Taman Nasional Way Kambas Jadi Lokasi Proyek Karbon Offset Pertama di Kawasan Konservasi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyiapkan proyek percontohan karbon offset pertama di dalam sistem taman nasional Indonesia, dengan Taman Nasional Way Kambas di Provinsi Lampung ditetapkan sebagai lokasi awal untuk membuka akses pembiayaan konservasi melalui Pasar Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market/VCM).

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan proyek di Way Kambas dirancang untuk memobilisasi sumber pendanaan baru bagi pengelolaan kawasan konservasi, sekaligus menjadi model bagi taman nasional lain di Indonesia.

“Saat ini kami tengah membangun fondasi yang diperlukan agar Way Kambas dapat menjadi lokasi proyek offset karbon pertama di dalam sistem taman nasional Indonesia yang terbuka bagi Pasar Karbon Sukarela,” ujar Raja Antoni dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).

Read also:  Perkuat Fondasi Hijau, Pertamina Terapkan Standar Keberlanjutan Global untuk Amankan Bisnis Jangka Panjang

Pengembangan proyek karbon di Way Kambas merupakan bagian dari upaya lebih luas Kementerian Kehutanan untuk memperkuat pembiayaan berkelanjutan bagi 57 taman nasional di Indonesia. Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pembiayaan Taman Nasional.

Menurut Raja Antoni, satgas ini akan memberikan arahan strategis sekaligus mengoordinasikan pelaksanaan strategi dan kerangka investasi pembiayaan taman nasional. Pemerintah juga tengah menyiapkan revisi regulasi serta penerbitan aturan baru guna membuka ruang kemitraan yang lebih efektif dengan sektor swasta.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta pemerintah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk melindungi keanekaragaman hayati nasional dan memastikan keberlanjutan pengelolaan taman nasional.

Read also:  BSI Gandeng BASE Perluas Pembiayaan Proyek Efisiensi Energi Menuju NZE 2060

Selain Way Kambas, pemerintah juga mengembangkan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Provinsi Aceh sebagai contoh konkret pembiayaan konservasi berbasis kolaborasi. Inisiatif ini difokuskan pada perlindungan gajah Sumatra melalui pendekatan konservasi lanskap, pengelolaan ekosistem, dan pemberdayaan masyarakat.

Raja Antoni mengatakan komitmen tersebut berawal dari dialog antara Presiden Prabowo Subianto dan Raja Charles III pada November 2024, yang kemudian diperluas. Awalnya, Indonesia berkomitmen menyediakan 20.000 hektare lahan untuk konservasi gajah, sebelum ditingkatkan menjadi 90.000 hektare pada Agustus 2025.

PECI dirancang sebagai model percontohan yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan konservasi serupa, termasuk kawasan dengan tekanan ekologis dan kebutuhan pendanaan yang tinggi.

Read also:  Pertamina–MIND ID Percepat Hilirisasi Batu Bara Jadi DME untuk Substitusi LPG

Komitmen Indonesia dalam pembiayaan konservasi juga disoroti dalam forum tingkat tinggi Indonesia–Inggris yang digelar di Lancaster House, London, pada 20 Januari 2026. Forum tersebut membahas kerja sama perlindungan keanekaragaman hayati, masyarakat lokal, dan spesies kunci seperti gajah Sumatra yang terancam punah.

Forum ini dihadiri oleh Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra, Utusan Khusus Presiden RI Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, serta sejumlah pejabat pemerintah, pelaku usaha, filantropi, dan organisasi masyarakat sipil. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Geoflowtest PGE Sabet Tiga Penghargaan Internasional Inovasi Panas Bumi di IPITEx 2026

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) meraih tiga penghargaan internasional melalui inovasi panas bumi Geoflowtest dalam ajang International Intellectual Property,...

Eastspring Indonesia Gandeng WWF Dukung Pemulihan Pascabencana Sumatra

Ecobiz.asia — PT Eastspring Investments Indonesia menggandeng World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia untuk mendukung pemulihan lingkungan dan komunitas terdampak bencana di Sumatra...

Indonesia Gabung Coalition to Grow Carbon Markets, Bawa Pengalaman Kelola Proyek Karbon Hutan

Ecobiz.asia — Indonesia resmi bergabung dengan The Coalition to Grow Carbon Markets, sebuah inisiatif internasional yang bertujuan memperkuat pasar karbon berintegritas tinggi dan memperluas...

Mahasiswa UGM Bikin Alat Penyerap Karbon dari Limbah Plastik, Berbiaya Rendah

Ecobiz.asia — Inovasi pemanfaatan limbah plastik untuk penangkapan emisi karbon mengantarkan tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih Gold Medal dalam ajang 6th Indonesia...

MOPAKHA Perpanjang Riset dengan BRIN, Kembangkan Restorasi Hutan Berbasis Karbon

Ecobiz.asia — PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MOPAKHA) melanjutkan kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam program Riset Inovasi Ekosistem Kawasan...

TOP STORIES

ASEAN Smart Energy & Energy Storage Expo 2026

Ecobiz.asia - Supported by the Ministry of Energy of Thailand, the Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT), and the Thailand Convention and Exhibition Bureau...

Indonesia to Unveil Transport Decarbonisation Roadmap by May 2026

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing a national roadmap to decarbonise its transport sector as part of efforts to cut carbon emissions and meet its...

PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya...

Pemerintah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi, Target Terbit Mei 2026

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyusun peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon nasional dan memenuhi target net zero emission...

Sumatra Mulai Memanas, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Padamkan Karhutla

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menurunkan pasukan Manggala Agni untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra seiring meningkatnya titik...