PGE Siapkan Fondasi Bisnis Green Hydrogen, Pilot Project Ulubelu Mulai Beroperasi November

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) semakin serius menggarap bisnis hidrogen hijau (green hydrogen) sebagai salah satu pilar pertumbuhan baru di tengah transisi energi. Perseroan menargetkan proyek percontohan (pilot project) green hydrogen di Lapangan Panas Bumi Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada November 2026 dengan kapasitas awal 100 kilogram per hari.

Proyek tersebut menjadi langkah awal PGE membangun ekosistem green hydrogen nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi di luar pembangkitan listrik. Ke depan, hidrogen hijau dipandang sebagai salah satu peluang bisnis yang akan berkembang seiring meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon, baik di pasar domestik maupun global.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan proyek Ulubelu dirancang sebagai fondasi untuk mengembangkan bisnis green hydrogen berbasis panas bumi yang diharapkan dapat berkembang menjadi usaha komersial dalam beberapa tahun ke depan.

“Targetnya November 2026 ini kita mulai COD dengan kapasitas 100 kilogram per hari sebagai pilot project green hydrogen yang memanfaatkan geothermal sebagai basis energinya,” ujar Ahmad Yani dalam media briefing di Jakarta, Selasa (4/8).

Read also:  Terapkan Biodiesel B50 pada Lokomotif dan Kereta Pembangkit, KAI Perankan Dua Sisi Transisi Energi

Menurutnya, PGE tidak ingin hanya berhenti pada tahap uji coba teknologi. Perseroan menargetkan proyek tersebut dapat berkembang menjadi bisnis yang layak secara komersial dalam dua hingga tiga tahun mendatang, seiring terbentuknya pasar hidrogen di Indonesia.

Ahmad menilai prospek industri hidrogen semakin menjanjikan. Blueprint hidrogen yang disusun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan peningkatan kebutuhan hidrogen pada dekade mendatang, sementara permintaan global juga diperkirakan terus tumbuh hingga 2034.

Dengan potensi panas bumi Indonesia yang mencapai sekitar 24 GW, menurutnya, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu pemain penting dalam industri green hydrogen.

“Kita jangan sampai ketinggalan karena ini merupakan peluang. Kita punya potensi geothermal yang besar sehingga salah satu langkah untuk mengakselerasi pemanfaatannya adalah melalui pengembangan hydrogen,” katanya.

Sementara itu Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menambahkan, proyek green hydrogen di Ulubelu merupakan bagian dari strategi diversifikasi bisnis perusahaan menuju pasar energi di luar penjualan listrik ke jaringan (off-grid), termasuk untuk memenuhi kebutuhan sektor industri seperti pusat data (data center).

Read also:  PHM Ubah Limbah Makanan Menjadi Pendorong Ekonomi Sirkular di Pesisir Kalimantan Timur

“Hidrogen kami mulai pilot project dan akhir November ini akan mulai produksi atau COD. Energi panas bumi yang sebelumnya hanya dikonversi menjadi listrik kini juga diarahkan menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Pada tahap awal, fasilitas tersebut akan memproduksi green hydrogen sebanyak 100 kilogram per hari. Kapasitas tersebut dipertahankan sebagai skala pilot mengingat pasar green hydrogen di Indonesia masih berada pada tahap awal dan secara keekonomian belum mampu bersaing dengan hidrogen berbasis bahan bakar fosil (grey hydrogen).

Meski demikian, PGE memilih membangun kapabilitas sejak dini agar siap ketika permintaan pasar meningkat sebagai dampak implementasi kebijakan transisi energi global.

“Kami berharap jangan sampai ketika demand sudah terbentuk dan harga sudah menarik, Pertamina belum siap. Karena itu kami mulai dari skala laboratorium terlebih dahulu,” kata Andi.

Produksi awal green hydrogen akan dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Grup Pertamina, antara lain di Kilang Plaju, Terminal LNG Tanjung Sekong, serta laboratorium milik Pertamina. Selain itu, PGE juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Toyota sebagai bagian dari pengembangan ekosistem green hydrogen di Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, Toyota diproyeksikan menggunakan sekitar 20 kilogram hidrogen untuk kebutuhan operasional internal secara berkala.

