Ecobiz.asia – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mendorong pengembangan industri nikel ke produk bernilai tambah lebih tinggi di tengah tekanan harga global dan kenaikan biaya produksi. Hilirisasi dinilai perlu berlanjut dari peleburan dan pemurnian menuju produk baja nirkarat, barang jadi, serta bahan baku dan komponen baterai kendaraan listrik.
Ketua Umum FINI Arief Perdana Kusumah mengatakan, tujuan hilirisasi adalah meningkatkan nilai tambah yang diperoleh di dalam negeri.
“Karena memang tujuan dari hilirisasi ini adalah untuk mendapatkan nilai tambah yang terjadi di dalam negeri,” kata Arief dalam diskusi panel utama Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Arief menyebut investasi hilirisasi nikel pada 2025 mencapai sekitar Rp185 triliun. Secara kumulatif, investasi sektor tersebut sepanjang 2020–2025 mencapai sekitar Rp690 triliun.
Sejumlah proyek pengolahan nikel masih dalam tahap pembangunan dengan nilai investasi sedikitnya US$20 miliar. Proyek-proyek tersebut diperkirakan selesai hingga akhir 2028.
FINI memperkirakan kapasitas terpasang pengolahan nikel Indonesia mencapai sekitar 3,5 juta ton kandungan nikel pada akhir 2027. Angka tersebut terdiri atas sekitar 2,5 juta ton dari jalur pirometalurgi dan maksimal 1 juta ton dari jalur hidrometalurgi.
Pirometalurgi merupakan pengolahan mineral menggunakan panas dan peleburan, sedangkan hidrometalurgi menggunakan proses kimia berbasis larutan untuk menghasilkan bahan baku baterai. Angka tersebut merupakan proyeksi kapasitas fasilitas pengolahan, bukan realisasi produksi.
Namun, peningkatan kapasitas industri berlangsung di tengah tekanan pasar. Arief mengatakan kelebihan pasokan global menekan harga jual nikel, sementara kenaikan biaya energi dan kesulitan memperoleh sulfur menambah beban produksi.
“Karena harga jual rendah sedangkan dari biaya produksinya mengalami kenaikan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, FINI memperkirakan nilai ekspor produk industri nikel pada 2026 mencapai sekitar US$40 miliar. Arief menilai pengembangan industri lanjutan diperlukan agar pertumbuhan kapasitas pengolahan diikuti peningkatan nilai tambah.
Ia juga menanggapi pembahasan mengenai kemungkinan moratorium pembangunan smelter penghasil produk setengah jadi. Menurutnya, pembahasan tersebut perlu dilihat bersama upaya pemerintah mendorong pengembangan industri lanjutan di dalam negeri.
Arief menggambarkan hilirisasi sebagai proses bertahap, dari penjualan bahan mentah menuju peleburan dan pemurnian, kemudian berkembang ke manufaktur dengan teknologi lebih tinggi.
Selain produk utama, FINI menyoroti peluang pemanfaatan skandium yang berpotensi terkandung dalam limonit, salah satu jenis bahan baku nikel.
“Kami melakukan kajian dan terutama di lapisan limonit memang kandungan skandiumnya mempunyai potensi yang cukup besar,” kata Arief.
Menurut dia, dalam proses pelindian atau pelarutan unsur mineral tertentu, skandium berpotensi ikut terlarut dan terbawa ke tailing atau material sisa pengolahan. Ia mendorong pemerintah dan pelaku usaha memperhatikan potensi tersebut, termasuk menyiapkan pengaturan untuk pengelolaan dan pemanfaatan tailing.
Arief juga menyoroti peran industri pengolahan nikel dalam mendorong pertumbuhan pusat ekonomi baru di Indonesia bagian timur. Kehadiran kawasan industri, menurut dia, turut menggerakkan pasar dan kegiatan usaha masyarakat sekitar. ***




