COP31 Jadi Momentum Indonesia Perkuat Peran dalam Diplomasi Iklim dan Biodiversitas

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) yang akan berlangsung November nanti menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam tata kelola iklim global, bukan hanya melalui diplomasi dan negosiasi, tetapi juga dengan menunjukkan implementasi nyata komitmen iklim di tingkat nasional dan daerah.

Managing Director WRI Indonesia Arief Wijaya mengatakan penguatan peran tersebut penting di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari peningkatan emisi dan dampak perubahan iklim hingga ketidakpastian geopolitik yang berpotensi menghambat kerja sama internasional dan pendanaan iklim.

“COP31 menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat peran dalam tata kelola iklim melalui aksi dan implementasi nyata, sekaligus memperluas kerja sama internasional dalam pembiayaan, peningkatan kapasitas, teknologi, dan kemitraan,” kata Arief dalam diskusi Road to COPs: From Negotiation to Implementation: Strengthening Informed Climate and Biodiversity Diplomacy Ahead of COP31 and COP17, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Menurut Arief, Perjanjian Paris telah memasuki dekade kedua sejak ditandatangani pada 2015. Perjanjian tersebut telah mendorong kemajuan dalam aksi iklim, tetapi emisi global masih terus meningkat dan dampak perubahan iklim semakin terasa.

Read also:  Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik menambah tantangan dalam mempertahankan kerja sama internasional serta meningkatkan pendanaan untuk memenuhi target perubahan iklim.

Karena itu, kata Arief, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan komitmen dalam Perjanjian Paris, tetapi memastikan komitmen tersebut dapat dioperasionalkan menjadi kebijakan dan aksi nyata di tingkat nasional maupun lokal.

Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda COP31 sebagai Implementation COP yang mendorong negara dan pemangku kepentingan mempercepat pelaksanaan komitmen iklim serta memperkuat dampaknya di lapangan.

“Perjanjian Paris memberikan visi, sementara COP menjadi proses penting guna mewujudkannya dengan setiap negara perlu bertanggung jawab terhadap komitmen yang telah dibuat,” ujarnya.

Arief mengatakan berdasarkan kajian terbaru WRI Indonesia, Indonesia bersama empat negara G20 lainnya, yakni Australia, Rusia, Afrika Selatan, dan Turki, menunjukkan perkembangan positif dalam upaya mencapai target iklim 2030. Perkembangan tersebut, menurut dia, perlu dipertahankan dan diperkuat melalui implementasi aksi yang nyata.

Read also:  Menteri LH: Pasar Karbon Harus Berbasis Aksi Nyata, Bukan Sekadar Transaksi

Untuk mencapai target iklim Indonesia pada 2030, kenaikan emisi perlu dijaga tidak lebih dari 4 persen. Hal itu membutuhkan implementasi kebijakan dan aksi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Namun, Arief juga menggarisbawahi adanya kemunduran dalam beberapa tahun terakhir akibat disrupsi geopolitik serta laju pemanasan global yang semakin tinggi.

Mengutip laporan terbaru UNEP yang dipaparkan dalam forum tersebut, upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca masih belum cukup cepat untuk mencegah pemanasan global melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri.

Dampak perubahan iklim juga semakin nyata melalui berbagai bencana, termasuk gelombang panas di Eropa, fenomena El Niño, serta kebakaran hutan dan kabut asap di Indonesia yang berdampak hingga sejumlah negara di Asia Tenggara.

Menurut Arief, kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati. Karena itu, penguatan aksi iklim dan ketahanan masyarakat perlu berjalan bersama dengan perlindungan ekosistem.

Read also:  BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Sementara itu Commission Manager of Climate and Biodiversity Hub at GIZ Indonesia & ASEAN Karin Allgoewer mengatakan rangkaian diskusi yang digelar menuju COP31 dan COP17 diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara komitmen, implementasi, dan investasi.

COP31 membahas perubahan iklim melalui UNFCCC, sementara COP17 membahas keanekaragaman hayati melalui Convention on Biological Diversity (CBD). Keduanya merupakan bagian dari Konvensi Rio bersama UNCCD yang menangani isu penggurunan.

“COP31 bertujuan mengubah Perjanjian Paris dari sekadar kerangka komitmen menjadi percepatan implementasi yang menghubungkan komitmen iklim nasional dengan aksi konkret, investasi, dan hasil,” kata Karin.

Menurut dia, agenda tersebut membutuhkan penguatan kerja sama internasional, termasuk dalam pembiayaan, investasi, teknologi, dan peningkatan kapasitas. Sinergi antara agenda perubahan iklim dan keanekaragaman hayati juga penting untuk mengoptimalkan sumber pembiayaan dan menghasilkan aksi yang lebih terintegrasi. *** Jadita Banjar Nahor

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Menteri LH Tegaskan Indonesia Bangun Biodiversity Credit Berbasis Tiga Prinsip Utama, Apa Saja?

Ecobiz.asia — Indonesia tengah mematangkan instrumen biodiversity credit sebagai skema pembiayaan konservasi dengan berpegang pada tiga prinsip utama, yakni integritas ilmiah, inklusi sosial, dan...

Verra Luncurkan Program Scope 3, Buka Jalur Sertifikasi Aksi Iklim Rantai Nilai

Ecobiz.asia – Verra meluncurkan Scope 3 Standard (S3S) Program, kerangka kerja untuk mengukur, memverifikasi, dan mensertifikasi hasil aksi iklim yang dilakukan dalam rantai nilai...

Susun Biennial Transparency Report, Indonesia Laporkan Capaian Pengurangan Emisi

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mulai menyusun Biennial Transparency Report (BTR) Kedua dan Ketiga untuk melaporkan perkembangan aksi iklim, termasuk...

Pemda DIY dan WWF Perluas Kerja Sama, Pengadaan Hijau Pangkas Emisi 48%

Ecobiz.asia – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) dan WWF-Indonesia memperluas kerja sama pembangunan berkelanjutan, termasuk penguatan pengadaan barang dan jasa (PBJ) berkelanjutan...

Menteri LH: Pasar Karbon Harus Berbasis Aksi Nyata, Bukan Sekadar Transaksi

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus dibangun berdasarkan aksi iklim yang terukur,...

TOP STORIES

IAPB Says Indonesia Can Help Shape High-Integrity Biodiversity Credit Market

Ecobiz.asia – Indonesia has an important role to play in shaping a high-integrity biodiversity credit market that can be scaled globally, according to Dame...

Siapkan Investasi Rp2,8 T, Danantara Mulai Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di Galuga

Ecobiz.asia - PT Danantara Investment Management melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya...

Verra Launches Scope 3 Standard Program to Certify Value Chain Climate Action

Ecobiz.asia – Verra has launched its Scope 3 Standard (S3S) Program, a framework designed to quantify, verify and certify the climate outcomes of projects...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...