Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemodelan berbasis remote sensing mulai memberikan gambaran baru mengenai cadangan karbon ekosistem lamun Indonesia. Peneliti University of Queensland Muhammad Hafizt memperkirakan above-ground carbon lamun Indonesia mencapai 189,6 kiloton karbon pada 2024, sementara estimasi total karbon yang mencakup karbon tanah dan bagian bawah tumbuhan mencapai sekitar 25 juta ton karbon.

Hafizt menyampaikan estimasi tersebut dalam Webinar Seagrass Voice 20, Jumat (25/9/2026), yang mengangkat topik “Restorasi Lamun: Metode, Tantangan, dan Potensi Implementasi di Indonesia” serta pemaparan mengenai perubahan karbon lamun secara nasional di Indonesia.

Menurut Hafizt, estimasi karbon tersebut diperoleh melalui pemodelan remote sensing dengan pendekatan pixel by pixel. Untuk periode 2017–2024, estimasi above-ground carbon lamun Indonesia berada pada kisaran 150–190 kiloton karbon, dengan angka 189,6 kiloton karbon pada 2024.

Hafizt mengatakan angka tersebut baru mencakup karbon yang berada di bagian atas tumbuhan. Untuk memperkirakan total karbon, termasuk soil carbon dan below-ground carbon, ia menggunakan pendekatan rasio berdasarkan sejumlah referensi dan memperoleh estimasi sekitar 25 juta ton karbon.

Read also:  BP BUMN Arahkan Perhutani Kembangkan Bisnis Karbon, Incar Pendapatan Rp1-2 Triliun

“Setiap piksel memiliki nilai estimasi karbon sendiri,” kata Hafizt.

Menurut dia, model tersebut menggunakan sejumlah parameter, antara lain keberadaan lamun, morfologi daun, persentase tutupan, biomassa, serta carbon index yang mempertimbangkan perbedaan kandungan karbon antarspesies.

Hafizt mengatakan persentase tutupan lamun saja belum cukup untuk menggambarkan variasi cadangan karbon. Perbedaan kondisi padang lamun dan komposisi spesies menyebabkan kandungan karbon pada setiap lokasi dapat berbeda.

“Kondisi seagrass dapat berupa perbedaan persen kerapatan, perbedaan komposisi, spesies berbeda berkaitan dengan perbedaan organic carbon content. Nah, sehingga pendekatannya itu adalah menghitung, mengestimasi pixel by pixel,” ujarnya.

Selain memetakan karbon, Hafizt mengembangkan Seagrass Alert berbasis citra Sentinel untuk mendeteksi perubahan kondisi lamun dari waktu ke waktu.

Sistem tersebut dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang mengalami penurunan tutupan atau kehilangan lamun sehingga lokasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk restorasi dapat dipersempit.

Read also:  NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

“Kalau di musim yang sama terus turun dan tidak naik lagi, berarti seagrass-nya lost di area itu,” kata Hafizt.

Meski demikian, Hafizt menekankan hasil pemodelan tersebut masih memiliki keterbatasan sehingga perlu divalidasi dengan data lapangan.

Pemetaan Bantu Tentukan Lokasi Restorasi

Peneliti Muda Pusat Riset Ekologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andri Irawan mengatakan pemetaan tersebut dapat membantu menentukan lokasi yang perlu diperiksa untuk kegiatan restorasi lamun.

Menurut Andri, tidak seluruh wilayah Indonesia memiliki data monitoring lamun secara rutin sehingga perubahan kondisi padang lamun belum selalu teridentifikasi.

“Dengan datanya Mas Hafiz ini, kita bisa ada gambaran untuk lokasi-lokasi yang tidak ada data monitoringnya,” ujar Andri.

Menurut dia, hasil pemetaan juga dapat mempersempit lokasi yang perlu diperiksa sebelum menentukan metode restorasi. Namun, teknik restorasi tetap harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi, termasuk kondisi substrat dan perairan.

Read also:  Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Andri mengatakan material restorasi dapat berupa biji, semai, maupun potongan rimpang. Teknik penanaman juga dapat berbeda bergantung pada kondisi lokasi.

Tingkat keberhasilan restorasi, kata dia, masih menjadi tantangan. Andri menyebut tingkat survival restorasi lamun secara global berada di kisaran 30–35 persen.

“Tidak semua teknik bisa diterapkan dengan cara yang sama karena karakteristik setiap lokasi berbeda,” ujarnya.

Selain metode restorasi, ketersediaan material tanam menjadi persoalan lain. Menurut Andri, pengembangan nursery atau pembibitan lamun perlu diperkuat karena material tanam saat ini masih dapat berasal dari padang lamun yang sehat.

Andri juga menekankan pentingnya monitoring jangka panjang untuk mengukur keberhasilan restorasi. Menurut dia, keberhasilan program tidak cukup dinilai dalam waktu singkat dan membutuhkan pemantauan lebih dari tiga tahun. *** Jadita Banjar Nahor

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...

Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut,...

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...

Isometric Perluas Pasar ke Kredit Karbon Pencegahan Deforestasi, Siapkan Protokol Baru

Ecobiz.asia – Lembaga sertifikasi kredit karbon Isometric memperluas cakupan ke proyek pencegahan deforestasi dengan menyiapkan protokol baru yang ditujukan untuk memperkuat kredibilitas kredit karbon...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...