Hotspot Kalbar Turun Tajam hingga 71%, Kemenhut Terus Perkuat Pengendalian Karhutla

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam sehari, dari 134 menjadi 39 titik high confidence. Meski demikian, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tetap memperkuat pengendalian di enam provinsi prioritas, terutama Kalimantan Tengah yang kini mencatat hotspot terbanyak.

Berdasarkan data SiPongi Kemenhut dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Kamis (10/9/2026) pukul 21.05 WIB, terdapat 569 hotspot high confidence secara nasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan 395 titik pada sehari sebelumnya.

Dari enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat hotspot terbanyak dengan 96 titik, diikuti Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan sembilan titik, dan Jambi dua titik.

Penurunan paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat yang hotspotnya berkurang 95 titik dalam sehari. Sebaliknya, Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih karena mencatat konsentrasi hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan perubahan jumlah hotspot masih sangat dinamis sehingga penurunan di satu wilayah tidak serta-merta berarti risiko karhutla telah berakhir.

Read also:  Kemenhut Laporkan Penurunan Hotspot Nasional 56 Persen, Pastikan Pengendalian Karhutla Diperkuat

“Kami terus memperkuat patroli, groundcheck, pemadaman dan dukungan operasi udara di wilayah prioritas, dengan perkembangan hotspot dan kondisi di lapangan sebagai dasar penentuan operasi,” kata Ristianto dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026) pagi.

Kemenhut menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak secara otomatis menunjukkan kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Pemerintah juga menyiagakan 53 armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 armada untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Read also:  Terjebak Asap Karhutla, Orangutan Lemah Diselamatkan dari Kebun Sawit

Pengerahan armada disesuaikan dengan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, dan faktor meteorologis. OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan.

Pada ekosistem gambut, pembasahan dan pendinginan menjadi perhatian khusus karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat.

Selain hotspot dan kondisi api, pemerintah memantau kualitas udara sebagai bagian dari pengendalian dampak karhutla. Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan sebagian area terpantau dalam kategori berbahaya.

Asap juga masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas. Pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 10 September pukul 10.00 WIB menunjukkan jarak pandang di Pontianak sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap, Palangka Raya sekitar tiga kilometer berasap, dan Jambi sekitar dua kilometer berasap.

Read also:  Gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo, Badan Geologi Ingatkan Warga Patuhi Jalur Evakuasi

Sementara itu, jarak pandang di Pekanbaru sekitar enam kilometer dengan kondisi cerah berawan dan Palembang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan. Di Banjarmasin, pengamatan pukul 11.00 WITA menunjukkan jarak pandang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Kondisi Pontianak dan Palangka Raya masih menjadi perhatian karena jarak pandang terbatas disertai asap. Namun, kondisi tersebut dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan.

Kemenhut bersama para pihak terus mengintegrasikan data hotspot, kondisi kebakaran, kualitas udara, cuaca, curah hujan, sebaran asap, dan jarak pandang untuk menentukan prioritas operasi berikutnya.

Masyarakat diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...

Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah setelah pemantauan terbaru menunjukkan kedua provinsi...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Ecobiz.asia - – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali menjatuhkan sanksi administratif kepada lima perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat setelah ditemukan...

KLH Bangun Ekosistem Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik, Timbulan Diproyeksi Memuncak 2040

Ecobiz.asia — Ledakan penggunaan kendaraan listrik berpotensi menghadirkan persoalan baru: gunungan baterai bekas. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan timbulan limbah baterai kendaraan listrik akan...

TOP STORIES

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...

Metalogika Plans 20 MW Thin-Film Solar Factory in Indonesia With Midsummer Technology

Ecobiz.asia — Indonesian technology company PT Metalogika Rekayasa Sistem plans to establish a thin-film flexible solar panel manufacturing facility in Indonesia with an initial...

Chandra Asri Raises S&P Global CSA Score to 66, Citing Stronger ESG Transparency

Ecobiz.asia - PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) raised its score in the 2026 S&P Global Corporate Sustainability Assessment (CSA) to 66...

ESGIN, KPCI dan KKDC Bangun Ekosistem Green Economy

Ecobiz.asia – PT ESGIN Global Partners (ESGIN), Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI), dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengembangkan...

Ascenso Bidik Industri Tambang Indonesia dengan Ban Radial OTR hingga 49 Inci

Eciobiz.asia -- Produsen ban asal India, Ascenso Tyres, memperluas bisnisnya ke sektor pertambangan Indonesia melalui peluncuran portofolio All-Steel Radial Off-The-Road (R-OTR), termasuk ban berukuran...