Target Bangun PLTS 100 GWp, DEN Sebut Indonesia Butuh Dukungan Jaringan hingga Tenaga Kerja

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) untuk menopang kebutuhan energi Indonesia. Namun, ekspansi tersebut membutuhkan dukungan penyimpanan energi, penguatan jaringan listrik, industri panel surya domestik, hingga kesiapan tenaga kerja.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan pengembangan energi bersih harus berjalan seiring dengan kebutuhan Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Pasokan energi harus tetap tersedia secara andal dan terjangkau, sekaligus semakin rendah emisi.

Hal itu disampaikan Satya dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Read also:  Menhut Raja Juli Jelaskan Beda BRGM dengan Badan Pengelola Gambut Bentukan Prabowo

Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) sekitar 3.687 GW, dengan tenaga surya mencapai 3.294 GW. Pemerintah mendorong pemanfaatan potensi tersebut antara lain melalui pengembangan PLTS hingga 100 GWp.

Namun, kapasitas sebesar itu tidak bisa dikembangkan tanpa kesiapan sistem kelistrikan. Produksi PLTS bergantung pada intensitas matahari sehingga membutuhkan penyimpanan energi dan penyesuaian jaringan.

“Dengan faktor kapasitas sekitar 18%, kapasitas 100 GWp diperkirakan setara dengan daya efektif sekitar 30 GW,” kata Satya.

Pengembangan PLTS juga diarahkan melalui pembangkit surya terapung di waduk, termasuk integrasi dengan pembangkit listrik tenaga air.

Read also:  Tak Lagi Fokus Kayu, Kemenhut Buka 5,67 Juta Hektare Hutan untuk Pangan, Energi dan Karbon

Menurut Satya, ekspansi PLTS juga harus diikuti penguatan industri dalam negeri, terutama manufaktur panel surya.

Sebagian besar panel PLTS yang digunakan Indonesia saat ini masih berasal dari impor. Bahkan, seluruh panel yang digunakan dalam proyek PLTS Cirata disebut masih berasal dari luar negeri.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dapat mendorong tumbuhnya industri panel surya sekaligus menyerap permintaan domestik.

Selain infrastruktur dan industri, kebutuhan tenaga kerja menjadi tantangan lain. Berdasarkan proyeksi DEN, kebutuhan tenaga kerja yang berkaitan dengan transisi energi diperkirakan mencapai 6,21 juta orang pada 2030.

Read also:  Terjebak Asap Karhutla, Orangutan Lemah Diselamatkan dari Kebun Sawit

Kebutuhan tersebut mencakup 487 jenis pekerjaan baru di sektor EBT, minyak dan gas bumi, serta geologi, mineral, dan batu bara. Kompetensi yang dibutuhkan antara lain pengoperasian energi terbarukan, jaringan pintar, digitalisasi, elektrifikasi industri dan transportasi, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.

Satya menilai percepatan transisi energi harus dilakukan bersamaan dengan peningkatan produktivitas seluruh sektor ekonomi.

“Kalau kita ingin mencapai pertumbuhan 8% di tahun 2029, semua sektor bekerja. Jadi tidak bisa kalau misalkan kita mengatakan pertumbuhan ekonomi 8%, tapi hanya satu sektor saja yang bekerja, tidak bisa,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Konsumsi Energi Final Indonesia Diproyeksi Tumbuh 2,6% per Tahun hingga 2060

Ecobiz.asia — Dewan Energi Nasional (DEN) memproyeksikan konsumsi energi final Indonesia tumbuh 2,2%–2,6% per tahun sepanjang 2024–2060, dengan sektor industri menjadi pengguna energi terbesar...

Transisi Energi Global Jadi Magnet Investasi, Indonesia Bidik 28 Komoditas untuk Hilirisasi Hijau

Ecobiz.asia — Investasi transisi energi global mencapai US$2,3 triliun pada 2025, tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk...

Ekonomi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia, Potensi Serap 5,3 Juta Lapangan Kerja

Ecobiz.asia — Pengembangan energi hijau diproyeksikan menciptakan hingga 5,3 juta lapangan kerja pada 2029 sekaligus menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Menteri Koordinator...

Sorot Potensi Energi Terbarukan, Wamen LH Dorong Sungai Ciliwung Dikembangkan untuk PLTMH

Ecobiz.asia — Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono melihat potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dari debit...

Tak Lagi Fokus Kayu, Kemenhut Buka 5,67 Juta Hektare Hutan untuk Pangan, Energi dan Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mengarahkan sekitar 5,67 juta hektare kawasan hutan untuk pemanfaatan yang lebih beragam, mulai dari pangan dan energi hingga hasil hutan...

TOP STORIES

Pertamina Siapkan 8 Inisiatif Bisnis Energi Rendah Karbon, Dari Hidrogen hingga Biofuel

Ecobiz.asia — Pertamina menyiapkan sejumlah bisnis energi rendah karbon, mulai dari biofuel, panas bumi, PLTS dan penyimpanan energi hingga CCS/CCUS dan hidrogen hijau, sebagai...

Konsumsi Energi Final Indonesia Diproyeksi Tumbuh 2,6% per Tahun hingga 2060

Ecobiz.asia — Dewan Energi Nasional (DEN) memproyeksikan konsumsi energi final Indonesia tumbuh 2,2%–2,6% per tahun sepanjang 2024–2060, dengan sektor industri menjadi pengguna energi terbesar...

Transisi Energi Global Jadi Magnet Investasi, Indonesia Bidik 28 Komoditas untuk Hilirisasi Hijau

Ecobiz.asia — Investasi transisi energi global mencapai US$2,3 triliun pada 2025, tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk...

Ekonomi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia, Potensi Serap 5,3 Juta Lapangan Kerja

Ecobiz.asia — Pengembangan energi hijau diproyeksikan menciptakan hingga 5,3 juta lapangan kerja pada 2029 sekaligus menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Menteri Koordinator...

Verra’s CCS Methodology Secures ICVCM Approval Under Core Carbon Principles

Ecobiz.asia – Verra’s methodology for carbon capture and storage (CCS) and its accompanying modules have been approved by the Integrity Council for the Voluntary...