Akademisi UGM Tekankan Pendekatan Sosial dalam Pengelolaan Hutan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya pendekatan sosial dalam pengelolaan hutan untuk memperkuat mitigasi perubahan iklim, ketahanan terhadap bencana, serta kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Pendekatan ini dinilai semakin krusial seiring meningkatnya sorotan publik terhadap sektor kehutanan pascabencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta mengatakan pengelolaan hutan tidak lagi dapat bertumpu pada pendekatan teknokratis semata, melainkan harus bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

Hal tersebut disampaikan dalam Lokakarya Sylva Indonesia 2026 bertajuk Reaktualisasi Pendekatan Sosial dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (12/1/2026).

Read also:  Pulihkan Kerusakan DAS, Pakar UGM Desak Rehabilitasi Vegetatif dan Agroforestri

“Pendekatan sosial menjadi kunci agar pengelolaan hutan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis,” ujar Sigit.

Ia menambahkan, hutan memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim, penyediaan pangan, energi, dan air, yang hanya dapat berjalan optimal jika dikelola secara berkelanjutan dan inklusif.

Dalam forum yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih menekankan pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, kerusakan di wilayah hulu akan berdampak langsung pada wilayah hilir, sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif lintas wilayah dan sektor.

Read also:  PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

“Pengelolaan DAS harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama dari hulu sampai hilir,” kata Dyah. Ia menjelaskan, rehabilitasi lahan kritis dilakukan melalui kombinasi pendekatan vegetatif dan sipil teknis dengan pendekatan lanskap, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.

Dyah juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan penerapan agroforestri, terutama di kawasan hulu dan lahan miring. Skema ini dinilai mampu menyeimbangkan fungsi konservasi dengan manfaat ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana.

“Aktivitas ekonomi masyarakat perlu berjalan seiring dengan prinsip-prinsip konservasi,” ujarnya.

Read also:  Gakkum Kehutanan Gagalkan Pengiriman Ratusan Batang Kayu Ilegal, Disusun Jadi Rakit Panjang

Lokakarya Sylva Indonesia 2026 yang berlangsung pada 12–15 Januari 2026 ini diikuti mahasiswa kehutanan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang diskusi strategis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan kehutanan nasional berbasis keberlanjutan.

Ketua Pelaksana Lokakarya Sylva Indonesia 2026 Fedora Rifqi Rahmadhan menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi rimbawan muda untuk memperkuat jejaring, inovasi, dan kepedulian terhadap masa depan hutan Indonesia. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia Wahyu Agung menegaskan peran mahasiswa kehutanan sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan pengelolaan hutan yang semakin kompleks. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya...

Pemerintah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi, Target Terbit Mei 2026

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyusun peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon nasional dan memenuhi target net zero emission...

Sumatra Mulai Memanas, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Padamkan Karhutla

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menurunkan pasukan Manggala Agni untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra seiring meningkatnya titik...

KLH Turunkan Tim Ahli Kaji Penyebab Longsor di Cisarua, Evaluasi Tata Ruang

Ecobiz.asia — Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua,...

Indonesia, UK Push Post-COP30 Climate Action, Focus on Finance and Resilience

Ecobiz.asia — Indonesia and Britain agreed to step up climate cooperation to accelerate post-COP30 action, with a focus on climate finance, national resilience and...

TOP STORIES

ASEAN Smart Energy & Energy Storage Expo 2026

Ecobiz.asia - Supported by the Ministry of Energy of Thailand, the Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT), and the Thailand Convention and Exhibition Bureau...

Indonesia to Unveil Transport Decarbonisation Roadmap by May 2026

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing a national roadmap to decarbonise its transport sector as part of efforts to cut carbon emissions and meet its...

PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya...

Pemerintah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi, Target Terbit Mei 2026

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyusun peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon nasional dan memenuhi target net zero emission...

Sumatra Mulai Memanas, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Padamkan Karhutla

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menurunkan pasukan Manggala Agni untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra seiring meningkatnya titik...