Terungkap! Potensi Obat-obatan dari Senyawa Bioaktif Terumbu Karang Lunak Perairan Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Penelitian mengungkapkan potensi besar pengembangan berbagai produk farmasi dan obat-obatan dari senyawa bioaktif terumbu karang lunak di perairan Indonesia.

Hal itu dipresentasikan pada Konferensi Internasional Terumbu Karang, “The International Conference for Sustainable Coral Reefs”, di Manado, Sulawesi Utara, 13-15 Desember 2024.

Paparan para ahli dari Hokaiddo Unversity, Jepang,  memperlihatkan kegiatan riset mereka dalam sintesis bioaktif terumbu karang lunak menuju pada penemuan obat-obatan baru untuk penyembuhan penyakit pernafasan, penyakit kandungan, penyakit kulit, penyakit syaraf dan penyakit usus. 

Baca juga: Peserta Konferensi Sustainable Coral Reefs akan Transplantasi Karang di Taman Laut Bunaken, Menhut Dijadwalkan Hadir

Sedang para ahli Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dipimpin Professor Ocky Radjasa, memperlihatkan hasil temuan komponen symbionts pada karang lunak yang memiliki unsur Ectoine dan Squalene menuju produk produk farmasi berkualitas. 

Read also:  Harga Bahan Baku Plastik Naik, Pengembangan Etanol Biomassa Pengganti Nafta Potensial

Symbionts adalah unsur-unsur senyawa bioaktif yang tumbuh bersama karang lunak. Ini berpotensi untuk menghasilkan obat obatan baru dari laut. 

Ocky menjelaskan bahwa BRIN telah melaksanakan eksplorasi genom karang di perairan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, di Perairan Karimunjawa dan di perairan Selat Makassar dan Selat Lombok. 

Dari beragam sampel yang diperoleh, kemudian diambil sampel karang lunak dari perairan Karimunjawa, bernama Sinularia sp yang memiliki symbiont Virgibacillus salarius 19PPSc1.6.  Dari situ kemudian ditemukan unsur Ectoine dan Squalene. 

Read also:  BRIN Luncurkan Kalkulator Hijau v.2, Dukung Ekonomi Rendah Karbon

Para ahli BRIN kemudian melanjutkan penelitian mereka karena Ectoine sangat berpotensi untuk pembuatan kosmetik dan krim pelapis kulit. Ectoine juga berpotensi menjadi obat tetes mata dan vitamin suplemen jaringan pernafasan.

Pada industri makanan, Ectoine juga berfungsi sebagai additif dan pengawet makanan.  Untuk penerapan bioteknologi, Ectoine berperan sebagai wahana stabilisator pada protein dan enzim. 

Sedang di bidang pertanian, Ectoine berperan sebagai biostimulan, membuat tanaman tetap bisa bertahan hidup dalam kondisi kemarau panjang, bisa tumbuh di tanah berkadar garam tinggi, juga dapat bertahan hidup pada cuaca temperatur tinggi. 

Baca juga: Mengenal Indonesia Coral Bond, Inovasi Pendanaan Konservasi Terumbu Karang Ala KKP

Read also:  BRIN Luncurkan Kalkulator Hijau v.2, Dukung Ekonomi Rendah Karbon

Squalene juga dapat dipakai untuk memproduksi bahan kosmetik dan bahan suplemen untuk kulit.  Squalene bisa berfungsi sebagai anti-oksidan dan dapat meningkatkan sistem imun manusia.

Ocky juga menerangkan bahwa Tim Industri Farmasi BRIN terdiri dari 5 Professor dan 9 Doktor, ditambah mitra mitra dari UMB-Jakarta, STIFAR-Semarang, CNRS-Perancis dan dari University of Maryland USA.

“Instrumen Laboratorium di BRIN sudah cukup memadai untuk kegiatan riset ini dan kami berharap dalam 2-3 tahun kedepan, purwa rupa obat dan vitamin dari senyawa bioaktif karang lunak yang berada di perairan Indonesia sudah dapat terwujud,” kata Ocky Radjasa. ****

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

BRIN Luncurkan Kalkulator Hijau v.2, Dukung Ekonomi Rendah Karbon

Ecobiz.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat dukungan terhadap transisi ekonomi rendah karbon melalui pengembangan Kalkulator Hijau v.2, instrumen nasional untuk penghitungan...

Harga Bahan Baku Plastik Naik, Pengembangan Etanol Biomassa Pengganti Nafta Potensial

Ecobiz.asia – Kenaikan harga minyak bumi mulai memicu tekanan pada industri petrokimia dan plastik nasional. Dosen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM),...

NHM Perkenalkan Teknologi DST Plant untuk Dorong Efisiensi dan Kinerja Lingkungan

Ecobiz.asia — PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) memperkenalkan inovasi teknologi Dry Stack Tailings (DST) Plant sebagai bagian dari upaya mendorong efisiensi operasional sekaligus meningkatkan...

BRIN–CAST Jepang Teken MoU, Kembangkan Teknologi Sensor untuk Industri Energi dan Manufaktur

Ecobiz.asia — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi asal Jepang CAST Inc. untuk pengembangan teknologi sensor di sektor...

BEL Valves Raih Kontrak Jutaan Pound untuk Proyek CCUS Pertama di Indonesia

Ecobiz.asia — Produsen katup asal Inggris, BEL Valves, memperoleh kontrak senilai jutaan pound sterling untuk memasok peralatan pada proyek carbon capture, utilisation and storage...

TOP STORIES

Chinese Firms Dominate Interest in Danantara Waste-to-Energy Power Projects

Ecobiz.asia — Investor interest in Indonesia’s waste-to-energy power plant projects being developed by Danantara Investment Management (DIM) has surged in the second round of...

Indonesia’s SBK Carbon Project Advances Toward Credit Issuance With Potential for 4 Million VCUs

Ecobiz.asia — The South Barito Kapuas (SBK) Forest Carbon Project in Central Kalimantan, Indonesia, has completed validation and verification under the Verified Carbon Standard...

Blackout Sumatra, PLN Sampaikan Progres Pemulihan Kelistrikan Pascagangguan Akibat Cuaca Buruk

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) menyampaikan progres pemulihan sistem kelistrikan di Sumatra pascagangguan pada jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kilovolt...

Blackout Sumatra, PLN: Pemulihan PLTU Butuh Waktu Lebih Lama Dibanding Hidro dan Gas

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) menyebut proses pemulihan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara membutuhkan waktu lebih lama dibanding pembangkit hidro...

Peminat Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Danantara Membludak, Didominasi Perusahaan China

Ecobiz.asia – Minat investor terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dikembangkan Danantara Investment Management (DIM) melonjak tajam pada gelombang kedua seleksi mitra...