Industri Kelola Emisi Karbon Layak Dapat ‘Sweetener’ Pembiayaan, Persiapan Hadapi CBAM

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Industri nasional didorong mulai menghitung emisi karbon dari kegiatan operasional sebagai langkah awal menghadapi tuntutan perdagangan global yang semakin rendah karbon.

Pelaku usaha yang telah memiliki kemampuan menghitung emisi dinilai layak mendapat sweetener berupa insentif pembiayaan.

Head of Mandiri Institute Andre Simangunsong mengatakan pemerintah dapat mendorong seluruh sektor usaha mulai membangun kemampuan menghitung emisi, sekaligus memberikan insentif kepada perusahaan yang sudah melakukan langkah tersebut.

“Action plan-nya apa paling simpel? Jadi pemerintah bisa mendorong semua sektor itu mulai menghitung carbon emission. Belajar menghitung carbon emission,” kata Andre dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Menurut Andre, kemampuan mengukur emisi semakin penting karena standar perdagangan internasional mulai memasukkan jejak karbon sebagai salah satu faktor yang memengaruhi daya saing produk.

Salah satu tekanan terbesar datang dari Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa. Kebijakan tersebut mengenakan penyesuaian karbon terhadap sejumlah produk impor berdasarkan emisi yang dihasilkan selama proses produksinya.

Read also:  Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

“EU sudah jelas, untuk baja, besi, pupuk, pada Februari 2027 (penerapan kebijakan emisi). Paling tidak kita belajar menghitung dulu emisi karbon yang dihasilkan operasional kita itu berapa,” ujarnya.

CBAM saat ini mencakup sejumlah komoditas seperti besi dan baja, aluminium, semen, pupuk, listrik, dan hidrogen. Tahap definitif CBAM dimulai Januari 2026, sementara penjualan sertifikat CBAM dijadwalkan mulai Februari 2027. Deklarasi pertama dan penyerahan sertifikat untuk impor sepanjang 2026 akan dilakukan pada September 2027.

Bagi Indonesia, kebijakan tersebut memiliki dampak terhadap perdagangan karena produk yang tercakup CBAM memiliki nilai ekspor yang signifikan ke pasar Uni Eropa. Pada 2025, ekspor Indonesia untuk produk yang tercakup CBAM mencapai US$2,3 miliar atau sekitar 11,9% dari total ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Produk besi dan baja menjadi kelompok yang paling terekspos.

Read also:  Menhut Raja Juli Kembali Cabut Izin Lima PBPH Terkait Karhutla, Sebut Perintah Prabowo

Andre mengatakan kesiapan menghadapi CBAM tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga kemampuan industri dan tenaga kerja dalam mengelola data emisi.

“Kita bicara green, kita bicara transition, itu ada potensi, ada risiko. Tapi hasilnya menjadi real benefit atau risiko buat kita, tergantung bagaimana kita mempersiapkannya,” ujarnya.

Hitung Emisi Dapat Insentif

Selain kewajiban dan tuntutan pasar, Andre mendorong penghitungan emisi diberi insentif agar perusahaan memiliki alasan ekonomi untuk mulai membangun sistem pengelolaan karbon.

Salah satu bentuknya dapat berupa insentif pembiayaan melalui perbankan. Perusahaan yang sudah mampu menghitung emisinya dapat memperoleh biaya kredit yang lebih rendah.

“Bagi teman-teman bisnis yang sudah bisa menghitung carbon emission-nya, kalau mau pinjam ke Bank Mandiri dikasih diskon 20 basis points, yang nanggung misalnya OJK. Jadi memberikan seperti sweetener,” kata Andre.

Read also:  Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Menurut dia, insentif tersebut dapat menjadi pemicu bagi perusahaan untuk mulai membangun kemampuan inventarisasi emisi sebelum tuntutan pasar karbon dan perdagangan internasional semakin kuat.

Perhitungan juga tidak harus dimulai dari sistem yang kompleks. Perusahaan dapat membangun basis data dari aktivitas operasional sederhana, seperti konsumsi listrik.

“Kalau kita tahu sisi listrik 1 kilowatt itu sama dengan emisi berapa, itu hal-hal simpel yang bisa didorong,” ujarnya.

Andre menilai penghitungan emisi menjadi fondasi bagi perusahaan untuk selanjutnya menyusun strategi pengurangan emisi. Data tersebut juga semakin penting ketika produk Indonesia harus memenuhi persyaratan pasar ekspor yang memasukkan emisi karbon dalam perhitungan perdagangan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Ambisi 100 GWp Terancam Jadi Narasi Panggung, COP31 Jadi Momentum Pembuktian Prabowo

Ecobiz.asia — Ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 berisiko berhenti sebagai komitmen di panggung internasional...

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

MADANI Desak Penguatan Hukum IBSAP, Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Ecobiz.asia — Sebanyak 14,84 juta hektare areal bernilai keanekaragaman hayati tinggi (ABKT) di Indonesia berada di luar sistem perlindungan kawasan hutan formal, sementara 5,91...

RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

Ecobiz.asia — Indonesia menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan sebagai salah satu inisiatif yang akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31...

Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggerakkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk menjalankan aksi lingkungan terukur selama...

TOP STORIES

Ambisi 100 GWp Terancam Jadi Narasi Panggung, COP31 Jadi Momentum Pembuktian Prabowo

Ecobiz.asia — Ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 berisiko berhenti sebagai komitmen di panggung internasional...

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

Pertamina Explores Sustainable Aviation Fuel From Urban Waste, Partners With PAL Jaya

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned energy company PT Pertamina (Persero) is exploring the use of urban fat, oil and grease (FOG) waste as an alternative...

ICAO Joins Alliance to Boost Carbon Credit Supply for Aviation

Ecobiz.asia – The International Civil Aviation Organization (ICAO) has joined an alliance of more than 80 stakeholders working to accelerate the supply of eligible...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...