Ecobiz.asia — Pengelolaan sampah mulai bergeser dari sekadar persoalan lingkungan menjadi bagian dari peluang transisi energi dan pengembangan sumber daya baru. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) melihat sampah dapat diolah menjadi listrik, bahan bakar, biomassa hingga bahan baku produk bernilai tambah.
Pendekatan tersebut dibahas dalam diskusi Waste Not, Watt Not: Biomass, Waste to Energy, and the Role of Domestic Supply in Thermal Transition pada Electricity Connect Asia 2026 di Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Director of Projects & Operations Pertamina NRE Norman Ginting mengatakan pemanfaatan sampah tidak harus berhenti pada pembangkitan listrik. Berbagai teknologi dapat digunakan sesuai karakteristik sampah dan kebutuhan daerah, mulai dari waste to energy (WTE), biomassa, refuse derived fuel (RDF), solid recovered fuel (SRF), hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar.
“Sampah adalah sesuatu yang sangat berguna. Menurut saya, ke depannya sampah bahkan bisa menjadi seperti emas,” kata Norman.
Menurut Norman, sampah juga berpotensi diubah menjadi syngas yang kemudian dapat diproses menjadi etanol maupun produk cair lainnya. Dengan pendekatan tersebut, nilai ekonomi sampah tidak hanya berasal dari listrik yang dihasilkan.
Untuk kota kecil dan menengah dengan timbulan sampah sekitar 300–500 ton per hari, pendekatan decentralized waste management dapat menjadi salah satu pilihan. Sementara proyek WTE berskala besar membutuhkan pasokan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Namun, pengembangan fasilitas WTE tidak cukup hanya mengandalkan pilihan teknologi. Senior Vice President Corporate Finance PT Daya Energi Bersih Nusantara Denti Irfiano Irman mengatakan kelayakan komersial dan struktur proyek harus dipastikan sejak awal sebelum menentukan mitra.
“Kita perlu memastikan bahwa proyek tersebut layak secara komersial dan memiliki struktur yang tepat sebelum menentukan mitra,” ujar Denti.
Menurut Denti, tata kelola dan kemampuan pelaksanaan juga menjadi faktor penting agar fasilitas dapat dibangun dan dioperasikan secara efektif.
Dari sisi pasokan, Direktur Corporate Business Development PT Energia Prima Nusantara Achmad Rizal Roesindrawan mengatakan pengembang perlu memahami kondisi sampah sebelum menentukan desain dan teknologi fasilitas.
“Pertama, kita perlu memahami kualitas sampah, volumenya, dan logistiknya,” kata Achmad.
Fasilitas WTE membutuhkan pasokan sampah dengan volume dan kualitas yang konsisten. Karena itu, pemerintah daerah berperan dalam memastikan sistem pengumpulan dan pengangkutan, termasuk ketersediaan armada dan dukungan operasional.
Kapasitas setiap daerah dalam memasok sampah juga berbeda. Keterbatasan armada, bahan bakar, dan anggaran operasional dapat memengaruhi kontinuitas pasokan ke fasilitas WTE.
Sementara itu, Director of Nuclear and Digital AtkinsRéalis Sam Stephens mengatakan pemilihan teknologi harus didasarkan pada karakteristik dan komposisi sampah yang tersedia.
“Kita harus memahami karakteristik sampah terlebih dahulu, kemudian menentukan bagian mana yang dapat dimanfaatkan sebagai nilai dan mana yang digunakan untuk menghasilkan energi,” ujar Sam.
Menurut Sam, teknologi seperti computer vision, kecerdasan buatan, robot, dan otomasi dapat digunakan untuk mengenali serta memilah material tertentu dari aliran sampah.
Pendekatan tersebut memperluas konsep waste to energy menjadi waste to value. Sampah tidak hanya diarahkan menjadi listrik, tetapi juga dapat menghasilkan material, bahan bakar, biochar, dan produk lain yang masih memiliki nilai guna. *** Jadita Banjar Nahor





