KLH Bentuk Satgas Implementasi Pasca-MRA untuk Perkuat Pasar Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah membentuk satuan tugas (task force) independen untuk mengawal implementasi skema perdagangan karbon setelah ditandatanganinya sejumlah Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan lembaga internasional. 

Pembentukan task force ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa proses pasca-MRA berjalan efektif dan kredibel di tengah dinamika pasar karbon global.

Direktur Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH, Wahyu Marjaka, menjelaskan bahwa MRA bukanlah akhir dari proses, melainkan titik awal dari tahapan panjang yang membutuhkan pengawalan serius. 

Read also:  Pasca Permenhut 6/2026, Kemenhut Bidik Penjualan Karbon Stok Kaltim dan Pipeline Proyek

Baca juga: PwC Beberkan Rekomendasi Rencana Aksi untuk Gairahkan Pasar Karbon Indonesia

“Kami sedang menyusun terms of reference agar task force ini bersifat independen, profesional, dan berintegritas tinggi. Nantinya mereka akan mengawal setiap proyek karbon yang masuk ke dalam skema MRA,” ujar Wahyu dalam diskusi bertajuk Unlocking Potential: Progress After MRA in Indonesia Carbon Market Ecosystem di Jakarta, Kamis (22/5/2025).

Read also:  Kemenhut Sosialisasikan Permenhut 6/2026, Aturan Perdagangan Karbon Libatkan Masyarakat Secara Langsung

Menurutnya, langkah ini penting untuk menjamin integritas pasar karbon nasional, sekaligus menjawab kebutuhan pengawasan terhadap proyek-proyek karbon yang makin kompleks. 

Task force akan menyusun standar operasional dan memantau kelayakan setiap proyek, agar tidak terjadi stagnasi di titik-titik tertentu dalam rantai perdagangan karbon.

Baca juga: Jepang Dorong Standarisasi Karbon Biru ASEAN, Soroti Inisiatif Indonesia

KLH telah menjalin MRA dengan Gold Standard pada 8 Mei 2025 lalu. Saat ini KLH tengah menyelesaikan proses serupa dengan Verra dan beberapa lembaga internasional lainnya. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga telah menandatangani MRA bilateral dengan Jepang.

Read also:  Indonesia Siapkan Implementasi Nesting Karbon Kehutanan, Riau Jadi Percontohan

Wahyu mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan pasar karbon baik dari sisi volume perdagangan maupun respons pasar. Dia optimis bahwa upaya pembenahan regulasi, penguatan infrastruktur, dan peningkatan kapasitas akan menciptakan ekosistem karbon yang lebih siap menghadapi permintaan global. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pasca Permenhut 6/2026, Kemenhut Bidik Penjualan Karbon Stok Kaltim dan Pipeline Proyek

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membidik penjualan kredit karbon dari stok penurunan emisi di Kalimantan Timur serta sejumlah pipeline project kehutanan, menyusul terbitnya Permenhut...

Kemenhut Sosialisasikan Permenhut 6/2026, Aturan Perdagangan Karbon Libatkan Masyarakat Secara Langsung

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mensosialisasikan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan di Gedung Manggala...

OJK Revisi Aturan Perdagangan Karbon, Target Rampung Juni 2026

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan revisi regulasi perdagangan karbon sekaligus mengembangkan sistem registri pendukung guna memperkuat kerangka pasar karbon nasional. Ketua Dewan...

Indonesia Siapkan Implementasi Nesting Karbon Kehutanan, Riau Jadi Percontohan

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menyiapkan operasionalisasi kerangka kerja nesting karbon kehutanan guna mendorong transaksi berintegritas tinggi dan menarik investasi global. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari...

Pertamina NRE Sediakan Kredit Karbon, Dukung Kampanye IDXCarbon “Aku Net-Zero Hero”

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyediakan kredit karbon untuk mendukung kampanye “Aku Net-Zero Hero” yang diluncurkan bersama IDXCarbon, PT...

TOP STORIES

Asia Pacific Ports Advance Cross-Sector Hydrogen and E-Fuel Development

Ecobiz.asia — Ports across the Asia Pacific are accelerating efforts to develop hydrogen and e-fuel ecosystems through cross-sector collaboration, positioning the region as a...

Two Sumatran Elephants Found Dead in Bengkulu, Investigation Underway

Ecobiz.asia — Two Sumatran elephants have been found dead in Mukomuko Regency, Bengkulu Province, prompting an investigation by Indonesia’s Ministry of Forestry to determine...

Induk dan Anak Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Bengkulu, Kemenhut Lakukan Investigasi

Ecobiz.asia — Dua individu Gajah Sumatra ditemukan mati di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan kasus tersebut tengah dalam proses investigasi untuk...

Vale Perkuat Kinerja ESG 2025, Investasi Lingkungan Naik 54,3%

Ecobiz.asia — PT Vale Indonesia Tbk memperkuat kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) sepanjang 2025 dengan peningkatan signifikan investasi lingkungan...

PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya Gandeng Xurya Resmikan PLTS Atap Terbesar di Indonesia Berkapasitas 22,5 MW

Ecobiz.asia -- Kebutuhan energi yang besar dan berkelanjutan di sektor industri mendorong semakin banyak pelaku manufaktur mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke dalam...