Maluku Utara Dorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan di Tengah Sorotan Pasar Global

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Maluku Utara mulai memosisikan diri sebagai referensi baru hilirisasi nikel berkelanjutan di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap rantai pasok mineral kritis yang ramah lingkungan dan transparan.

Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan North Maluku Sustainability Trip yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia bersama Kadin Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Maluku Utara, 19–23 Mei 2026.

Kegiatan ini mempertemukan organisasi internasional, investor, pelaku industri, akademisi, hingga pembuat kebijakan untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara sekaligus mendiskusikan penguatan praktik responsible downstreaming di Indonesia.

Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia mencapai 62 juta ton atau sekitar 44,3 persen cadangan global. Sekitar 90 persen cadangan tersebut berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Read also:  Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan hilirisasi nikel telah menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.

“Tahun lalu ekonomi Maluku Utara tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan, sementara pada kuartal pertama 2026 mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia. Sebagian besar berasal dari industri hilirisasi khususnya nikel,” ujar Sherly dikutip Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah terus mendorong penguatan pengawasan lingkungan, transparansi, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat industri dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang berhasil kita tinggalkan bagi masyarakatnya,” katanya.

Forum tersebut dihadiri sejumlah organisasi internasional yang memiliki pengaruh dalam pengembangan standar keberlanjutan sektor mineral global, di antaranya Nickel Institute, International Council on Mining and Metals (ICMM), Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), Global Battery Alliance, Glencore, hingga GIZ.

Peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke area pertambangan PT Weda Bay Nickel (WBN) dan fasilitas di kawasan IWIP, mulai dari pengolahan nikel, fasilitas pengelolaan lingkungan, pusat riset dan pengembangan, hingga rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik yang terintegrasi.

Read also:  Industri Kelola Emisi Karbon Layak Dapat ‘Sweetener’ Pembiayaan, Persiapan Hadapi CBAM

Perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sekaligus Direktur BYD Haka Auto Ahmad Fikri Susanto mengatakan pasar global kini tidak hanya menyoroti kapasitas produksi, tetapi juga tata kelola rantai pasok dan dampak sosial lingkungan industri.

“Investor dan pembeli global kini ingin melihat lebih dari sekadar volume produksi. Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana masyarakat turut merasakan manfaat pembangunan,” ujarnya.

Sementara itu, Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia Bernardino Vega menilai standar keberlanjutan kini semakin menentukan akses investasi dan pasar bagi industri mineral global.

Ia mencatat investasi sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen pada periode 2019–2022, dari US$3,56 miliar menjadi US$10,96 miliar.

Read also:  RSPO Perketat Pantauan Karhutla di Perkebunan Bersertifikat, Telusuri Penyebab Kebakaran

“Perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG yang kredibel dan dapat diverifikasi adalah perusahaan yang akan memperoleh investasi jangka panjang dan akses yang lebih strategis ke pasar global,” katanya.

Presiden Direktur PT IWIP Kevin He mengatakan pertumbuhan industri di kawasan tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Pertumbuhan industri membawa tanggung jawab besar. Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan manfaat nyata bagi masyarakat lokal,” ujar Kevin.

IWIP mencatat sekitar 85 persen tenaga kerja di kawasan industri tersebut berasal dari Maluku Utara, mencerminkan meningkatnya keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai nilai industri hilirisasi.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga mengikuti penanaman mangrove sebagai simbol komitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

ESDM Bongkar Dugaan Tambang di Kebun Sawit, Sejumlah Perusahaan Asing Didalami

Ecobiz.asia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memeriksa sejumlah kebun kelapa sawit yang diduga menjalankan kegiatan pertambangan di luar izin usaha....

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

TOP STORIES

ESDM Bongkar Dugaan Tambang di Kebun Sawit, Sejumlah Perusahaan Asing Didalami

Ecobiz.asia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memeriksa sejumlah kebun kelapa sawit yang diduga menjalankan kegiatan pertambangan di luar izin usaha....

PDC Bersama Pertamina dan PHE Kembangkan Teknologi Geokimia untuk Eksplorasi Hidrogen Alami, Seperti Apa?

Ecobiz.asia — PT Patra Drilling Contractor (PDC), PT Pertamina (Persero), dan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembangkan teknologi geokimia untuk mendukung eksplorasi hidrogen alami...

Tarif, Infrastruktur, Insentif Jadi Kendala Investasi Panas Bumi

Ecobiz.asia -- Keekonomian proyek, keterbatasan infrastruktur pendukung, dan minimnya insentif fiskal masih menjadi tiga tantangan utama investasi panas bumi di Indonesia, meskipun sumber energi...

PT Timah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi, Penggunaan PLTS dan EV Jadi Prioritas

Ecobiz.asia — PT Timah Tbk tengah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk mendukung target emisi nol bersih (net zero emission). Perusahaan menghadapi tantangan dalam mengganti...

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...