Pembatasan Wisatawan Taman Nasional Komodo, Wamenhut: Kuota Adaptif, Tidak Statis

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan kebijakan pembatasan wisatawan di Taman Nasional Komodo bersifat adaptif dan tidak statis, menyesuaikan dengan daya dukung lingkungan serta pengembangan sarana prasarana di kawasan.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengatakan kuota kunjungan saat ini ditetapkan sebesar 365.000 orang per tahun, namun angka tersebut akan dievaluasi secara berkala berdasarkan kajian ilmiah dan kondisi lapangan.

“Kami sepakat bahwa pembatasan diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekologis. Namun kuota ini tidak statis, melainkan akan terus dikaji dan disesuaikan,” ujar Rohmat dalam diskusi kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (24/4/2026).

Read also:  Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Menurutnya, peningkatan kuota dimungkinkan seiring perbaikan fasilitas di kawasan, termasuk pengaturan jalur trekking dan pembangunan dermaga di Pulau Padar. Kemenhut juga menyiapkan strategi pemerataan kunjungan agar tidak terjadi penumpukan wisatawan di titik tertentu.

Selain itu, pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha pariwisata untuk merumuskan kuota ideal berbasis data. Pengembangan destinasi alternatif di luar kawasan taman nasional, seperti di daratan Flores, Pulau Longos, dan Golomori, juga didorong untuk mengurangi tekanan terhadap habitat alami komodo.

Read also:  Perkuat Pencegahan Karhutla Prabowo Bentuk Badan Pengelola Gambut, Seperti BRGM?

Kemenhut memastikan tim teknis dari Balai Taman Nasional Komodo dan Direktorat Jenderal KSDAE akan memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha, termasuk penyempurnaan sistem layanan dan transparansi pengelolaan, serta optimalisasi sistem pemesanan tiket untuk memberikan kepastian bagi industri pariwisata.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto yang hadir pada kesempatan tersebut mendukung kebijakan pembatasan tersebut sebagai langkah menjaga keberlanjutan kawasan. Namun, ia menekankan pentingnya transisi yang bertahap dan pelibatan masyarakat lokal.

Read also:  Beralih dari Energi Fosil, Hashim Ungkap Strategi Indonesia Kembangkan PLTS, Nuklir hingga Biofuel

“Pembatasan ini adalah investasi jangka panjang untuk menjaga ekosistem dan keberlanjutan ekonomi pariwisata. Tapi implementasinya harus memperhatikan dampak sosial,” ujarnya.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah pusat dalam menata pariwisata secara berkelanjutan. Ia menilai kolaborasi lintas sektor penting untuk menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan di Labuan Bajo.

***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Kepatuhan Produsen Rendah, KLH Rancang Ulang Permen Peta Jalan Pengelolaan Sampah

Ecobiz.asia — Rendahnya kepatuhan produsen dalam menjalankan tanggung jawab pengurangan sampah mendorong Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) merancang ulang regulasi tentang pengurangan...

Satgas PKH Kuasai Kembali 6,21 Juta Hektare Kawasan Hutan Jadi Sawit, 14.633,79 Hektare Jadi Tambang

Ecobiz.asia — Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menguasai kembali kawasan hutan seluas 6.206.212,14 hektare pada sektor perkebunan sawit dan 14.633,79 hektare...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...