Berbagai Skema Pembiayaan Baru untuk 13 Taman Nasional Prioritas

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik menyiapkan berbagai skema pembiayaan berkelanjutan untuk memperkuat pengelolaan 13 taman nasional prioritas dan dua lanskap konservasi spesies ikonik di Indonesia.

Upaya tersebut dibahas dalam dialog Satgas bersama para pemimpin redaksi media nasional di Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Pertemuan juga menjadi ajang menyampaikan perkembangan kerja Satgas sekaligus menghimpun masukan media terkait komunikasi publik pengelolaan taman nasional dan konservasi satwa liar.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Satgas Hashim Djojohadikusumo, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni selaku Wakil Ketua Bidang Regulasi, serta Mari Elka Pangestu sebagai Wakil Ketua Bidang Investasi.

Hashim Djojohadikusumo mengatakan konservasi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia, bukan sekadar upaya perlindungan lingkungan.

“Melindungi alam, menyejahterakan masyarakat, dan membangun masa depan Indonesia merupakan satu kesatuan. Inovasi pembiayaan dibutuhkan agar upaya konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan serta memberikan manfaat yang nyata dan berkeadilan bagi masyarakat sekitar kawasan,” ujarnya.

Read also:  Aren dan Penguatan KPH untuk Menggerakkan Bioekonomi Hutan

Hashim menambahkan masyarakat harus menjadi bagian utama dalam perlindungan kawasan konservasi.

“Hak masyarakat harus kita berikan. Namun, hak tersebut juga perlu dibarengi dengan kewajiban untuk menjaga hutan. Masyarakat harus menjadi bagian dari upaya perlindungan kawasan dan memperoleh manfaat yang adil dari keberhasilan konservasi,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa Satgas Inovasi Pembiayaan memiliki fokus berbeda dengan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Menurutnya, kedua satgas memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga kawasan hutan.

“Ada Satgas PKH untuk menertibkan kebun dan tambang yang berada di dalam kawasan hutan. Fokusnya berbeda, tetapi seluruh langkah pemerintah harus saling mendukung agar kawasan hutan terlindungi dan masyarakat memperoleh manfaat,” ujar Hashim.

Sementara itu, Mari Elka Pangestu mengungkapkan bahwa pendanaan yang tersedia saat ini baru memenuhi sekitar 26 persen dari kebutuhan ideal pengelolaan taman nasional.

Karena itu, pemerintah mendorong diversifikasi sumber pembiayaan melalui kombinasi dana publik, investasi swasta, filantropi, pembayaran berbasis hasil (results-based payment), kredit karbon, payment for ecosystem services, hingga instrumen inovatif seperti species bond.

Read also:  Gorontalo Identifikasi Potensi Aren untuk Pengembangan Bioekonomi Hutan

“Konservasi adalah investasi masa depan. Karena konservasi merupakan pekerjaan jangka panjang, sumber pembiayaannya harus beragam dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai tahap awal, Satgas menetapkan 13 taman nasional prioritas, yakni Taman Nasional Gunung Leuser, Ujung Kulon, Way Kambas, Sebangau, Tanjung Puting, Komodo, Wakatobi, Lorentz, Gunung Rinjani, Bromo Tengger Semeru, Manusela, Mutis Timau, serta Mamberamo Foja.

Selain itu, dua lanskap konservasi spesies ikonik juga menjadi fokus pengembangan. Setiap kawasan akan menerapkan model pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik ekosistem, potensi karbon, kondisi sosial masyarakat, serta kebutuhan pengelolaannya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Indonesia memiliki 57 taman nasional dengan luas sekitar 27 juta hektare yang merupakan aset strategis bangsa. Karena itu, pemerintah membutuhkan terobosan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi melalui tata kelola yang lebih baik, kolaborasi multipihak, serta sumber pendanaan yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan Satgas dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026 untuk mempercepat revitalisasi 13 taman nasional dan dua lanskap konservasi spesies ikonik dengan melibatkan perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, filantropi, serta berbagai organisasi konservasi.

Read also:  Kemenhut Dorong Bioekonomi Hutan Jadi Strategi Permanen Cegah Karhutla

“Diperlukan sebuah terobosan. Satgas ini diarahkan untuk merevitalisasi 13 Taman Nasional serta dua lanskap konservasi spesies ikonik dengan melibatkan perguruan tinggi, LSM, dan berbagai organisasi yang bergerak di bidang konservasi,” kata Raja Juli.

Raja Juli menegaskan bahwa pengembangan berbagai instrumen pembiayaan, termasuk perdagangan karbon tidak dimaksudkan untuk mengomersialkan taman nasional.

“Perdagangan karbon bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah memastikan hutan tetap terjaga, keanekaragaman hayati meningkat, dan masyarakat memperoleh manfaat. Dalam mekanisme MRV perdagangan karbon, pelibatan masyarakat menjadi salah satu indikator penting,” katanya.

Ia juga menegaskan prinsip utama pengelolaan kawasan konservasi adalah ecological before tourism.

“Taman Nasional bukan kawasan yang dinilai semakin baik ketika semakin banyak orang datang. Justru ketika ekologinya semakin terjaga, nilai kawasan tersebut akan semakin meningkat,” ujar Raja Juli. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

Aren dan Penguatan KPH untuk Menggerakkan Bioekonomi Hutan

Ecobiz.asia - Penasihat Utama Menteri Kehutanan Dr. Willie Smits mengambil sejumput tanah dari bawah tegakan aren di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gorontalo Utara,...

Gorontalo Identifikasi Potensi Aren untuk Pengembangan Bioekonomi Hutan

Ecobiz.asia — Pemerintah Provinsi Gorontalo mengidentifikasi sebaran tanaman aren di kawasan hutan untuk dikembangkan sebagai bagian dari bioekonomi hutan, mulai dari produksi gula aren...

Kemenhut Dorong Bioekonomi Hutan Jadi Strategi Permanen Cegah Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan bioekonomi sebagai salah satu strategi jangka panjang untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara permanen. Pendekatan tersebut...

Bioekonomi Bisa Menjadi Jalan Menjaga Hutan, KPH Tak Boleh Menunggu

Ecobiz.asia - Di hadapan para kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Sulawesi Selatan, Idi Bantara tidak membawa presentasi panjang tentang teori pengelolaan hutan. Ia justru...

TOP STORIES

NCI, Infini Asia Launch FIST 1.0 to Strengthen Data Management for Nature-Based Solutions

Ecobiz.asia – Nusantara Climate Initiative (NCI), in collaboration with PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia), has officially launched the Forest Integrated System for Transparency...

IDX Proposes Lower Non-Tax State Levy to Boost Carbon Trading on IDXCarbon

Ecobiz.asia – The Indonesia Stock Exchange (IDX) is preparing a proposal for an incentive and disincentive scheme to encourage companies to trade carbon units...

IIF Kantongi Akreditasi GCF, Buka Akses Pendanaan Iklim Global untuk Infrastruktur Berkelanjutan

Ecobiz.asia – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) resmi memperoleh status Accredited Entity (AE) dari Green Climate Fund (GCF) per 1 Juli 2026, membuka akses...

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...