Ecobiz.asia – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjajaki kerja sama strategis dengan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) untuk mempercepat pemanfaatan sampah dan limbah sebagai sumber energi.
Kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung target pengolahan 10 juta ton sampah menjadi energi pada 2030 sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat mengatakan pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari strategi pengembangan energi dan ekonomi sirkular.
“Kita tidak bisa lagi memandang sampah sebagai masalah semata, melainkan sebagai sumber daya energi yang bernilai tinggi,” ujar Jumhur dalam keterangan resmi, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, pemanfaatan sampah sebagai energi sejalan dengan amanat konstitusi untuk menghadirkan lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi masyarakat, sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan kemandirian energi.
Direktur PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan Indonesia memiliki potensi limbah yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi sumber energi. Secara nasional, produksi limbah dari sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, tingkat pemanfaatannya sebagai sumber energi masih sangat rendah.
“Namun ironisnya, tingkat utilisasi limbah tersebut untuk energi baru mencapai 4 persen,” kata Hokkop.
Ia menilai peningkatan pemanfaatan limbah domestik dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan.
Dalam skema yang tengah dijajaki, PLN EPI akan berperan sebagai offtaker energi hasil pengolahan sampah dan limbah sehingga dapat memberikan kepastian pasar bagi pengembang proyek dan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai pasok energi berbasis limbah.
Kolaborasi tersebut juga menjadi semakin penting seiring rencana penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang selama ini menerima sekitar 9.000 ton sampah per hari dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.
KLH dan PLN EPI menilai pengelolaan sampah harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya melalui penguatan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) serta penerapan berbagai teknologi pengolahan seperti waste-to-syngas, biochar, dan pemanfaatan gas metana dari tempat pembuangan akhir.
Selain mengurangi beban lingkungan, program tersebut diproyeksikan mampu menciptakan dampak ekonomi yang signifikan. Pemerintah menargetkan pemanfaatan 10 juta ton sampah pada 2030 dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp11 triliun, membuka sekitar 150.000 lapangan kerja hijau, serta menurunkan emisi hingga 12 juta ton setara karbon.
PLN EPI mencatat pengembangan ekosistem biomassa dan energi berbasis limbah saat ini telah melibatkan lebih dari 150 perusahaan daerah, UMKM, koperasi, dan BUMDes dengan kapasitas penyerapan sekitar 2,5 juta ton limbah.
Untuk mendukung realisasi program tersebut, KLH dan PLN juga tengah membentuk tim kerja bersama guna menyusun regulasi dan skema bisnis yang memberikan kepastian bagi investor maupun pelaku industri. ***



