KLH Turunkan Tim Ahli Kaji Penyebab Longsor di Cisarua, Evaluasi Tata Ruang

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan pengelolaan lanskap di kawasan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Hanif saat meninjau langsung lokasi longsor pada Minggu (25/1), menyusul bencana yang mengancam keselamatan warga dan menimbulkan kerusakan lingkungan. Pemerintah, kata dia, tidak akan menangani bencana hanya secara darurat, tetapi akan menelusuri akar persoalan lingkungan yang memicu kerentanan kawasan.

Read also:  Gakkum Kehutanan Gagalkan Perdagangan 22 Kilo Sisik Trenggiling di Medan

KLH/BPLH akan menurunkan tim ahli lintas disiplin untuk mengkaji penyebab longsor, terutama yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan dan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan daya dukung lingkungan. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar pengetatan kebijakan penataan ruang agar kejadian serupa tidak terulang.

“Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita perlu evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan pemanfaatan lahan di kawasan ini,” ujar Hanif kepada wartawan di lokasi.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan wilayah Cisarua diguyur hujan selama empat hari berturut-turut dengan intensitas rata-rata sekitar 68 milimeter per hari. Meski hujan menjadi pemicu, Hanif menilai intensitas tersebut belum tergolong ekstrem secara klimatologis.

Read also:  Kunjungi TPST BLE Banyumas, Presiden Prabowo Soroti Inovasi Sampah Jadi Genteng

Menurutnya, hal itu mengindikasikan adanya kerapuhan struktur lanskap akibat faktor lain, seperti kemiringan lereng, karakteristik geologi, serta pembukaan lahan pertanian tanpa pengelolaan yang berkelanjutan. Tutupan vegetasi yang menipis di lereng-lereng kritis dinilai meningkatkan risiko pergerakan tanah saat hujan.

“Ini menunjukkan ada persoalan serius pada daya dukung dan daya tampung lingkungan, bukan semata-mata faktor hujan,” katanya.

Read also:  PHE Tandatangani Kontrak PSC Wilayah Kerja Lavender

KLH/BPLH berkomitmen mengawal pemulihan lingkungan pascabencana dengan mendampingi pemerintah daerah untuk mengaudit rencana tata ruang dan memperkuat mitigasi bencana berbasis ekosistem. Pemerintah juga mendorong pemulihan vegetasi dan penataan kembali pemanfaatan lahan agar kebutuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.

“Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat diperlukan untuk menekan risiko bencana di kawasan rawan longsor dan menjaga keselamatan ruang hidup dalam jangka panjang, kata Hanif. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

ASPEBINDO Dorong Penyesuaian UU Energi untuk Perkuat Transisi Energi

Ecobiz.asia — Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) mendorong penyesuaian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi guna memperkuat transisi energi, khususnya...

Kunjungi TPST BLE Banyumas, Presiden Prabowo Soroti Inovasi Sampah Jadi Genteng

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026), dan menyoroti...

Target Dedieselisasi Dinilai Perlu Diperluas ke PLTU, PLTG

Ecobiz.asia — Rencana pemerintah mengganti 13 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dinilai perlu diperluas dengan menghentikan pembangunan pembangkit...

Usai Dilantik Jadi Menteri LH, Jumhur Hidayat Siap Benahi Isu Pengelolaan Sampah

Ecobiz.asia - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup di Istana Negara, Jakarta, pada Senin...

Kurangi Ketergantungan Impor LPG, Pemerintah Kaji Pemanfaatan CNG Nasional

Ecobiz.asia — Pemerintah mengkaji pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi domestik untuk mengurangi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan memperkuat kemandirian...

TOP STORIES

ASPEBINDO Dorong Penyesuaian UU Energi untuk Perkuat Transisi Energi

Ecobiz.asia — Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) mendorong penyesuaian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi guna memperkuat transisi energi, khususnya...

Pertamina Strengthens Domestic Bioethanol Development to Support E20 Target

Ecobiz.asia — Pertamina is strengthening the development of domestically sourced bioethanol through cross-sector collaboration to support the country’s E20 blending mandate targeted for 2028. The...

Kunjungi TPST BLE Banyumas, Presiden Prabowo Soroti Inovasi Sampah Jadi Genteng

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meninjau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026), dan menyoroti...

Survei: Progres Energi Terbarukan Indonesia Stagnan Meski Permintaan Industri Tinggi

Ecobiz.asia — Survei terbaru yang dilakukan Petromindo Survey menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri terhadap lambatnya perkembangan energi terbarukan di Indonesia, meski permintaan dan ekspektasi...

Survey Finds Indonesia’s Renewable Energy Progress Stagnant Despite Strong Industry Demand

Ecobiz.asia — A recent survey conducted by Petromindo Survey highlights growing industry concern over the slow pace of renewable energy development in Indonesia, despite...