Produsen Plywood Antisipasi Manuver Trump Naikkan Tarif Impor Kayu

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Produsen produk plywood Indonesia mengantisipasi rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor kayu dan kehutanan sebesar 25%. 

Kenaikan tarif akan berdampak pada produk plywood Indonesia mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama.

“Terkait impor tax di Amerika Serikat, Indonesia kemungkinan termasuk negara yang akan dikenakan kenaikan tarif impor sebesar 25%,” kata Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Bambang Soepijanto, Jumat (14/3/2025).

Bambang sudah meminta agar produsen kayu lapis anggota Apkindo mengantisipasi kebijakan itu. 

Read also:  Kemenhut Lanjutkan Operasi Penertiban PETI Tahap III di TNGHS, Ratusan Lubang Tambang Ditutup

Baca juga: Pengusaha Kayu Indonesia Bidik Pasar Timteng dan Afrika Lewat Dubai, Potensinya Besar

Apalagi selain tarif 25%, Pemerintahan Trump juga kemungkinan akan mengenakan countervailing duty dan tarif anti dumping sebesar 14,5%. 

“Kebijakan ini kabarnya akan mulai berlaku April 2025,” katanya.

Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama produk kayu Indonesia, khususnya kayu lapis. Berdasarkan data dari Satu Data PHL Kementerian Kehutanan, ekspor produk kayu Indonesia pada tahun 2024 lalu mencapai 12,7 miliar dolar AS. Ekspor produk kayu lapis tercatat sebesar 2,28 miliar dolar AS.

Read also:  Permen LH 22/2025 Terbit, Atur Ulang Kewenangan Persetujuan Lingkungan untuk Percepat Investasi Berkelanjutan

Menurut Bambang, pasar Amerika Serikat sesungguhnya sangat menjanjikan bagi produk kayu lapis Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari catatan ekspor pada tahun 2024 yang mengalami kenaikan secara nilai dan volume sebesar 27% dibandingkan tahun 2023.

Baca juga: Aturan Wajib Parkir Devisa Hasil Ekspor SDA: Peluang dan Tantangan bagi Eksportir Kayu dan Sawit 

Read also:  Indonesia Tegaskan Aksi Iklim Usai COP30, Siapkan Implementasi Cepat dan Terukur

Bambang mengakui, banyak tantangan yang mesti dihadapi oleh produsen plywood di awal tahun 2025 ini. Selain regulasi dari negara tujuan, kebijakan di dalam negeri juga perlu diantisipasi. Salah satunya adalah sola parkir Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Meski demikian, Bambang mengaku tetap optimis, pelaku usaha plywood tetap dapat memanfaatkan peluang yang ada dan menjaga kinerja ekspor. ***

 

TOP STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut-WCS Perkuat Komitmen Konservasi Keanekaragaman Hayati, Terobosan Pendanaan Jadi Sorotan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Wildlife Conservation Society (WCS) kembali memperkuat kerja sama dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of...

Ada TPL dan PTAR, Kemenhut Tindak 11 Entitas Usaha Terkait Dugaan Penyebab Banjir Tapsel

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan menindak 11 entitas usaha yang diduga melakukan pelanggaran tata kelola kehutanan dan berkontribusi terhadap bencana banjir dan tanah longsor di...

Degradasi Hutan Menurun, Namun Tantangan Pengelolaan Dinilai Masih Berat

Ecobiz.asia — Degradasi hutan Indonesia tercatat mulai menurun berdasarkan statistik kehutanan terbaru. Pada 2022–2023, laju kerusakan hutan tropis mencapai 121 ribu hektare per tahun. Meski...

Dorong Ekosistem Industri Rempah, Indonesia Luncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 yang mencakup komoditas pala, lada, cengkih, kayu manis, vanili, dan temulawak sebagai langkah strategis...

KLH Segel Kebun Sawit PT Tri Bahtera Srikandi (TBS) usai Banjir Sumatra, Pastikan Kepatuhan Izin Lingkungan

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyegel dan memasang plang pengawasan di area operasional kebun dan pabrik kelapa sawit PT Tri...

TOP STORIES

PGE Explores Indonesia’s First Geothermal-Powered Green Low Carbon Data Center

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) has begun assessing the feasibility of developing Indonesia’s first green data center powered by...

PGE Kaji Pembangunan Data Center Rendah Karbon Berbasis Panas Bumi Pertama di Indonesia

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mulai mengkaji peluang pengembangan green data center berbasis energi panas bumi, yang diklaim berpotensi...

Rekind-Carbon Clean Teken MoU Hadirkan CycloneCC, Teknologi Penangkap Karbon Berbiaya Rendah di Indonesia

Ecobiz.asia — PT Rekayasa Industri (Rekind) menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan teknologi asal Inggris, Carbon Clean, untuk menghadirkan dan mengembangkan CycloneCC, sistem penangkapan karbon...

Kemenhut-WCS Perkuat Komitmen Konservasi Keanekaragaman Hayati, Terobosan Pendanaan Jadi Sorotan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Wildlife Conservation Society (WCS) kembali memperkuat kerja sama dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of...

Santi Energi Hijau Gandeng Pemkab Sumba Timur Kembangkan Bioenergi Malapari

Ecobiz.asia - PT Santi Energi Hijau dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk penelitian dan pengembangan Pongamia pinnata (Malapari) di...