Perempuan Penggerak Ekonomi Restoratif, Akses dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Perempuan dinilai memegang peran sentral dalam membangun ekonomi restoratif, mulai dari menjaga hutan dan sumber air, memperkuat ketahanan pangan, hingga mengembangkan usaha berbasis sumber daya alam. Karena itu, penguatan akses, kepemimpinan, dan peluang ekonomi bagi perempuan dinilai menjadi prasyarat penting untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka pada hari kedua Kunstkring Dialogue: Forum Ekonomi Restoratif, yang diselenggarakan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Penabulu-Oxfam sebagai bagian dari rangkaian pameran Weaving Wonders, di Jakarta, Rabu (25/6).

Sesi pertama bertajuk Mengutamakan Agensi Perempuan dalam Ekonomi Restoratif menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Monica Tanuhandaru (YBLL), Andhika Mahardika (Agradaya), Viringga Prasetyaji Kusuma (AMATI), Helianti Hilman (Javara/Sekolah Seniman Pangan), serta Puji Sumedi Hanggarawati (Yayasan KEHATI).

Read also:  Perkuat Daya Saing Kehutanan, Kemenhut Targetkan Seluruh PBPH Terapkan Multi Usaha Kehutanan

Diskusi menyoroti pentingnya memperluas akses, pengakuan, dan ruang kepemimpinan bagi perempuan yang selama ini berperan sebagai penjaga hutan, pengelola sumber air, pelaku ketahanan pangan keluarga, sekaligus penggerak usaha berbasis sumber daya alam.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan pemerintah daerah berupaya memperluas akses ekonomi bagi kelompok perempuan melalui dukungan pembiayaan, pelatihan, dan pembukaan akses pasar.

“Sebagai regulator, memberikan akses permodalan kepada kelompok perempuan, baik permodalan mikro maupun makro yang disertai pendampingan, pelatihan, serta akses ke pasar, termasuk menyediakan apa yang dibutuhkan industri di Maluku Utara,” ujarnya.

Forum juga menampilkan sejumlah praktik baik ekonomi restoratif yang telah diterapkan di berbagai daerah, antara lain pemberdayaan perempuan melalui pembibitan oleh Mama Bambu, Desa Agroekologi Bambu, Kebun Pangan Lokal Perempuan, serta Perhutanan Sosial Khusus Perempuan.

Read also:  Kemenhut Pastikan Multiusaha Kehutanan Tak Tinggalkan Bisnis Kayu, Bidik Seluruh PBPH Bertransformasi

Pada sesi kedua bertema Energi Terbarukan Berkeadilan Gender: Energi ke Ekonomi Restoratif, para pembicara membahas pentingnya transisi energi yang tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga memperluas akses energi bagi masyarakat, mengurangi ketimpangan, dan memperkuat ekonomi lokal.

Diskusi yang dipandu Desi Anwar tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Tri Mumpuni Wiyatno, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti, Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi Riyatno, Kunto Ariawan (KPK), Mustika Wijaya (Solar Chapter), dan Agus Praditya Tampubolon (IESR).

Read also:  Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Tri Mumpuni menegaskan bahwa transisi energi harus berorientasi pada pemenuhan hak masyarakat terhadap akses energi.

“Transisi energi pertama-tama adalah soal memenuhi hak masyarakat terhadap akses energi,” katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengatakan pemerintah terus memperluas akses air bersih dan konektivitas melalui berbagai program infrastruktur, termasuk Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Rangkaian Kunstkring Dialogue akan ditutup pada hari ketiga dengan dua sesi diskusi mengenai ekonomi restoratif berbasis alam serta peran masyarakat adat dan komunitas lokal di sekitar kawasan konservasi. Forum tersebut akan menghasilkan rekomendasi bersama sebagai penutup rangkaian dialog. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Pastikan Multiusaha Kehutanan Tak Tinggalkan Bisnis Kayu, Bidik Seluruh PBPH Bertransformasi

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan menegaskan implementasi Multi Usaha Kehutanan (MUK) tidak berarti meninggalkan pemanfaatan kayu sebagai salah satu bisnis utama sektor kehutanan. Sebaliknya, pemerintah akan...

Perkuat Daya Saing Kehutanan, Kemenhut Targetkan Seluruh PBPH Terapkan Multi Usaha Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menargetkan seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) bertransformasi dari model bisnis tunggal menjadi multi usaha kehutanan (MUK) dalam...

Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Ecobiz.asia – Tekanan panas ekstrem akibat perubahan iklim menyebabkan pekerja sektor pertanian di Indonesia kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024. Kondisi tersebut dinilai...

Kemenko Pangan–WWF Dorong Reformasi Tata Kelola Sawit, Fokus pada Petani Swadaya

Ecobiz.asia – Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama WWF-Indonesia mendorong transformasi tata kelola kelapa sawit nasional dengan menitikberatkan pada peningkatan produktivitas dan penguatan peran petani...

Perluas Akses Masyarakat Kelola Hutan, Menhut Serahkan SK Perhutanan Sosial di NTB

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan menyerahkan enam Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial kepada kelompok masyarakat di Nusa Tenggara Barat, memberikan akses kelola kawasan hutan seluas...

TOP STORIES

Kemenhut Gagalkan Penyelundupan Owa Jawa dan Biawak Endemik ke Oman

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggagalkan upaya penyelundupan dua satwa endemik Indonesia, yakni owa jawa (Hylobates moloch) dan biawak tiga warna (Varanus yuwonoi), yang...

PLN Indonesia Power, South Pole Explore Expanded Carbon Market and Decarbonization Partnership

Ecobiz.asia — Indonesia's state-owned power producer PLN Indonesia Power and Swiss climate advisory firm South Pole AG are exploring an extension of their carbon...

Pendanaan Adaptasi Iklim Terbuka Lebar, Akses dan Kualitas Proyek Masih Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Peluang Indonesia memperoleh pendanaan internasional untuk program adaptasi perubahan iklim semakin terbuka seiring meningkatnya perhatian lembaga pendanaan global terhadap isu adaptasi. Namun,...

Synkrona Rampungkan Studi, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Pertama Indonesia Makin Dekat

Ecobiz.asia – PT Synkrona Enjiniring Nusantara menyelesaikan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study) untuk proyek percontohan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) di Nusa Penida, Bali....

Geo Dipa Mulai Bangun PLTP Dieng 2 55 MW, Investasi US$350 Juta

Ecobiz.asia – PT Geo Dipa Energi (Persero) resmi memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng Unit 2 berkapasitas 55 megawatt (MW) di...