Pasar Karbon Indonesia Mulai Bergerak, Survei Petromindo Catat Ruang Perbaikan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pasar karbon Indonesia mulai menunjukkan geliat awal, meski pelaku pasar menilai penguatan transparansi, kepastian aturan, dan insentif ekonomi masih dibutuhkan agar pasar dapat tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan.

Kesimpulan tersebut disampaikan Peneliti Petromindo Survey, Muna Suhailah, saat memaparkan hasil “Survey on the 2025 Review of the Indonesian Carbon Sector”, yang dilakukan pada 10 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.

Survei daring ini menjaring pandangan dari para profesional dari berbagai sektor yang berkaitan dengan perdagangan karbon, termasuk energi dan pertambangan, kehutanan, perkebunan, serta akademisi dan pakar lingkungan.

Petromindo Survey researcher Muna Suhaila

Pemerintah Indonesia menjadikan perdagangan karbon sebagai salah satu instrumen utama untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca. Kerangka kebijakan tersebut didukung sejumlah regulasi, termasuk Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan nilai ekonomi karbon, yang bertujuan membangun pasar karbon domestik yang kredibel dan transparan.

Read also:  Pertamina NRE Gandeng GCL Tiongkok Kembangkan Proyek Energi Bersih di Indonesia

Namun, hasil survei menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih berada pada tahap awal. Responden memberi nilai rata-rata 2,78 dari skala 5 terhadap efektivitas mekanisme perdagangan karbon saat ini, mencerminkan bahwa sistem telah berjalan, tetapi belum sepenuhnya optimal.

Isu transparansi dan keandalan data menjadi perhatian utama. Akurasi perhitungan emisi mendapat skor rata-rata 2,88, sementara 71,8 persen responden menilai sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV) masih perlu diperkuat agar klaim penurunan emisi lebih dapat dipercaya.

Meski begitu, survei juga mencatat adanya potensi manfaat yang mulai dirasakan. Sejumlah responden menyebut perdagangan karbon mendorong peningkatan efisiensi energi dan emisi, serta membantu kesiapan perusahaan menuju target net-zero. Sekitar 15 persen responden, bagaimanapun, mengaku belum melihat dampak nyata dari penerapan mekanisme tersebut.

Read also:  Pertamina EP Adera Field Temukan Sumur Minyak Baru dengan Potensi 3.442 BOPD

Dari sisi kebijakan, tingkat pemahaman pelaku pasar terhadap Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 masih terbatas. Hanya sekitar seperempat responden yang menyatakan memahami regulasi tersebut dengan baik. Meski demikian, responden yang memahami aturan itu umumnya menilai kebijakan tersebut cukup mendukung pengembangan pasar karbon, dengan skor rata-rata 3,15.

Responden juga menilai regulasi perdagangan karbon yang diterapkan melalui Bursa Efek Indonesia belum memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan bisnis karbon hingga saat ini, terutama karena masih terbatasnya kepastian hukum dan panduan teknis di tingkat operasional.

Read also:  Pertamina NRE Tuntaskan Akuisisi 20 Persen Saham Perusahaan EBT Unggulan Filipina

Dukungan pemerintah menjadi catatan lain dalam survei ini. Sebanyak 57,3 persen responden menilai dukungan berupa panduan, sosialisasi, pelatihan, dan insentif masih belum memadai untuk mendorong partisipasi yang lebih luas.

Menurut Petromindo Survey, peningkatan transparansi pasar serta penyederhanaan prosedur birokrasi menjadi langkah paling mendesak untuk memperkuat kepercayaan dan mempercepat pertumbuhan pasar karbon nasional.

Secara keseluruhan, survei ini menempatkan pasar karbon Indonesia pada fase transisi. Dengan fondasi kebijakan yang mulai terbentuk, pelaku pasar melihat peluang untuk mendorong skala pasar yang lebih besar, asalkan implementasi kebijakan, kredibilitas MRV, dan insentif ekonomi dapat diperkuat secara konsisten.

Untuk mendapat informasi detil tentang temuan kunci dan hasil survei, silakan hubungi Petromindo Survey. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pertamina NRE Tuntaskan Akuisisi 20 Persen Saham Perusahaan EBT Unggulan Filipina

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menuntaskan akuisisi 20 persen saham perusahaan energi baru dan terbarukan (EBT) terkemuka di Filipina,...

Penjualan Listrik Hijau PLN Meroket 19,65 Persen, Capai 6,43 TWh pada 2025

Ecobiz.asia — Minat sektor industri dan bisnis terhadap energi bersih terus meningkat. Sepanjang 2025, PT PLN (Persero) mencatat penjualan Renewable Energy Certificate (REC) mencapai...

Pasok Energi Bersih ke Sektor Kesehatan, PGN Optimalkan Penyaluran Gas Bumi ke RSUP Dr. Sardjito

Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, mengoptimalkan penyaluran gas bumi ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Yogyakarta,...

PLN Siapkan Nuklir, CCS, hingga Hidrogen untuk Percepat Transisi Energi

Ecobiz.asia - PT PLN (Persero) menyiapkan beragam strategi dan teknologi untuk mengakselerasi pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), termasuk pembangkit listrik tenaga...

ESG Rating 2025, Kilang Pertamina Internasional Raih Predikat Best in Class

Ecobiz.asia — PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) meraih predikat Best in Class dalam penilaian ESG Rating 2025 yang dilakukan lembaga pemeringkat global MSCI, seiring...

TOP STORIES

ASEAN Smart Energy & Energy Storage Expo 2026

Ecobiz.asia - Supported by the Ministry of Energy of Thailand, the Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT), and the Thailand Convention and Exhibition Bureau...

Indonesia to Unveil Transport Decarbonisation Roadmap by May 2026

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing a national roadmap to decarbonise its transport sector as part of efforts to cut carbon emissions and meet its...

PLTU Captive Melonjak ke 19,3 GW, CREA: Risiko Emisi dan Beban Ekonomi Kian Membesar

Ecobiz.asia — Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di Indonesia terus melesat dan mencapai kapasitas 19,3 gigawatt (GW) pada 2025, memicu kekhawatiran meningkatnya...

Pemerintah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi, Target Terbit Mei 2026

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menyusun peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon nasional dan memenuhi target net zero emission...

Sumatra Mulai Memanas, Kemenhut Kerahkan Manggala Agni Padamkan Karhutla

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menurunkan pasukan Manggala Agni untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatra seiring meningkatnya titik...