Pertamina NRE Akselerasi 9 Proyek Karbon Hutan Usai Penandatanganan MRA KLH-Gold Standard

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE) menyatakan kesiapan untuk mengakselerasi sembilan proyek karbon berbasis kehutanan dan alam (natural-based solutions) menyusul penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) antara Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Gold Standard Foundation.

“Kita sudah ada sembilan lokasi. Harapannya dengan sekarang dibuka seperti ini, ini semua bisa jalan,” ujar CEO Pertamina NRE John Anis, usai menghadiri acara penandatanganan, Kamis (8/5/2025).

Dia menjelaskan, Pertamina NRE menjalin kerja sama dengan Perhutani-Inhutani dan Otoritas Ibu Kota Negara Nusantara (OIKN) untuk menggarap sembilan proyek karbon kehutanan di Kalimantan. Lima lokasi proyek berada di Kalimantan Utara dan sisanya ada di Kalimantan Timur.

Read also:  Penjelasan POJK 10 Tahun 2026 Tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon, Link Download

Baca juga: Tak Perlu Otorisasi, Menteri LH Jelaskan Tata Cara Perdagangan Karbon Sukarela Pasca MRA dengan Gold Standard

Studi kelayakan untuk tiga lokasi di Kalimantan Utara dan satu lokasi di Kalimantan Timur telah selesai dilaksanakan.

John mengatakan Pertamina NRE membuka peluang memperluas kerja sama ke mitra lainnya jika seluruh proyek yang saat ini sedang digarap akhirnya bisa berjalan. “Kalau misalkan ini jalan, pasti kita tambah,” ujarnya.

John menjelaskan dengan adanya MRA KLH-Gold Standard, proyek-proyek karbon dari Indonesia — termasuk milik Pertamina NRE — kini memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar global yang menginginkan kredit karbon berstandar tinggi dan berbasis pengurangan emisi yang terverifikasi.

Read also:  KKP Siapkan Aturan Perdagangan Karbon Sektor Kelautan dan Perikanan, Begini Bocorannya

Baca juga: Survei BCM Insights: Publik Sadari Pentingnya Perdagangan Karbon, Mekanisme dan Regulasi Jadi Tantangan

John menggarisbawahi pentingnya keberadaan mekanisme yang kredibel untuk memicu aliran pendanaan ke konservasi alam. “Preservasi alam itu memerlukan pendanaan. Nah pendanaan ini bisa didapatkan dari carbon market. Jadi artinya kita mendapatkan benefit yang luar biasa,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa dalam jangka panjang, membuka akses ke pasar karbon global akan membuat proyek-proyek berbasis alam lebih layak secara ekonomi. “Kalau hanya mengandalkan voluntary market dengan harga yang ada di domestik, itu susah, berat,” ujar John. “Kalau kita bisa di-recognize dengan export market yang juga compliance, itu akan membantu sehingga ini proyek bisa jalan.”

Read also:  OJK Ajak Industri Bergabung di Bursa Karbon, Buka Peluang Tingkatkan Daya Saing Global

Baca juga: Sudah Buat Studi Kelayakan di Dua Lokasi, Perhutani Siap Masuki Bisnis Perdagangan Karbon

John memandang MRA KLH-Gold Standard bukan hanya membuka pasar, tapi juga memperkuat reputasi Indonesia dalam perdagangan karbon global. 

“Manfaatnya untuk konservasi alam bagus, untuk masyarakat bagus, untuk pemerintah juga bagus. Kemudian untuk penurunan emisi, mendapatkan revenue, dan juga reputasi kita sebagai pionir dan leader di pasar,” pungkasnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Masuk Pasar Karbon Skema Jurisdictional REDD, Riau Tunggu Persetujuan Menteri Keuangan

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau tinggal selangkah lagi memasuki pasar karbon internasional melalui skema Jurisdictional REDD+. Saat ini, pemerintah daerah menunggu penerbitan Letter of...

Kemenhut Buka Peluang Investasi Baru Skema Carbon Removal di 2,4 Juta Hektare Hutan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membuka peluang investasi perdagangan karbon di sekitar 2,4 juta hektare kawasan hutan lindung dan hutan produksi sebagai bagian dari...

Asuransi Karbon Disiapkan, OJK Dorong Pembiayaan Berkelanjutan bagi Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan berbagai instrumen pembiayaan untuk memperkuat ekosistem perdagangan karbon nasional. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah asuransi karbon...

KKP Siapkan Aturan Perdagangan Karbon Sektor Kelautan dan Perikanan, Begini Bocorannya

Ecobiz.asia - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pengelolaan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Sektor Kelautan dan Perikanan...

Rancangan Peraturan Tentang Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Libatkan Petani dalam Proyek Offset

Ecobiz.asia — Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menyiapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian sebagai...

TOP STORIES

Masuk Pasar Karbon Skema Jurisdictional REDD, Riau Tunggu Persetujuan Menteri Keuangan

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau tinggal selangkah lagi memasuki pasar karbon internasional melalui skema Jurisdictional REDD+. Saat ini, pemerintah daerah menunggu penerbitan Letter of...

Türkiye, Ghana and Luxembourg Join The Coalition to Grow Carbon Markets

Ecobiz.asia – Türkiye, Ghana and Luxembourg have joined the Coalition to Grow Carbon Markets, bringing the number of participating governments to 14 and signaling...

Pertamina Exceeds First-Half 2026 Decarbonization Target by 118%

Ecobiz.asia - Indonesia's state-owned energy company PT Pertamina (Persero) exceeded its first-half 2026 decarbonization target by 118%, driven by emissions reduction initiatives across its...

OJK Develops Carbon Insurance to Unlock Financing for Indonesia’s Carbon Projects

Ecobiz.asia – Indonesia's Financial Services Authority (OJK) is developing carbon insurance and other sustainable finance instruments to strengthen the country's carbon market ecosystem and...

Pertamina Lampaui Target Dekarbonisasi, Emisi Karbon Turun 118% di Atas RKAP

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) melampaui target program dekarbonisasi yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Sepanjang semester I 2026, Pertamina...