Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) tengah mengembangkan 11 studi carbon capture and storage (CCS) dan carbon capture, utilization, and storage (CCUS) yang diarahkan untuk menangkap emisi karbon dari kegiatan Pertamina maupun pihak lain. Sejumlah proyek ditargetkan mulai memasuki tahap commissioning pada 2030 dan setelahnya.
Senior Vice President Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Wenny Ipmawan mengatakan pengembangan CCS-CCUS menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk menurunkan emisi sekaligus membangun bisnis rendah karbon.
“Dan juga tentu di hulu kita juga sudah mulai masuk ke business carbon capture storage, dimana ada 11 studi yang kami lakukan sekarang, dan itu nantinya mungkin di 2030 ke atas mudah-mudahan sudah ada yang kemudian commissioning dan bisa men-capture karbon, baik ini sebagai karbon yang dihasilkan oleh Pertamina maupun bisnis lain,” kata Wenny dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Menurut Wenny, implementasi proyek tersebut masih bergantung pada kesiapan regulasi dan keekonomian. Salah satu perkembangan terbaru adalah penyelarasan subsurface model bersama mitra yang dilakukan pada 22 September 2026.
Tahap berikutnya mencakup pembahasan melalui steering committee serta proses pengajuan izin Wilayah Izin Penyimpanan Karbon (WIPK).
Pengembangan CCS-CCUS dilakukan Pertamina bersamaan dengan upaya mempertahankan bisnis minyak dan gas bumi yang menjadi bisnis eksisting perusahaan. Menurut Wenny, kegiatan migas tetap menghasilkan emisi sehingga perusahaan perlu menjalankan strategi dekarbonisasi secara bertahap.
“Jadi tentu dari dua ini tentu kita tidak berarti kemudian menolkan emisi ya tidak bisa Bapak Ibu semua. Apalagi kalau kita bicara legacy business-nya. Itu namanya oil and gas sudah pasti kalau dibakar terjadi emisi,” ujarnya.
Di luar CCS-CCUS, Pertamina mengembangkan portofolio bisnis rendah karbon melalui biofuel, panas bumi, PLTS dan BESS, gas-to-power, waste-to-energy, hidrogen hijau, serta solusi berbasis alam.
Pada sektor panas bumi, kapasitas operasi Pertamina Geothermal Energy (PGE) saat ini mencapai 727 MW, dengan target meningkat menjadi 1 GW pada 2028 dan 2 GW pada 2038.
Pertamina juga menjalankan dekarbonisasi melalui efisiensi energi dan konversi bahan bakar. Pada 2025, realisasi pengurangan emisi Pertamina Group tercatat mencapai 2,27 juta ton CO₂e.
Di sektor bioenergi, perusahaan mengembangkan bioetanol, biodiesel, dan sustainable aviation fuel (SAF). Penggunaan bioetanol E5 dan biodiesel telah berjalan, dengan pengembangan menuju E20 dan B50.
Pertamina juga mulai memproduksi SAF berbahan baku used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Perusahaan merencanakan pengembangan kilang bio khusus UCO dengan kapasitas sekitar 280.000 kiloliter per tahun pada 2029**




