Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui anak perusahaan dan afiliasinya di Regional 3 Kalimantan memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasinya.
Langkah tersebut dilakukan melalui pengerahan tim dan peralatan pemadam, pemantauan titik api, edukasi masyarakat, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng mengatakan penanganan karhutla dilakukan dengan mengutamakan keselamatan pekerja, masyarakat, fasilitas operasi, dan lingkungan.
“Upaya dan prioritas perusahaan dalam menghadapi karhutla ini semata-mata untuk memastikan perlindungan bagi pekerja, fasilitas, masyarakat, dan lingkungan,” ujar Muharram dalam keterangannya, Rabu (28/8/2026).
Sejumlah anak perusahaan PHI telah melakukan pemadaman di beberapa lokasi. Pada Kamis (20/8/2026), Tim Emergency Intervention Team (EIT) South Processing Station (SPS) PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama Pemadam Kebakaran Samboja memadamkan titik api yang berada sekitar 100 meter di sebelah barat fasilitas operasi Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam.
Penanganan juga dilakukan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) bersama relawan dan Dinas Kehutanan pada Jumat (21/8/2026) di wilayah Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, sekitar area migas Nilam Field. Tim menggunakan fire truck advancer dan vacuum truck berkapasitas 15.000–24.000 liter air untuk mengendalikan rambatan api.
Sementara itu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu bersama Tim Damkar Kalimantan Utara melakukan pemadaman titik api di Jalan Lingkar Bunyu, Kalimantan Utara, sekitar 14,1 kilometer dari area operasi perusahaan.
Selain pemadaman, PHI memperkuat langkah pencegahan melalui pelibatan masyarakat. Tim Community Based Security PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melakukan sosialisasi mengenai bahaya karhutla di Kelurahan Lawe-Lawe pada 19–23 Agustus 2026. Lokasi tersebut berjarak sekitar sembilan kilometer dari Terminal Lawe-Lawe.
Langkah serupa dilakukan PEP Tarakan melalui sosialisasi bahaya karhutla kepada relawan penanganan bencana bersama BPBD Provinsi Kalimantan Utara dan BPBD Kota Tarakan di Kecamatan Tarakan Timur. Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi karhutla.
Manager Communication Relations & CID PHI Dony Indrawan mengatakan tantangan penanganan karhutla tidak hanya terletak pada pemadaman, tetapi juga mencegah api kembali meluas. Menurut dia, suhu siang hari yang mencapai 34–36 derajat Celsius meningkatkan risiko kekeringan vegetasi dan rambatan api, terutama di kawasan gambut.
“Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pembasahan dan pendinginan belum tuntas,” kata Dony.
Karena itu, PHI terus berkoordinasi dengan pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat dalam penanganan karhutla. Dony menilai kolaborasi tersebut penting untuk memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan.
PHI menyatakan penguatan penanganan karhutla juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan. Perusahaan menilai kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan untuk mendukung keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi serta ketersediaan energi nasional. ***



