Dorong Hilirisasi, Menteri Bahlil Mau Setop Ekspor Timah

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah membuka peluang penghentian ekspor timah mentah sebagai bagian dari penguatan agenda hilirisasi nasional guna mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat basis industri dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, kebijakan hilirisasi telah terbukti menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang efektif dan inklusif.

Dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2/2026), Bahlil mencontohkan dampak signifikan larangan ekspor bijih nikel yang diterapkan sejak 2018–2019. Kebijakan tersebut mendorong lonjakan nilai ekspor nikel Indonesia hingga sepuluh kali lipat dalam lima tahun.

Read also:  KLH Siapkan Standar Pengelolaan E-Waste, Sektor Informal Jadi Tantangan

“Total ekspor nikel kita pada 2018–2019 hanya sekitar USD3,3 miliar. Setelah ekspor dilarang, pada 2024 nilainya melonjak menjadi USD34 miliar. Ini bukti bahwa hilirisasi menciptakan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memberi manfaat yang lebih merata,” ujar Bahlil.

Melanjutkan keberhasilan tersebut, pemerintah akan mengkaji penerapan kebijakan serupa pada komoditas lain. Salah satu yang tengah dipertimbangkan adalah timah, seiring komitmen pemerintah untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.

Read also:  Tak Lagi Fokus Kayu, Kemenhut Buka 5,67 Juta Hektare Hutan untuk Pangan, Energi dan Karbon

“Tahun lalu kita sudah melarang ekspor bauksit. Ke depan, beberapa komoditas lain akan kita kaji, termasuk timah. Tidak boleh lagi ekspor barang mentah. Silakan bangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” tegasnya.

Agenda hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun.

Proyek-proyek tersebut mencakup sektor strategis seperti bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga pembangunan kilang minyak, dan ditargetkan mulai berjalan tahun ini.

Read also:  Indonesia Sukses Swasembada Beras, Hashim Sebut Perluasan Sawah di Kawasan Hutan tak Lagi Diperlukan

Produk hasil hilirisasi diharapkan mampu menjadi substitusi impor sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional. Dalam konteks ini, Bahlil juga mendorong keterlibatan investor domestik, termasuk perbankan nasional, untuk berperan aktif dalam pembiayaan proyek-proyek strategis tersebut.

“Semua produk hilirisasi diarahkan untuk substitusi impor dengan captive market di dalam negeri. Ini peluang besar bagi perbankan untuk masuk membiayai. Jangan sampai pembiayaan hilirisasi justru didominasi pihak luar,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Ecobiz.asia — Biaya listrik hijau dan kemudahan perizinan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengakses energi terbarukan di Indonesia. Survei terhadap...

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

TOP STORIES

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

PLTA Batang Toru Mulai Penggenangan, Siapkan Tambahan Kapasitas 510 MW

Ecobiz.asia -- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai memasuki tahap penggenangan waduk...

Pertamina Dorong B50 untuk Kurangi Impor Solar dan Perkuat Ketahanan Energi

Ecobiz.asia -- PT Pertamina (Persero) mendorong diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk biodiesel B50, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan...

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...