Ketahanan Energi Rentan, Penasehat Khusus Prabowo Dorong Nuklir Jadi Solusi Masa Depan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi, Prof. Purnomo Yusgiantoro, mengingatkan bahwa ketahanan energi nasional berada dalam posisi rawan akibat tingginya ketergantungan Indonesia pada impor energi, terutama minyak dan LPG.

Purnomo mendorong pemerintah mempercepat transisi energi menuju kemandirian yang berkelanjutan.

“Contohnya di minyak, impor kita sekitar 1,5 juta sampai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi hanya 600 ribu. Ini membebani balance of trade dan menambah defisit,” kata dia dalam acara Indonesia Green Connect di Bandung, Kamis (7/8/2025).

Read also:  Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Menurutnya, ketahanan energi harus dipandang sebagai bagian integral dari ketahanan nasional, yang hanya dapat dicapai jika Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri.

Purnomo menyebutkan, ketergantungan pada impor LPG juga menjadi sumber tekanan besar terhadap APBN. Ia mengungkap, saat pemerintahan Presiden AS Donald Trump, impor LPG Indonesia bahkan sempat dijadikan bagian dari kesepakatan dagang bilateral.

Read also:  Resmi! Pemerintah Serahkan Dua Izin Panas Bumi, Siapkan Lima WKP dan Tujuh WPSE

“Subsidi kita terbesar itu salah satunya dari impor LPG,” tegasnya.

Menghadapi situasi ini, Purnomo mendorong pengembangan energi alternatif, termasuk energi nuklir, sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan dan pengendalian perubahan iklim.

“Insya Allah nanti tahun 2030-an, dalam rangka sustainable development dan climate change, kita akan memakai tenaga nuklir,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pengembangan energi nuklir tidak hanya strategis dari sisi dekarbonisasi, tetapi juga vital dalam konteks ketahanan dan kedaulatan energi. Namun demikian, transisi ini harus diiringi dengan penerimaan publik yang kuat serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Read also:  Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp, Sesumbar Rampung dalam Tiga Tahun

“Kalau kita bisa lakukan secara berkelanjutan, maka kita akan mandiri,” tandas Purnomo.

Ia juga menggarisbawahi perlunya perbaikan pada empat pilar ketahanan energi yaitu ketersediaan (availability), keterjangkauan (affordability), keterhubungan hulu-hilir (accessibility), dan penerimaan publik (public acceptance). ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp, Sesumbar Rampung dalam Tiga Tahun

Ecobiz.asia — Pemerintah resmi memulai program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) dengan nilai investasi sekitar US$73 miliar...

Revisi Aturan Pengelolaan Hutan, Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Penguatan KPH hingga Evaluasi Perizinan

Ecobiz.asia – Sebanyak 14 organisasi masyarakat sipil menyoroti sejumlah aspek tata kelola dalam revisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 Tahun 2021...

Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Terkait Kebekaran Hutan, Satu Izin Dibekukan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) setelah ditemukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)...

Prabowo Dorong ‘Ubi Bombing’ untuk Perkuat Pemadaman Karhutla

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan inovasi bahan pemadam kebakaran berbahan baku ubi atau singkong untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)....

Presiden Prabowo Pantau Langsung Penanganan Karhutla di Kalimantan, Perkuat Operasi Pemadaman

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto memantau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan di tengah kondisi cuaca yang sangat kering akibat fenomena...

TOP STORIES

Perusahaan Global Kejar Net Zero, Pasar Kredit Karbon Indonesia Terbuka Luas

Ecobiz.asia — Perubahan perilaku perusahaan global dalam mengejar target net zero berpotensi menjadi sumber baru permintaan kredit karbon, termasuk dari Indonesia. Wakil Ketua Indonesia Carbon...

Veritask: New Framework for Carbon Trading in the Waste Sector

On 12 August 2026, the Minister of Environment/Head of the Environmental Control Agency of the Republic of Indonesia enacted Regulation of the Minister of...

Gold Standard, Verra Launch Tool for Article 6.2 Reporting

Ecobiz.asia – Gold Standard and Verra have launched a new tool to help countries report corresponding adjustments (CAs) for carbon credits authorized under Article...

Prabowo Launches 100 GW Solar Program, Sets Three-Year Deadline

Ecobiz.asia — Indonesia has launched a national program to develop 100 gigawatts peak (GWp) of solar power capacity, with an estimated investment of about...

Prabowo Mulai Program PLTS 100 GWp, Sesumbar Rampung dalam Tiga Tahun

Ecobiz.asia — Pemerintah resmi memulai program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) dengan nilai investasi sekitar US$73 miliar...