Jor-joran Tanam Investasi, China Bisa Jadi Mitra Strategis Transisi Energi Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Lonjakan investasi hijau dari China membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat ekonomi hijau. China kini menempati posisi sebagai investor terbesar sektor energi bersih di Asia Tenggara, dengan Indonesia menjadi penerima utama dalam satu dekade terakhir.

Direktur Eksekutif SUSTAIN Indonesia, Tata Mustasya, menilai derasnya aliran investasi China dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau berskala besar.

“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menghubungkan agenda iklim Indonesia untuk dekarbonisasi dan mitigasi iklim dengan agenda ekonomi kita untuk menciptakan pekerjaan,” ujarnya dalam webinar “Leveraging China’s Green Momentum to Advance Indonesia’s Economic Development” yang diselenggarakan oleh SUSTAIN dan CERAH, Selasa (5/11/2025).

Read also:  Dorong Pemanfaatan Panas Bumi 23,2 GW, Pemerintah Minta Pemegang Konsesi Segera Realisasikan Proyek

Menurut data SUSTAIN, sepanjang 2013–2023, China menjadi investor terbesar energi hijau di kawasan, mengucurkan miliaran dolar ke proyek tenaga surya, kendaraan listrik, dan industri beremisi rendah.

Jika potensi tersebut dioptimalkan, Indonesia dapat menghasilkan 80 gigawatt (GW) listrik tenaga surya, menciptakan 112 ribu lapangan kerja, serta menurunkan 17 juta ton emisi CO₂.

Tata menilai ambisi Presiden Prabowo untuk mencapai 100 persen tenaga surya pada 2035 dengan tambahan kapasitas 100 GW membutuhkan percepatan pembangunan energi surya hingga 11 kali lipat dari laju saat ini.

Read also:  Karhutla di Sejumlah Wilayah, KLH Catat Penurunan Kualitas Udara

“Untuk mencapai target itu, kita butuh dukungan investasi asing, dan China memiliki teknologi serta kapasitas finansial untuk mempercepatnya,” kata Tata.

Selain energi, peluang kerja sama juga terbuka lebar di industri kendaraan listrik (EV). Ia mencontohkan perusahaan otomotif China BYD yang tengah membangun fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat.

“Kita bisa memiliki empat perusahaan sebesar BYD yang mampu menciptakan 70 ribu pekerjaan formal dan menumbuhkan ekonomi hingga empat persen,” ujarnya.

Read also:  Optimalkan Potensi Bioekonomi untuk Kelestarian Hutan, Kemenhut Dorong Penguatan KPH

Namun, Tata mengingatkan bahwa sebagian pembiayaan energi China masih mengalir ke proyek berbasis fosil. “Pada 2024, sektor energi China masih menyalurkan sekitar 44 persen pendanaan untuk proyek fosil,” katanya.

Ia menegaskan, agar kemitraan ini optimal, Indonesia harus memperkuat regulasi investasi hijau, menyiapkan insentif yang menarik, serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sektor energi bersih.

“Transisi energi harus menjadi asas pembangunan industri hijau dan memprioritaskan lokalisasi. Ini menantang, tapi harus dilakukan,” tegas Tata. *** (Putra Rama Febrian)

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Hotspot Kalbar Turun Tajam hingga 71%, Kemenhut Terus Perkuat Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia – Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam sehari, dari 134 menjadi 39 titik high confidence. Meski demikian,...

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...

Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah setelah pemantauan terbaru menunjukkan kedua provinsi...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Ecobiz.asia - – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali menjatuhkan sanksi administratif kepada lima perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat setelah ditemukan...

TOP STORIES

INALUM Raih Rating BBB- dari S&P, Perkuat Akses Pendanaan Hilirisasi

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Peringkat investment grade tersebut...

Karhutla Dekati Sumur ML-12, Pertamina EP Lirik Kerahkan Fire Brigade

Ecobiz.asia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pasir Sialang Jaya, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, mendekati fasilitas operasi Sumur ML-12 milik...

BRI Kucurkan Pembiayaan Sosial dan Lingkungan Rp842,1 Triliun, 58% dari Total Kredit

Ecobiz.asia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat portofolio pembiayaan yang terkait aspek sosial dan lingkungan mencapai Rp842,1 triliun hingga akhir triwulan...

Hotspot Kalbar Turun Tajam hingga 71%, Kemenhut Terus Perkuat Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia – Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam sehari, dari 134 menjadi 39 titik high confidence. Meski demikian,...

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...