Bupati Trenggalek Ubah Sampah Jadi Bernilai Lewat Konsep Waste to Coin, Seperti Apa?

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah dari beban pemerintah menjadi aset ekonomi melalui konsep Waste to Coin. Konsep ini mengintegrasikan pemilahan sampah dari sumber, pemberian insentif kepada masyarakat, pemanfaatan teknologi, hingga peluang penciptaan nilai dari pengurangan emisi.

Arifin mengatakan pendekatan tersebut dikembangkan untuk membangun ekosistem ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah perkotaan dengan melibatkan masyarakat sejak dari sumbernya.

“Daripada melihat sampah sebagai masalah, kami memilih melihat sampah sebagai sumber daya,” kata Arifin dalam sesi Building a Circular Economy Ecosystem for Municipal Waste Management pada Electricity Connect 2026 di Tangerang, Kamis (24/9/2026).

Read also:  Data Karhutla Terbaru, Kemenhut Ungkap Hotspot High Confidence Turun

Salah satu penerapannya dilakukan melalui program Sangmusampa yang mendorong pelajar memilah sampah dengan insentif berupa koin. Setiap koin memiliki nilai rupiah yang merepresentasikan nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan dan dikelola.

Menurut Arifin, nilai ekonomi tersebut tidak berhenti pada material sampah. Ketika pengelolaan sampah menghasilkan pengurangan emisi, aktivitas tersebut juga berpotensi menghasilkan nilai dari karbon.

Arifin mengatakan berdasarkan baseline yang dimiliki Trenggalek, sektor sampah berkontribusi sekitar 60 persen terhadap emisi gas rumah kaca daerah. Karena itu, perbaikan pengelolaan sampah dinilai dapat membuka peluang untuk menghitung pengurangan emisi sekaligus mengembangkan nilai karbon dari aktivitas tersebut.

Read also:  Sungai Mengering, Ketergantungan Batu Bara Dinilai Perparah Krisis Iklim di Kalimantan

Ekosistem Waste to Coin juga memanfaatkan teknologi Web3 dan blockchain untuk mencatat aktivitas pengelolaan sampah. Teknologi tersebut digunakan untuk membangun sistem pencatatan yang transparan dan mencegah perubahan data secara sepihak.

Setelah dipilah dari tingkat sumber, sampah kemudian diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai karakteristiknya. Material yang memiliki nilai energi dapat diproses menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), sedangkan sampah plastik diarahkan untuk didaur ulang.

Sementara itu, sampah elektronik diarahkan pada pemulihan material yang memiliki nilai ekonomi, termasuk mineral seperti emas.

Read also:  Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Arifin mengatakan pendekatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga membangun aktivitas ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Ke depan, ia berharap Waste to Coin dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang lebih besar sehingga koin yang dihasilkan memiliki akses ke pasar yang lebih luas.

Konsep tersebut juga dinilai tidak terbatas untuk diterapkan di Trenggalek. Arifin membuka peluang kolaborasi dengan daerah lain untuk mengembangkan pengelolaan sampah berbasis insentif dan ekonomi sirkular. *** Jadita Banjar Nahor

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kebutuhan Listrik Data Center Diproyeksi Tembus 32 GW pada 2032

Ecobiz.asia — Kebutuhan listrik industri data center di Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 32 gigawatt (GW) pada 2032, atau meningkat lebih dari lima kali lipat...

Menhut Raja Juli Jelaskan Beda BRGM dengan Badan Pengelola Gambut Bentukan Prabowo

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Berbeda dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang sebelumnya berada...

Perkuat Pencegahan Karhutla Prabowo Bentuk Badan Pengelola Gambut, Seperti BRGM?

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto memutuskan membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) untuk memperkuat pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove sekaligus mencegah kebakaran...

Di Sidang PBB, Menteri Jumhur Tegaskan Pentingnya Aksi Iklim Berkeadilan

Ecobiz.asia — Indonesia menegaskan aksi iklim nasional tidak hanya diarahkan untuk memenuhi target global, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan ekonomi, menciptakan lapangan kerja hijau,...

Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

Ecobiz.asia — Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi sumber listrik bersih yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri berintensitas...

TOP STORIES

PHKT Kenalkan Praktik Keselamatan Hulu Migas kepada Mahasiswa ITK, Bahas Pengendalian Bahaya hingga Kesiapan Operasi

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) memperkuat pengenalan praktik keselamatan industri hulu migas kepada mahasiswa melalui kunjungan industri mahasiswa Program Studi Rekayasa...

Indonesia’s Industrial Solar PV Adoption Set to Grow, but Costs and Regulation Remain Key Barriers

Ecobiz.asia – Solar photovoltaic (PV) adoption among Indonesia’s industrial companies is expected to continue growing, although high upfront costs, system reliability and regulatory uncertainty...

Indonesia Calls for Fair Climate Action, Finance at UN Climate Dialogue

Ecobiz.asia – Indonesia has called for climate action that not only meets global targets but also strengthens economic resilience, creates green jobs and protects...

CTX Launches Corporate One With Flat Fees for Institutional Carbon Trading

Ecobiz.asia – Carbon Trade eXchange (CTX) has launched Corporate One, an invitation-only account designed for large international carbon project developers, corporate offtake brokers, institutional...

Sampah Mulai Dibidik Jadi Sumber Energi dan Bahan Baku Industri

Ecobiz.asia — Pengelolaan sampah mulai bergeser dari sekadar persoalan lingkungan menjadi bagian dari peluang transisi energi dan pengembangan sumber daya baru. Pertamina New &...