Wamen LH: Perdagangan Karbon Bisa Jadi Insentif Dekarbonisasi Industri Nikel

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan mekanisme perdagangan karbon dapat menjadi insentif bagi industri nikel untuk mempercepat dekarbonisasi.

Diaz mengatakan perusahaan yang mampu menekan emisi di bawah batas yang ditetapkan pemerintah berpeluang memperoleh manfaat ekonomi dengan menjual kelebihan unit karbon, sementara perusahaan yang melampaui batas emisi harus membeli karbon dari pasar.

Carbon trading bisa menjadi cara untuk memberikan insentif kepada industri nikel untuk melakukan dekarbonisasi. Kalau emisinya ternyata kelebihan, dia harus beli karbon dari pasar, tetapi kalau kurang dari batas emisi, ini bisa memberikan insentif untuk sebuah perusahaan untuk menjual karbon,” kata Diaz dalam Konferensi Nasional “Memperkuat Daya Saing Industri Nikel melalui ESG, Dekarbonisasi, dan Uji Tuntas Bisnis dan HAM” di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Read also:  Perusahaan Global Kejar Net Zero, Pasar Kredit Karbon Indonesia Terbuka Luas

Menurut Diaz, pemerintah telah menerapkan Emissions Trading System (ETS) dengan mekanisme cap-and-trade untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi polusi. Saat ini, penerapan ETS masih mencakup pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan ke depan akan diperluas ke sektor industri lainnya, termasuk nikel.

“Kita dorong sistem ETS. Ini sudah berlaku di PLTU batu bara, tetapi belum di PLTU biomassa, minyak, PLTP geothermal, industri semen, nikel, dan lain sebagainya. Ini yang perlu kita dorong bersama supaya ada dekarbonisasi,” ujarnya.

Read also:  Sepuluh Provinsi Baru Terima Dana Karbon GCF, Total Komitmen Capai Rp761 Miliar

Dalam mekanisme cap-and-trade, pemerintah menetapkan batas emisi, kemudian perusahaan dapat melakukan perdagangan unit karbon sesuai dengan kebutuhan dan capaian emisinya.

Diaz mengatakan KLH/BPLH telah menyiapkan sistem registri dan kebijakan yang diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan perdagangan karbon.

“Dari sisi KLH, untuk perdagangan karbon ada sistem namanya SRUK (Sistem Registri Unit Karbon). Sistem perdagangan karbon sudah kita launching. Secara sistem kita sudah siap, secara peraturan kita sudah siap,” katanya.

Read also:  Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Diaz berharap kesiapan sistem dan kebijakan perdagangan karbon dapat mendorong percepatan dekarbonisasi industri nikel. Menurut dia, proses pengolahan nikel laterit menghasilkan emisi karbon dioksida yang tinggi sehingga upaya penurunan emisi menjadi penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Penerapan mekanisme perdagangan karbon di sektor tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pengendalian emisi, tetapi juga menciptakan insentif ekonomi bagi perusahaan yang berhasil meningkatkan kinerja dekarbonisasinya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

TÜV SÜD Bangun Pusat Dekarbonisasi di Singapura, Siap Investasi US$24 Juta

Ecobiz.asia — Perusahaan pengujian, inspeksi, dan sertifikasi global TÜV SÜD menginvestasikan lebih dari US$24 juta untuk membangun Global Decarbonisation Centre of Excellence (CoE) di...

Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Ecobiz.asia - Provinsi Riau mulai memasuki tahap baru pengembangan kredit karbon hutan berbasis yurisdiksi setelah menyelesaikan konsep Green for Riau dan memperoleh dukungan pemerintah...

Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ecobiz.asia — Perkembangan pasar karbon Indonesia mulai menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang memahami tidak hanya isu perubahan iklim, tetapi juga mekanisme...

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

TOP STORIES

TÜV SÜD Bangun Pusat Dekarbonisasi di Singapura, Siap Investasi US$24 Juta

Ecobiz.asia — Perusahaan pengujian, inspeksi, dan sertifikasi global TÜV SÜD menginvestasikan lebih dari US$24 juta untuk membangun Global Decarbonisation Centre of Excellence (CoE) di...

TÜV SÜD Invests US$24 Million in Singapore Decarbonisation Centre, Targets ASEAN Carbon Markets

Ecobiz.asia — Global testing, inspection and certification company TÜV SÜD has opened a Global Decarbonisation Centre of Excellence (CoE) in Singapore, aiming to strengthen...

PGN Solution, Nusantara Regas Perkuat Kesiapsiagaan Darurat Pipa Bawah Laut

Ecobiz.asia -- PT Nusantara Regas (NR) dan PT PGAS Solution (PGN Solution) memperkuat ketahanan infrastruktur gas melalui kerja sama kesiapsiagaan penanganan keadaan darurat pada...

MedcoEnergi Catat Kinerja Produksi 1H26 Naik 19%, Pertahankan Panduan 2026

Ecobiz.asia -- PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) mencatat kinerja operasional yang kuat pada semester pertama 2026 dengan produksi minyak dan gas mencapai 170...

Riau Moves to Register 2.6 Million-Hectare Forest Carbon Program Under ART-TREES

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Forestry has backed Riau province’s plan to develop a jurisdictional forest carbon program under the ART-TREES standard, allowing the...