Ecobiz.asia — World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong penguatan kualitas data persampahan dan sistem measurement, reporting, and verification (MRV) untuk mempercepat upaya pengurangan emisi metana dari sektor persampahan.
Dorongan tersebut disampaikan WRI Indonesia melalui inisiatif SMART Waste Indonesia saat menyerahkan hasil kajian emisi metana sektor persampahan kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Kajian yang dilakukan sejak 2024 dengan dukungan Global Methane Hub tersebut menekankan pentingnya peningkatan kualitas data, metodologi inventarisasi, serta sistem pemantauan dan pengukuran emisi sebagai dasar kebijakan mitigasi.
Urgensi penguatan sistem tersebut terlihat dari kondisi pengelolaan sampah nasional. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat sekitar 96% dari sekitar 511 tempat pemrosesan akhir (TPA) masih menggunakan sistem open dumping. Indonesia juga menghasilkan sekitar 144.000 ton sampah per hari pada 2025, sementara baru sekitar 25% yang tercatat terkelola.
Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan, terutama karena sampah organik masih mendominasi timbulan sampah.
Survei SMART Waste Indonesia pada lima TPA yang mewakili karakteristik kota kecil hingga metropolitan dan TPA regional di Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, dan Gorontalo menunjukkan 52,02% timbunan sampah merupakan sampah organik, sedangkan 12,83% berupa kertas. Kedua jenis sampah tersebut berpotensi menghasilkan metana ketika terurai dalam kondisi minim oksigen.
Untuk meningkatkan akurasi inventarisasi, SMART Waste Indonesia mengusulkan penerapan metodologi Tier 2 IPCC dengan menggabungkan data komposisi sampah dan data aktivitas lokal dengan faktor emisi spesifik Indonesia.
Upaya tersebut didukung melalui survei komposisi sampah, pemantauan emisi metana menggunakan drone dan sensor di TPA Benowo, Surabaya, serta TPA Galuga, Bogor, dan pengembangan Methane Emission Toolbox (MET) untuk memperkuat kualitas data persampahan nasional dalam SIPSN.
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH/BPLH Haruki Agustina mengatakan pengelolaan sampah memiliki peran penting dalam agenda pembangunan rendah emisi dan penanganan perubahan iklim Indonesia.
“Pemerintah terus mendorong sektor limbah untuk berkontribusi dalam pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, salah satunya melalui penyusunan peta jalan sektor limbah,” ujar Haruki dalam keterangan persnya dikutip Kamis (20/8).
Menurut dia, penguatan metode pengukuran dan sistem MRV emisi metana melalui SMART Waste Indonesia diharapkan dapat menyediakan data yang lebih akurat untuk mendukung perumusan kebijakan dan aksi mitigasi yang sejalan dengan kebijakan iklim nasional.
Sementara itu, Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mengatakan mitigasi metana tidak cukup dilakukan ketika sampah sudah berada di TPA. Upaya harus dimulai dari sumber sampah hingga pengelolaan di TPA.
“Upaya perlu dimulai dari pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengalihan dan pengolahan sampah organik, hingga peningkatan pengelolaan TPA dan pemanfaatan gas metana,” katanya.
WRI Indonesia, lanjutnya, mendorong penguatan kapasitas pemantauan, verifikasi, dan pelaporan serta peningkatan kualitas data persampahan untuk mendukung aksi mitigasi metana yang lebih tepat dan efektif.
Penguatan sistem MRV juga perlu berjalan bersamaan dengan perubahan paradigma pengelolaan sampah dari pendekatan kumpul–angkut–buang menuju pencegahan dan pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, peningkatan daur ulang dan pengolahan sampah organik, serta pengurangan sampah yang masuk ke TPA.
Regional Lead Asia Global Methane Hub Manjyot Ahluwalia menilai Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara Global South dalam penanganan emisi metana sektor persampahan melalui sistem monitoring dan pelaporan yang transparan serta pengelolaan sampah berbasis data.
Dengan sistem monitoring yang lebih terintegrasi, pemerintah dapat mengidentifikasi sumber emisi dan wilayah prioritas, menentukan intervensi mitigasi yang paling efektif, serta mengarahkan investasi pada fasilitas pengelolaan sampah yang memberikan manfaat pengurangan emisi terbesar.
Penguatan MRV dan pemanfaatan data tersebut diharapkan turut mendukung implementasi agenda Zero Waste Zero Emission (ZWZE) secara lebih terukur dan berbasis bukti, sekaligus memastikan capaian pengurangan emisi metana dapat dipantau, dilaporkan, dan diverifikasi. ***




