MOPAKHA Perpanjang Riset dengan BRIN, Kembangkan Restorasi Hutan Berbasis Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (MOPAKHA) melanjutkan kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam program Riset Inovasi Ekosistem Kawasan Hutan Produksi Terdegradasi.

Perpanjangan kolaborasi ini dilakukan untuk menyelesaikan dan memperdalam sejumlah kegiatan riset lapangan yang dinilai membutuhkan waktu tambahan agar menghasilkan temuan yang lebih komprehensif dan aplikatif.

Direktur Utama MOPAKHA, Syamsul Budiman, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian penting dari transformasi pengelolaan konsesi perusahaan dari skema berbasis kayu menuju restorasi ekosistem dan multiusaha kehutanan.

“Riset bersama BRIN ini bersifat sangat aplikatif bagi kami. Dalam restorasi ekosistem, keberadaan ekosistem referensi yang kuat secara ilmiah menjadi kunci agar pengelolaan kawasan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Syamsul dikutip Selasa (20/1/2026).

Read also:  ClientEarth-CPI Indonesia Teken MoU, Percepat Transisi Energi Berkeadilan

Ia menjelaskan, MOPAKHA sebelumnya mengelola konsesi dengan skema Hak Pengusahaan Hutan (HPH), namun kini secara bertahap diarahkan ke pengelolaan restorasi ekosistem yang mencakup restorasi hutan, ketahanan pangan, serta pengembangan bisnis karbon.

Kerja sama riset yang difasilitasi oleh Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN ini berfokus pada pemulihan ekosistem hutan produksi terdegradasi, khususnya kawasan gambut yang terdampak kebakaran.

Sejumlah kegiatan yang dilanjutkan antara lain pengembangan demplot restorasi, pemantauan dinamika ekologi, pengukuran stok karbon, serta evaluasi dampak restorasi jangka panjang.

Peneliti BRIN sekaligus Principal Investigator riset, Ika Heriansyah, menyampaikan bahwa kolaborasi telah memasuki tahap kedua.

Pada fase awal, riset menunjukkan indikasi pemulihan tutupan lahan serta peningkatan biodiversitas, yang ditandai dengan mulai hadirnya sekitar 30 jenis burung di kawasan restorasi.

Read also:  PHM Ubah Limbah Makanan Menjadi Pendorong Ekonomi Sirkular di Pesisir Kalimantan Timur

Pada tahap lanjutan, kerja sama diperluas melalui pendekatan sosial-ekologi dan ekonomi berbasis masyarakat. MOPAKHA dan BRIN mengembangkan model pengelolaan yang mengintegrasikan hasil hutan bukan kayu (HHBK), kemitraan konsesi, serta proyek percontohan restorasi seluas 14 hektare yang direncanakan meningkat bertahap hingga 500 hektare.

Syamsul menambahkan, sebagian besar wilayah konsesi MOPAKHA merupakan kawasan lindung gambut, sehingga pengelolaan diarahkan pada pengembangan bisnis karbon tanpa penebangan.

Skema ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui mekanisme bagi hasil perdagangan karbon yang lebih berkelanjutan dibandingkan konversi lahan.

Selain itu, pada area yang mengalami degradasi berat dan bekas lahan pertanian, MOPAKHA mengembangkan ketahanan pangan melalui budidaya padi dan jagung, dengan target minimal 30 persen kawasan kembali ditutupi tanaman keras, termasuk multipurpose tree species (MPTS) dan tanaman hutan.

Read also:  PGE Siapkan Fondasi Bisnis Green Hydrogen, Pilot Project Ulubelu Mulai Beroperasi November

Menurut Syamsul, perpanjangan kerja sama riset hingga 2028 menjadi krusial karena skema multiusaha kehutanan masih tergolong baru di Indonesia dan membutuhkan dukungan ilmiah yang kuat agar dapat direplikasi secara luas.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan ekosistem hutan produksi terdegradasi, tetapi juga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, penguatan ketahanan pangan, penyelesaian konflik lahan secara berkeadilan, serta pengembangan model pengelolaan hutan yang seimbang secara ekologi, sosial, dan ekonomi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Dua Bulan Beroperasi, DSI Petakan Ekspor Komoditas Strategis Senilai US$14 Miliar

Ecobiz.asia — PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI telah membangun visibilitas atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor komoditas strategis dengan nilai lebih dari US$14...

PGN Gagas Perluas Akses Gas Bumi di Yogya Lewat Skema CNG

Ecobiz.asia -- Keterbatasan jaringan pipa gas bumi mendorong PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) memperluas...

PGN Dorong Pemanfaatan Jargas sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat Sleman

Ecobiz.asia -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Sleman, Yogyakarta, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah...

NHM Kembangkan Pertanian Modern 10 Hektare di Kao Barat untuk Dukung Ketahanan Pangan

Ecobiz.asia -- PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mendorong modernisasi sektor pertanian di Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, melalui penerapan teknologi dan...

PHE Dorong Percepatan Ekosistem Natural Hydrogen untuk Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong percepatan pengembangan natural hydrogen di Indonesia sebagai salah satu sumber energi masa depan...

TOP STORIES

Perusahaan Global Kejar Net Zero, Pasar Kredit Karbon Indonesia Terbuka Luas

Ecobiz.asia — Perubahan perilaku perusahaan global dalam mengejar target net zero berpotensi menjadi sumber baru permintaan kredit karbon, termasuk dari Indonesia. Wakil Ketua Indonesia Carbon...

Veritask: New Framework for Carbon Trading in the Waste Sector

On 12 August 2026, the Minister of Environment/Head of the Environmental Control Agency of the Republic of Indonesia enacted Regulation of the Minister of...

Gold Standard, Verra Launch Tool for Article 6.2 Reporting

Ecobiz.asia – Gold Standard and Verra have launched a new tool to help countries report corresponding adjustments (CAs) for carbon credits authorized under Article...

Prabowo Launches 100 GW Solar Program, Sets Three-Year Deadline

Ecobiz.asia — Indonesia has launched a national program to develop 100 gigawatts peak (GWp) of solar power capacity, with an estimated investment of about...

Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp, Sesumbar Rampung dalam Tiga Tahun

Ecobiz.asia — Pemerintah resmi memulai program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) dengan nilai investasi sekitar US$73 miliar...