Didominasi Sektor Energi, 14 Proyek CDM Indonesia Transisi ke Pasar Karbon Paris Agreement

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Sebanyak 14 proyek Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism/CDM) di Indonesia akan bertransformasi ke mekanisme perdagangan karbon di bawah Paris Agreement, Pasal 6.4.

Langkah ini menandai transisi penting bagi Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar karbon global, terutama menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil, November mendatang.

Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudijanto, menjelaskan bahwa CDM yang merupakan warisan dari Protokol Kyoto masih menyisakan proyek-proyek aktif hingga 2023. Tercatat ada 14 proyek yang dinyatakan memenuhi persyaratan UNFCCC.

Read also:  Negara-Negara Asia-Pasifik Perkuat Kolaborasi untuk Tata Kelola Hutan dan Implementasi REDD+

“Total reduksi emisi dari 14 proyek ini mencapai sekitar 4,8 juta ton CO₂ ekuivalen,” kata Ary disela Rapat Koordinasi Transisi CDM ke Article 6.4 Paris Agreement, di Jakarta, Jumat (12/9/2025).

“Saat ini kami kumpulkan semua pemilik proyek. Dari hasil pertemuan, mereka sepakat untuk melanjutkan proses transisi ke mekanisme Paris Agreement.”

Sebagian besar proyek yang masuk daftar tersebut berasal dari sektor energi, terutama pembangkit listrik berbasis energi terbarukan dan efisiensi energi.

Ary mendorong para pengembang proyek CDM tersebut untuk segera menyelesaikan proses administrasi transisi mengingat batas persetujuan sesuai UNFCCC adalah pada 31 Desember 2025.

Read also:  Indonesia Plans Special Unit to Tackle Methane, Black Carbon Emissions by 2027

Transformasi ini dinilai penting karena status compliant market di bawah Pasal 6.4 membuat kredit karbon yang dihasilkan lebih kredibel, sehingga bisa langsung diperdagangkan antarnegara tanpa melalui lembaga standar internasional seperti Gold Standard atau Verra.

Menurut Ary, capaian ini akan menjadi salah satu agenda yang ditonjolkan Indonesia di COP30 bahwa mobilisasi pendanaan iklim melalui nilai ekonomi karbon dapat dilakukan.

“Pendanaan iklim masih menjadi isu besar. UNFCCC menargetkan negara maju menyediakan USD 1,3 triliun per tahun untuk negara berkembang, tapi realisasinya jauh dari harapan. Indonesia ingin menunjukkan bahwa ada alternatif pendanaan melalui mobilisasi nilai ekonomi karbon,” jelasnya.

Read also:  Karbon Biru Indonesia Berpeluang Masuk Pasar CORSIA, Integritas Kredit Jadi Kunci

Sementara itu Direktur Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon (TKPNEK), Wahyu Marjaka menambahkan transisi proyek CDM ke pasar karbon di bawah Paris Agreement menjadi bagian upaya pemerintah dalam membuka arus investasi baru ke sektor hijau, sekaligus mengurangi ketergantungan pada janji pendanaan negara maju.

“Ini mendorong investasi. Mereka yang berinvestasi dapat memanfaatkan pasar karbon ini,” katanya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Pertamina Explores Sustainable Aviation Fuel From Urban Waste, Partners With PAL Jaya

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned energy company PT Pertamina (Persero) is exploring the use of urban fat, oil and grease (FOG) waste as an alternative...

TOP STORIES

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...