Kemitraan Indonesia–Norwegia Tunjukkan Model Baru Diplomasi Iklim Berbasis Kinerja

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kemitraan Indonesia dan Norwegia dalam perlindungan hutan tropis dan pengendalian perubahan iklim dinilai telah melahirkan model baru kerja sama internasional yang lebih setara, transparan, dan berbasis hasil (results-based payment/RBP).

Melalui skema tersebut, pembayaran hanya diberikan setelah Indonesia berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan berdasarkan capaian yang telah diverifikasi secara independen.

Pandangan tersebut mengemuka dalam peluncuran dan bedah buku Diplomasi Bumi: Cerita di Balik Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Acara dibuka Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz dan menghadirkan Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Perubahan Iklim Haruni Krisnawati selaku editor utama buku, Project Director FOLU Norway Contribution Phase 1 Agus Justianto, serta Direktur Penghimpunan dan Pengembangan Dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Endah Tri Kurniawaty.

Turut hadir Counselor Kehutanan dan Perubahan Iklim Kedutaan Besar Norwegia di Indonesia Anja Lillegraven.

Dalam sambutannya, Mahfudz mengatakan diplomasi lingkungan kini telah menjadi bagian penting dari diplomasi pembangunan Indonesia.

Read also:  COP31 Jadi Momentum Indonesia Perkuat Peran dalam Diplomasi Iklim dan Biodiversitas

Menurutnya, keberhasilan menekan laju deforestasi, memperbaiki tata kelola kehutanan, dan mengembangkan program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap komitmen Indonesia dalam memenuhi target Persetujuan Paris.

Haruni Krisnawati menjelaskan kemitraan Indonesia–Norwegia bermula dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada Mei 2010 di Oslo. Kesepakatan tersebut membuka peluang kontribusi berbasis hasil hingga US$1 miliar sesuai capaian penurunan emisi Indonesia dari sektor kehutanan.

Namun, implementasi LoI menghadapi berbagai tantangan kelembagaan dan perbedaan pandangan sehingga kedua negara sepakat mengakhiri kerja sama tersebut pada September 2021 untuk membuka jalan bagi pembentukan skema kemitraan yang baru.

“Berakhirnya LoI bukan berarti hubungan kedua negara berhenti. Sebaliknya, hal tersebut menjadi momentum untuk membangun kemitraan yang lebih setara dan lebih matang,” kata Haruni.

Babak baru kerja sama dimulai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada September 2022. Dalam skema tersebut, Indonesia dan Norwegia membangun hubungan sebagai mitra yang setara dengan prinsip saling menghormati, saling percaya, dan pembayaran dilakukan berdasarkan capaian nyata pengurangan emisi yang telah diverifikasi, bukan sebagai bantuan pembangunan.

Read also:  ESGIN dan ASPEBINDO Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Haruni menyebutkan hingga kini Indonesia telah menerima pembayaran berbasis hasil sekitar US$216 juta. Pembayaran tahap pertama sebesar US$56 juta diberikan atas capaian pengurangan emisi periode 2016–2017.

Selanjutnya, Norwegia menyetujui pembayaran tahap kedua dan ketiga sebesar US$100 juta untuk periode 2017–2018 dan 2018–2019, serta tahap keempat senilai US$60 juta atas capaian periode 2019–2020.

Seluruh dana tersebut dikelola melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan dimanfaatkan untuk mendukung perlindungan hutan, rehabilitasi ekosistem, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, penguatan perhutanan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Sementara itu, Agus Justianto mengatakan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 merupakan salah satu strategi nasional paling ambisius di sektor kehutanan.

Program tersebut menargetkan agar sektor kehutanan dan penggunaan lahan mampu menyerap emisi lebih besar dibandingkan emisi yang dihasilkan pada 2030 melalui pengurangan deforestasi, restorasi gambut dan mangrove, rehabilitasi hutan, pengelolaan hutan lestari, konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan cadangan karbon.

Read also:  Perusahaan Global Kejar Net Zero, Pasar Kredit Karbon Indonesia Terbuka Luas

Endah Tri Kurniawaty menambahkan BPDLH menjadi instrumen penting dalam implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 untuk memastikan seluruh dana pembayaran berbasis hasil dikelola secara transparan, akuntabel, dan memberikan manfaat nyata bagi perlindungan lingkungan serta masyarakat yang menjadi pelaku utama pengelolaan hutan.

Menurutnya, BPDLH akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendukung pelaksanaan berbagai komitmen Indonesia di bidang lingkungan hidup melalui pengelolaan dana lingkungan yang profesional.

Para pembicara sepakat bahwa pengalaman Indonesia dan Norwegia menunjukkan penyelesaian krisis iklim memerlukan kepercayaan, konsistensi kebijakan, transparansi, dan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu Anja Lillegraven mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi buku Diplomasi Bumi: Cerita di Balik Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. “Buku ini menjadi refleksi, referensi serta pembelajaran untuk meneruskan diplomasi yang mengedepankan bumi, menjaga hutan, dan kesejahteraan rakyat,” katanya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...

BP BUMN Arahkan Perhutani Kembangkan Bisnis Karbon, Incar Pendapatan Rp1-2 Triliun

Ecobiz.asia – Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) mengarahkan Perum Perhutani mengembangkan perdagangan karbon sebagai sumber pendapatan baru sekaligus bagian dari transformasi bisnis perusahaan. Dalam jangka...

IDXCarbon Gratiskan Biaya Pendaftaran, Incar Lebih Banyak Pengguna Jasa Karbon

Ecobiz.asia – Bursa karbon Indonesia (IDXCarbon) menggratiskan biaya pendaftaran dan keanggotaan bagi perusahaan yang ingin menjadi Pengguna Jasa Bursa Karbon (PJBK). Kebijakan tersebut ditujukan...

Incar Blue Carbon, Lampung Perluas Cakupan Tim Koordinasi Inisiatif Karbon

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Lampung memperluas cakupan kerja Tim Koordinasi Inisiatif Karbon dari semula berfokus pada karbon hutan menjadi pengembangan ekosistem karbon daratan dan...

COP31 Jadi Momentum Indonesia Perkuat Peran dalam Diplomasi Iklim dan Biodiversitas

Ecobiz.asia — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) yang akan berlangsung November nanti menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam tata kelola iklim global,...

TOP STORIES

NCI, Infini Asia Launch FIST 1.0 to Strengthen Data Management for Nature-Based Solutions

Ecobiz.asia – Nusantara Climate Initiative (NCI), in collaboration with PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia), has officially launched the Forest Integrated System for Transparency...

IDX Proposes Lower Non-Tax State Levy to Boost Carbon Trading on IDXCarbon

Ecobiz.asia – The Indonesia Stock Exchange (IDX) is preparing a proposal for an incentive and disincentive scheme to encourage companies to trade carbon units...

IIF Kantongi Akreditasi GCF, Buka Akses Pendanaan Iklim Global untuk Infrastruktur Berkelanjutan

Ecobiz.asia – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) resmi memperoleh status Accredited Entity (AE) dari Green Climate Fund (GCF) per 1 Juli 2026, membuka akses...

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...