IEEFA: Konversi PLTD ke PLTS Bisa Hemat Hingga US$4 Miliar per Tahun

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berpotensi menghemat biaya listrik nasional hingga US$4 miliar per tahun.

Dalam kajian terbarunya, IEEFA menyebut rencana pengembangan PLTS 100 gigawatt (GW) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto—dengan tahap awal konversi PLTD sebesar 13 GW—dapat menekan beban fiskal sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.

Ketergantungan pada PLTD selama ini dinilai membebani keuangan negara akibat tingginya biaya impor bahan bakar dan volatilitas harga minyak global. Biaya pembangkitan listrik dari PLTD tercatat melonjak dari Rp4.746/kWh pada 2020 menjadi Rp8.748/kWh pada 2023.

Read also:  Beralih dari Energi Fosil, Hashim Ungkap Strategi Indonesia Kembangkan PLTS, Nuklir hingga Biofuel

Sebaliknya, kombinasi PLTS dan battery energy storage system (BESS) mampu menghasilkan listrik dengan biaya jauh lebih rendah, yakni sekitar US$0,08–0,20 per kWh, dibandingkan PLTD yang berada di kisaran US$0,29–0,65 per kWh.

Research & Engagement Lead IEEFA, Mutya Yustika, mengatakan pemanfaatan energi surya dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar sekaligus menyederhanakan tantangan logistik di wilayah terpencil.

Read also:  Dunia Lirik Produk Hijau, Transisi Energi Jadi Kunci Daya Saing Ekspor Indonesia

“Indonesia dapat memanfaatkan sinar matahari yang melimpah, menyimpannya secara lokal, dan mendistribusikannya secara andal,” ujarnya, Rabu (2/4/2026).

IEEFA memperkirakan penghematan hingga US$2 miliar berasal dari penurunan impor solar, sementara efisiensi subsidi listrik mencapai US$1,5–2 miliar per tahun atau sekitar 15–18% dari total subsidi dan kompensasi listrik nasional.

Namun demikian, implementasi program ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama ketidakpastian regulasi dan skema tarif listrik untuk proyek PLTS dan BESS. Tanpa mekanisme tarif yang transparan dan bankable, proses perjanjian jual beli listrik (PPA) berpotensi terhambat dan mengurangi minat investor.

Read also:  Pemerintah Didesak Segera Terbitkan Regulasi Safeguard AI dan Standar Data Center Hijau

Selain itu, kebutuhan investasi awal diperkirakan mencapai US$15–19,5 miliar, ditambah tekanan biaya pembiayaan akibat kenaikan suku bunga global serta kendala pengadaan lahan di berbagai daerah.

IEEFA menekankan, jika hambatan tersebut dapat diatasi, konversi PLTD ke PLTS tidak hanya menurunkan biaya listrik, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju sistem energi bersih di Indonesia ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

RUU Migas 2026, FSPPB dan Muhammadiyah Desak Pertamina Jadi BUK Migas

Ecobiz.asia — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong agar Pertamina ditetapkan sebagai Badan Usaha Khusus (BUK) Migas dalam...

TOP STORIES

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...