Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda. PT PLN (Persero) memperkirakan kebutuhan investasi sekitar Rp3.400 triliun untuk pengembangan pembangkit dan infrastruktur kelistrikan, tetapi realisasinya masih membutuhkan dukungan pendanaan dan kolaborasi.
Vice President Safeguard PLN Imam Muttaqien mengatakan, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menuntut pengembangan jaringan transmisi agar listrik dari wilayah yang kaya sumber daya energi dapat disalurkan ke pusat permintaan.
“Indonesia itu kepulauan. Jadi, sumber energinya di mana, yang butuhnya di mana. Maka kita harus mengatasi ini dengan transmisi,” kata Imam dalam webinar IATMI Energy Talks bertajuk “Indonesia’s Energy Transition: Integrating Policy, Power Sector Transformation & Environmental Sustainability Toward Net Zero Emissions” yang diselenggarakan IATMI SM TAU di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Imam, kebutuhan investasi sekitar Rp3.400 triliun mencakup pengembangan pembangkit, termasuk energi baru terbarukan (EBT) dan nuklir, serta infrastruktur transmisi. Namun, pendanaan yang tersedia belum mencukupi sehingga pembangunan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Ketersediaan transmisi juga penting untuk mendukung integrasi energi terbarukan ke sistem kelistrikan. Imam mencontohkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang produksinya bergantung pada sinar matahari sehingga tidak dapat diandalkan secara mandiri untuk memasok beban dasar listrik (base load).
Karena itu, pengembangan pembangkit energi terbarukan perlu disertai kesiapan infrastruktur dan pengelolaan sistem agar pasokan listrik tetap andal.
Di sisi lain, PLN menerapkan 16 pedoman pengelolaan lingkungan dan sosial dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan, terdiri atas 10 pedoman lingkungan dan enam pedoman sosial. Pedoman tersebut juga berlaku bagi pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP).
PLN turut mengembangkan berbagai inisiatif transisi energi, antara lain PLTS terapung, pemanfaatan biomassa melalui skema co-firing di 52 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), serta pengembangan hidrogen dan teknologi penangkapan serta penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).
Imam menyampaikan hal tersebut dalam forum yang membahas integrasi kebijakan, transformasi sektor ketenagalistrikan, dan keberlanjutan lingkungan untuk mencapai target emisi nol bersih. ***




