan pemerintah akan terus memperkuat seluruh rangkaian pengendalian Karhutla, mulai dari pencegahan, deteksi dini, respons cepat hingga penegakan hukum terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mengapresiasi langkah pemerintah sekaligus meminta penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak menghadapi ancaman Karhutla.

Alex memperingatkan peningkatan luas kawasan terbakar pada 2026 yang mencapai 366 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut dia, strategi penanganan Karhutla perlu terus dimaksimalkan dan diperbaiki jika diperlukan. Pemerintah juga diminta memastikan upaya pencegahan bergerak lebih cepat dibandingkan peningkatan titik api. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Ecobiz.asia - – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali menjatuhkan sanksi administratif kepada lima perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat setelah ditemukan...

KLH Bangun Ekosistem Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik, Timbulan Diproyeksi Memuncak 2040

Ecobiz.asia — Ledakan penggunaan kendaraan listrik berpotensi menghadirkan persoalan baru: gunungan baterai bekas. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan timbulan limbah baterai kendaraan listrik akan...

Sungai Mengering, Ketergantungan Batu Bara Dinilai Perparah Krisis Iklim di Kalimantan

Ecobiz.asia -- Kekeringan dan pendangkalan sejumlah sungai besar di Kalimantan di tengah fenomena El Niño menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali ketergantungan Indonesia...

KLH/BPLH Perluas Jejaring Internasional Lawan Sindikat Kejahatan Lingkungan

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat penegakan hukum dan memperluas kerja sama internasional untuk membongkar jaringan kejahatan lingkungan yang semakin...

TOP STORIES

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...