Read also:  ESGIN Bidik Investasi Proyek Ekonomi Hijau Pertanian dan Industri Tapioka di Lampung

Menurut Andi, keberhasilan proyek percontohan ini tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan membangun kompetensi dalam aspek transportasi, keselamatan, dan pengelolaan rantai pasok hidrogen dari lapangan panas bumi menuju pengguna akhir.

“Kami ingin banyak belajar mengenai transportasi, aspek safety, dan pengelolaan hidrogen. Untuk sementara kapasitasnya tetap stabil di 100 kilogram per hari sambil melihat perkembangan permintaan pasar,” ujarnya.

Melalui proyek Ulubelu, PGE berharap dapat mengambil posisi strategis dalam rantai nilai hidrogen hijau nasional sekaligus membuka peluang pemanfaatan energi panas bumi yang lebih luas di luar sektor kelistrikan. Seiring berkembangnya pasar hidrogen dalam beberapa tahun mendatang, proyek percontohan ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan bisnis green hydrogen berskala komersial di Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

ANTAM Dukung Gerak Hijau 2026, Salurkan 5.000 Bibit Mangrove dan Kampanyekan Ekonomi Sirkular

Ecobiz.asia – PT ANTAM Tbk mendukung pelaksanaan Gerak Hijau 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di kawasan Car Free Day...

ESGIN Bidik Investasi Proyek Ekonomi Hijau Pertanian dan Industri Tapioka di Lampung

Ecobiz.asia -- PT ESGIN Global Partners berkomitmen berinvestasi dalam pengembangan proyek ekonomi hijau di sektor pertanian dan industri pengolahan tepung tapioka di Provinsi Lampung....

Manfaatkan Metana di TPA Sampah Sarimukti, Pertamina-Kembangkan Hidrogen dan Biomethane

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengembangkan hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel berbasis sampah sebagai bagian dari upaya...

Grup Pertamina Hulu Indonesia Tanam 2.800 Mangrove, Perkuat Blue Carbon dan Ketahanan Pesisir

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama anak perusahaan dan afiliasinya menanam lebih dari 2.800 bibit mangrove di berbagai wilayah pesisir Kalimantan dan...

PHM Perkuat Ekosistem Bank Sampah Balikpapan, Salurkan Bantuan untuk 43 Unit

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memperkuat upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Balikpapan melalui penyaluran bantuan sarana dan prasarana (sarpras) kepada...

TOP STORIES

Menteri LH Ungkap Minat Investasi Hijau di Indonesia Meningkat: Harus Dorong Kesejahteraan Masyarakat

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa investasi hijau dan berbagai instrumen aksi iklim harus memberikan...

ANTAM Dukung Gerak Hijau 2026, Salurkan 5.000 Bibit Mangrove dan Kampanyekan Ekonomi Sirkular

Ecobiz.asia – PT ANTAM Tbk mendukung pelaksanaan Gerak Hijau 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di kawasan Car Free Day...

Pertamina, West Java Partner to Turn Landfill Methane into Low-Carbon Hydrogen and Biofuel

Ecobiz.asia – Indonesia's state-owned energy company PT Pertamina has partnered with the West Java provincial government to develop low-carbon hydrogen, biomethane, and waste-based biofuels...

Pemerintah Percepat Pemulihan PLTP Sarulla, Siapkan Investasi Baru Optimalkan Potensi Panas Bumi 1.100 MW

Ecobiz.asia – Pemerintah mempercepat pemulihan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara dengan menyiapkan penyelesaian administrasi hingga Oktober 2026...

ESGIN Bidik Investasi Proyek Ekonomi Hijau Pertanian dan Industri Tapioka di Lampung

Ecobiz.asia -- PT ESGIN Global Partners berkomitmen berinvestasi dalam pengembangan proyek ekonomi hijau di sektor pertanian dan industri pengolahan tepung tapioka di Provinsi Lampung....