ADM Capital Buka Peluang Pembiayaan Karbon di Riau, Integritas Proyek Jadi Kunci

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pengelola investasi ADM Capital menjajaki peluang pembiayaan proyek karbon di Riau setelah mulai menilai sejumlah proyek di pasar karbon sukarela di Kalimantan.

Investment Associate sekaligus Impact and Blended Finance Specialist ADM Capital, Bangkit Oetomo, mengatakan peluang pembiayaan di Riau terbuka melalui pendekatan investasi yang menggabungkan modal usaha dan pendampingan teknis. Meski demikian, dana yang dikelola ADM Capital tidak secara khusus dibentuk untuk investasi karbon.

“Kebetulan sekarang masih ada beberapa proyek yang sedang kita assess di Kalimantan. Menurut saya, ada opportunity untuk masuk ke Riau ke depannya,” kata Bangkit dalam webinar GREEN Connect #4 yang diselenggarakan GREEN for Riau, Selasa (27/10/2026).

GREEN for Riau merupakan inisiatif yang diluncurkan pada Mei 2025 dengan dukungan Program UN-REDD dan pendanaan Pemerintah Inggris. Program ini mendorong pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan melalui pendekatan yurisdiksi, yakni pengelolaan program dalam satu wilayah pemerintahan (JREDD+).

Read also:  Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Bangkit menjelaskan, pendekatan pembiayaan tersebut dijalankan melalui Asia Climate-smart Landscapes Fund (ACLF), yang diluncurkan pada 2023. Saat ini, tersedia pendanaan senilai sekitar US$48 juta dan berfokus pada pembiayaan usaha di sektor pertanian, agroforestri, kehutanan, serta perikanan budidaya.

ACLF menyasar usaha kecil dan menengah, terutama perusahaan pengolahan komoditas yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha, tetapi menghadapi keterbatasan akses ke pembiayaan perbankan.

Menurut Bangkit, proyek karbon yang berpotensi memperoleh pembiayaan harus melalui penilaian mendalam, terutama terkait integritas lingkungan dan dampak yang dihasilkan. Kelayakan komersial juga menjadi pertimbangan dalam keputusan investasi.

Read also:  Negara-Negara Asia-Pasifik Perkuat Kolaborasi untuk Tata Kelola Hutan dan Implementasi REDD+

“Jadi setiap proyek yang kita biayai harus mendemonstrasikan dampak,” ujarnya.

Pendampingan

ACLF menggunakan skema private credit, yakni pembiayaan pinjaman yang disalurkan oleh pengelola investasi di luar jalur perbankan. Skema ini dipadukan dengan hibah bantuan teknis melalui pendekatan blended finance atau pembiayaan campuran.

Pinjaman digunakan untuk mendukung kebutuhan usaha, sedangkan bantuan teknis membantu perusahaan memperbaiki praktik keberlanjutan, meningkatkan kapasitas, dan memenuhi standar lingkungan serta sosial.

Dana tersebut juga memperoleh dukungan jaminan dari U.S. International Development Finance Corporation (DFC), lembaga pembiayaan pembangunan Amerika Serikat. Jaminan tersebut membantu mengurangi sebagian risiko pembiayaan dan menarik modal swasta ke proyek yang membutuhkan dukungan pendanaan.

Read also:  Perkuat Tata Kelola Bursa Karbon, OJK Kedepankan Integritas Pasar dan Perlindungan Konsumen

Bangkit mengatakan, perusahaan penerima investasi perlu menunjukkan manfaat lingkungan dan sosial yang terukur. Pendampingan dapat mencakup penilaian keanekaragaman hayati, pengukuran kondisi awal proyek, serta kajian potensi penghindaran emisi dan penyerapan karbon.

Pendampingan juga mencakup praktik pertanian berkelanjutan, penghidupan masyarakat, aspek gender, dan ketertelusuran bahan baku. Perusahaan didorong menghubungkan kegiatan usaha dengan petani dan koperasi untuk memperkuat rantai pasok serta mencegah deforestasi.

Bangkit mencontohkan pembiayaan kepada sebuah perusahaan di sektor kelapa untuk modal kerja dan pembangunan pabrik, yang disertai pengembangan program kemitraan dengan kelompok petani melalui koperasi.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu perusahaan menjaga pasokan dan transparansi sekaligus mendukung petani memperbaiki praktik produksi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Calon Pembeli Internasional Menunggu, Riau Minta Percepatan Registrasi Program Karbon ART-TREES

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau meminta pemerintah pusat mempercepat registrasi program karbon hutan GREEN for Riau melalui standar Architecture for REDD+ Transactions–The REDD+ Environmental...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

TOP STORIES

Calon Pembeli Internasional Menunggu, Riau Minta Percepatan Registrasi Program Karbon ART-TREES

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau meminta pemerintah pusat mempercepat registrasi program karbon hutan GREEN for Riau melalui standar Architecture for REDD+ Transactions–The REDD+ Environmental...

Selandia Baru Lanjutkan Program Energi Terbarukan di Maluku, Target Kurangi Ketergantungan Bahan Bakar Fosil

Ecobiz.asia – Program pengembangan energi terbarukan di Provinsi Maluku memasuki fase kedua melalui kemitraan Pemerintah Selandia Baru dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral...

Kabar Melegakan! Hotspot Terus Turun Jadi 93 Titik, Kemenhut Pastikan Tetap Siaga Kendalikan Karhutla

Ecobiz.asia — Penurunan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia menjadi 93 titik pada Senin (26/10/2026), dari 147 titik sehari sebelumnya,...

PLTS Terapung Karangkates Capai 70% Konstruksi, Bidik Produksi Listrik Perdana Desember

Ecobiz.asia -- PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mencatat progres konstruksi infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates di Kabupaten Malang, Jawa Timur,...

Beyond the Haze: Why the Singapore-Indonesia Value Chain Demands Real Mutual Accountability

By: Riza Suarga (Chairman Indonesia Carbon Trade Association/IDCTA)  Ecobiz.asia - Singapore’s haze situation has recently been linked by Prime Minister Lawrence Wong to forest and...