Fairatmos Soroti Tantangan Proyek Karbon Biru, Kembangkan Solusi Digital

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pengembang proyek dan pemilik aset di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan proyek karbon biru, terutama pada tahap awal penilaian dan implementasi.

Chief Commercial and Operating Officer (CCOO) Fairatmos, Aruna Pradipta, mengatakan salah satu hambatan utama terletak pada tahap penilaian kelayakan awal (eligibility), khususnya pada kawasan mangrove yang dikelola oleh masyarakat lokal dan kelompok rentan.

“Banyak aset mangrove di Indonesia dikelola oleh masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pengetahuan tentang proyek karbon dan pembiayaan. Banyak yang tidak tahu harus mulai dari mana atau bagaimana menentukan apakah wilayah mereka layak,” ujar Aruna dalam webinar AtmosTalk yang diselenggarakan Fairatmos, Kamis (26 Maret 2026).

Read also:  PHR Perkuat Budaya Inovasi melalui CIIF 2026, Cetak Added Value Creation Rp3,73 Triliun

Ia menambahkan, meskipun Indonesia memiliki potensi karbon biru yang besar, hanya sebagian kecil lahan yang benar-benar memenuhi kriteria untuk dikembangkan sebagai proyek karbon. Dalam banyak kasus, hanya sekitar 10–30% dari suatu area yang dapat dikategorikan layak atau dapat dikreditkan.

“Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah proyek tersebut layak secara ekonomi dan operasional, yang menjadi perhatian utama bagi para pengembang,” katanya.

Selain aspek kelayakan, Aruna juga menyoroti tantangan pada tahap implementasi. Restorasi mangrove dinilai lebih kompleks secara teknis, dengan biaya awal dan risiko yang lebih tinggi dibandingkan reforestasi di daratan.

Read also:  Perkuat Tata Kelola Bursa Karbon, OJK Kedepankan Integritas Pasar dan Perlindungan Konsumen

Pengembang harus mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kesesuaian lahan, pemilihan spesies yang tepat, ketersediaan bibit, hingga risiko lingkungan jangka panjang seperti kenaikan muka air laut.

“Ada banyak ketidakpastian. Misalnya, apakah area yang direstorasi hari ini masih akan ada dalam 20 hingga 30 tahun ke depan akibat perubahan iklim,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Fairatmos mengembangkan berbagai perangkat digital guna meningkatkan akses informasi dan mempercepat proses penilaian proyek pada tahap awal.

Sejak 2022, perusahaan telah terlibat dengan lebih dari 800 proyek dan menilai lebih dari 80 juta hektare lahan di kawasan ini.

Salah satu alat yang dikembangkan adalah basis data metodologi karbon untuk Asia Tenggara, yang memungkinkan pengguna mengidentifikasi dan membandingkan standar serta metodologi karbon yang sesuai untuk berbagai jenis proyek, termasuk karbon biru.

Read also:  Menhut Raja Juli Jelaskan Beda BRGM dengan Badan Pengelola Gambut Bentukan Prabowo

Selain itu, tersedia pula alat yang memungkinkan pengembang proyek menilai kelayakan, potensi karbon, dan potensi pendapatan suatu lahan dengan mengunggah data spasial ke dalam platform.

Sistem tersebut akan menganalisis tutupan lahan, status penggunaan lahan, serta klasifikasi regulasi untuk menentukan apakah suatu proyek memenuhi persyaratan pengembangan kredit karbon.

“Alat-alat ini dirancang untuk mendemokratisasi akses pengetahuan dan membantu pengembang proyek maupun masyarakat memahami apa yang diharapkan dalam pengembangan proyek karbon,” kata Aruna. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

TOP STORIES

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...