Industri Mulai Lirik PLTS, Biaya dan dan Regulasi Jadi Batu Sandungan

MORE ARTICLES


Ecobiz.asia — Adopsi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar photovoltaic (PV) di sektor industri Indonesia diperkirakan terus tumbuh dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Namun, tingginya biaya investasi awal, keandalan sistem, dan ketidakpastian regulasi masih menjadi hambatan utama.

Temuan tersebut merupakan hasil survei Industrial Solar PV Adoption 2026: Opportunities, Barriers & Outlook yang dilakukan Petromindo Survey pada 24 Agustus–13 September 2026. Hasil survei dipaparkan peneliti Petromindo Survey Muna Suhailah.

Survei melibatkan profesional dari sektor pertambangan, minyak dan gas, ketenagalistrikan, manufaktur, serta industri pengguna energi intensif lainnya.

Hasil survei menunjukkan 24,75% perusahaan responden telah mengoperasikan PLTS, sementara 32,18% masih mengevaluasi rencana adopsi dan 43,07% belum melakukan evaluasi penggunaan PLTS.

Di antara perusahaan yang telah menggunakan PLTS, sebagian besar masih menggunakan sistem berkapasitas relatif kecil. Lebih dari seperempat responden memiliki PLTS dengan kapasitas di bawah 100 kilowatt-peak (kWp), sedangkan hanya 7,7% yang memiliki kapasitas lebih dari 5 megawatt-peak (MWp).

Read also:  Sampah Mulai Dibidik Jadi Sumber Energi dan Bahan Baku Industri

Kontribusi PLTS terhadap kebutuhan energi perusahaan juga masih terbatas. Sebanyak 32,5% pengguna PLTS mengatakan sistem tersebut memenuhi kurang dari 5% kebutuhan energi perusahaan.

Emisi dan biaya jadi pendorong
Pengurangan emisi karbon menjadi alasan utama perusahaan mengadopsi PLTS, disebut oleh 50% responden. Faktor berikutnya adalah dukungan terhadap target environmental, social and governance (ESG) dan net zero sebesar 38%, serta pengurangan biaya listrik sebesar 32%.

Pengguna PLTS juga menyebut penurunan biaya energi dan emisi karbon sebagai manfaat utama. Lebih dari 40% responden mengaku peningkatan citra perusahaan menjadi manfaat lain dari penggunaan PLTS.

Read also:  PHE Dorong Asri Basin Jadi Hub Penyimpanan Karbon Regional

Secara umum, tingkat kepuasan pengguna terhadap kinerja PLTS cukup tinggi dengan skor rata-rata 4,19 dari 5.

Namun, ketergantungan terhadap kondisi cuaca menjadi tantangan yang paling banyak disebut pengguna, yakni 50% responden. Hambatan berikutnya adalah tingginya investasi awal yang disebut 46% responden.

Bagi perusahaan yang belum menggunakan PLTS, biaya investasi awal menjadi hambatan terbesar, dengan 43,4% responden menyebut faktor tersebut. Kekhawatiran terhadap kinerja dan keandalan sistem berada di urutan berikutnya dengan 31,6%.

Rencana adopsi masih terbatas
Minat perusahaan yang belum menggunakan PLTS juga masih relatif hati-hati. Hanya 42,8% responden yang menyatakan berencana mengadopsi PLTS, sedangkan 57,2% belum memiliki rencana pada tahap ini.

Sementara itu, dari perusahaan yang sedang mengevaluasi PLTS, sebanyak 33,9% memperkirakan implementasi dapat dilakukan dalam jangka menengah, yakni tiga hingga lima tahun.

Read also:  PGN Perluas Pasar Gas Bumi, Andalkan CNG hingga Pasokan Baru

Bagi perusahaan yang belum mengevaluasi PLTS, peningkatan efisiensi dan keandalan teknologi menjadi faktor yang paling berpotensi mendorong minat adopsi. Faktor tersebut disebut 56,3% responden, disusul potensi penghematan biaya energi sebesar 51,7%.

Meski menghadapi berbagai hambatan, mayoritas responden tetap melihat pasar PLTS industri akan berkembang. Pertumbuhan moderat sebesar 20–50% dalam tiga hingga lima tahun ke depan menjadi proyeksi yang paling banyak dipilih responden.

Untuk mempercepat adopsi, sebanyak 47% responden menilai diperlukan regulasi yang lebih jelas dan konsisten. Sementara itu, 44,1% meminta penurunan biaya teknologi PLTS dan baterai.

Survei tersebut menunjukkan pertumbuhan PLTS di sektor industri akan sangat bergantung pada perbaikan keekonomian proyek, peningkatan kinerja teknologi, serta kepastian regulasi. ***

Untuk informasi detil hasil survey, silakan kontak Petromindo Survey.

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

APP Group Gabung Inisiatif RE100, Bidik 100% Listrik Terbarukan

Ecobiz.asia — APP Group menjadi perusahaan Indonesia pertama yang bergabung dengan RE100, inisiatif global yang mendorong perusahaan menggunakan 100% listrik terbarukan dalam kegiatan operasionalnya...

PHR Raih Upstream Energy Transformation Award, Perkuat Operasi Migas dengan Digital Twin dan AI

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih Upstream Energy Transformation Award dalam Dataiku Summit 2026 atas penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI)...

Salurkan Dana Bergulir Skala Mikro Berkelanjutan, BPDLH Gandeng JB Cocoa dan Rainforest Alliance

Ecobiz.asia — Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) memperluas pembiayaan skala mikro bagi usaha masyarakat sekitar hutan dengan menggandeng PT Jebe Trading Indonesia (JB...

Jadi Offtaker dan Transporter, PGN Siapkan Infrastruktur Gas Biomethane dari Limbah Sawit

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menyiapkan infrastruktur gas untuk menyalurkan biomethane yang diproduksi dari limbah pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan...

Manfaatkan Energi Air Dunia, Low Carbon Aluminium INALUM Bidik Pasar Global

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperkuat pemasaran aluminium rendah karbon dengan meluncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium (Green Aluminium) kepada pelanggan...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...