PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya emisi dan risiko ekonomi jangka panjang.

Lonjakan PLTU yang dibangun khusus untuk memasok kebutuhan listrik industri tertentu, tanpa terhubung ke jaringan listrik PLN ini terutama terkonsentrasi di kawasan industri nikel di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Analisis terbaru Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM) menunjukkan kapasitas PLTU captive tumbuh 2,25 kali lipat sejak 2023. Dalam periode Juli 2024 hingga Juli 2025 saja, penambahan kapasitas PLTU captive mencapai 4,49 GW atau sekitar 80 persen dari total penambahan pembangkit batu bara nasional.

Read also:  Kemenhut dan FSC Teken MoU, Sinergi Sertifikasi Hutan SVLK-FSC

Sebaliknya, penambahan PLTU yang terhubung ke jaringan listrik PLN tercatat jauh di bawah target, kurang dari sepertiga capaian yang direncanakan. Dalam jangka panjang, kapasitas PLTU captive bahkan tumbuh delapan kali lebih cepat dibandingkan pembangkit yang terhubung ke jaringan listrik selama 25 tahun terakhir.

CREA mencatat, total kapasitas PLTU captive berpotensi meningkat hingga 31 GW, dengan 19,3 GW telah beroperasi, 3,6 GW dalam tahap konstruksi, dan 8,16 GW masih dalam perencanaan ekspansi.

“Lanskap energi Indonesia sedang mengalami fragmentasi serius. Jaringan listrik nasional stagnan, sementara PLTU captive melonjak pesat didorong agenda hilirisasi industri,” ujar Analis CREA, Katherine Hasan.

Menurut CREA, ekspansi PLTU captive diperkuat oleh celah regulasi dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 yang memberikan pengecualian bagi PLTU captive yang terkait proyek strategis nasional. Kebijakan ini dinilai berpotensi menyeret Indonesia ke jalur emisi tinggi dan merugikan ekonomi dalam jangka panjang.

Read also:  Blackout Bukti Ketergantungan Indonesia Pada Batubara, IEEFA Desak Percepatan PLTS Atap

Riset tersebut memperkirakan pengecualian PLTU captive dapat memicu tambahan 27 ribu kematian dini dan menimbulkan beban ekonomi hingga US$20 miliar. Di wilayah industri nikel, polusi udara diperkirakan menyebabkan sekitar 5.000 kematian per tahun dan beban ekonomi tahunan sebesar US$3,42 miliar pada 2030. Selain itu, degradasi lingkungan diproyeksikan merugikan petani dan nelayan lokal hingga US$235 juta dalam 15 tahun ke depan.

CREA mendorong pemerintah memasukkan PLTU captive secara eksplisit dalam rencana penghapusan bertahap batu bara nasional menuju 2040, disertai kerangka pemantauan publik yang transparan.

Read also:  Agrinas Palma-Pertamina Power Jalin Kerjasama, Reaktivasi Pabrik Biodiesel dan Kembangkan Bioetanol Singkong

“Jika Indonesia ingin mencapai target Indonesia Emas 2045, pemerintah harus mengakui manfaat ekonomi dan lingkungan dari pensiun dini PLTU, baik yang terhubung ke jaringan maupun yang dikelola sendiri,” kata Katherine.

Senada, Peneliti Senior GEM Lucy Hummer menegaskan transparansi data menjadi kunci transisi energi. Tanpa data yang jelas mengenai kapasitas dan rencana PLTU captive, perencanaan penggantian ke energi terbarukan akan sulit dilakukan.

“Mengetahui lokasi, skala, dan tujuan industri PLTU captive sangat penting agar pembangkit ini benar-benar masuk dalam perencanaan transisi energi jangka panjang Indonesia,” ujar Lucy. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KLH Rekomendasikan Penataan Ulang Tata Ruang Sumatra, Cegah Bencana Banjir Berulang

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menemukan jutaan hektare kawasan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memerlukan penataan ulang tata...

Indonesia Luncurkan Empat Dokumen Status Keanekaragaman Hayati, Basis Data Pembangunan Berkelanjutan Makin Kuat

Ecobiz.asia – Pemerintah meluncurkan empat Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk wilayah Bali–Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua sebagai landasan penyusunan kebijakan pembangunan dan...

Indonesia Siapkan 93 Proyek Hidrogen Senilai Rp32 Triliun untuk Dekarbonisasi Industri dan Transportasi

Ecobiz.asia – Pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional melalui 93 proyek dengan nilai investasi sekitar Rp32 triliun untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan...

Survei Terbaru Kemenhut Ungkap Populasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli, Kondisi Rentan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap hasil survei populasi terbaru yang menunjukkan populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) diperkirakan mencapai 11.694 individu, sedangkan Orangutan Tapanuli...

Indonesia Undang China Investasi Proyek PLTS 100 GW

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia mengundang perusahaan-perusahaan asal China untuk berinvestasi dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) sebagai bagian...

TOP STORIES

Dairi Prima Mineral Targetkan Konstruksi Tambang Bawah Tanah Dimulai Kuartal I-2027

Ecobiz.asia -- PT Dairi Prima Mineral (DPM) menargetkan memulai konstruksi proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera...

Agincourt Resources Pertahankan Investasi Pendidikan Rp5,29 Miliar di Tengah Pemulihan Operasi

Ecobiz.asia -- PT Agincourt Resources (PTAR) tetap mempertahankan komitmennya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui Program Beasiswa Martabe Prestasi 2026, meski perusahaan masih berada...

PLN pilots calliandra-sorghum biomass project with ITERA to support hydrogen production

Ecobiz.asia -- State electricity firm PT PLN (Persero) has launched a pilot project to develop an integrated biomass and green hydrogen ecosystem by cultivating...

Gerak Hijau 2026 Dorong Kolaborasi Pemerintah, Dunia Usaha dan Masyarakat, ANTAM Pamerkan Capaian Dekarbonisasi

Ecobiz.asia -- Upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Gerak Hijau 2026 di kawasan Car Free Day...

Pertamina Perkuat Budaya HSSE untuk Jaga Keandalan Operasi dan Ketahanan Energi

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) memperkuat implementasi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sebagai fondasi menjaga keandalan operasional di tengah pertumbuhan bisnis dan meningkatnya...